Tumbuhlah Menjadi Macan, Dik

“Tidak perlu takut, Dik. Kamu tidak sendirian. Tetaplah tumbuh menjadi macan. Mesti di atas reruntuhan. Meski berkali-kali coba disingkirkan.”

Inilah Jakarta, Dik. Di kota ini, kandang macan pun diobrak-abrik. Alasannya nyaris sama. Pembangunan, penataan kota, blablabla. Yang dijanjikan pun serupa. Tempat yang lebih nyaman, kehidupan yang lebih baik, blablabla. Tapi kenyataannya, ya begitulah. Sering kali janji  sekadar janji.

Sama seperti rumah yang mungkin sudah kamu huni sejak lahir, kandang nyaman Macan Kemayoran dengan segala sejarah panjangnya harus dirobohkan. Bukan hanya sekali, kejadian sama dua kali terulang.

Semua masih ingat. Pagi itu, pertengahan 2006 silam, alat berat dan aparat berdatangan. Mengepung tembok tua yang tak mungkin lagi mampu menahan. Dengan satu dentuman, semua debu-debu sejarah berhamburan. Terkubur puing-puing kekejaman kota.

Kejadian serupa terulang Senin terakhir Agustus 2015. Rangka-rangka dan kursi-kursi rumah pengganti dipereteli. Rangka baja yang semula terlihat kokoh nyatanya juga tidak mampu membendung ambisi pembangunan.

Tapi macan tetaplah macan. Meski berkali disingkirkan. Bahkan pernah begitu sulit untuk nyaman di kota sendiri, Macan Kemayoran tetap berlari meski tertatih. Tetap tumbuh hingga memberi bukti menjadi yang terbaik di negeri ini dengan semua kesulitan yang pernah dialami.

Jadi, tidak perlu takut, Dik. Kamu tidak sendirian. Tetaplah tumbuh menjadi macan. Meski di atas reruntuhan. Meski berkali-kali coba disingkirkan. Agar suatu hari nanti kamu bisa menjaga barisan mereka yang mengalami hal serupa. Bukan berdiri di pihak lainnya.

Biarkan jeritan-jeritan ketakutan malam itu menjadi ajaran kemanusiaan yang terdengar hingga jauh. Biarkan darah-darah tertumpah menjadi saksi kita pernah sama-sama berusaha mempertahankan apa yang kita punya. Biarkan air mata yang berjatuhan mengalir. Menyuburkan benih-benih kebaikan.

Ingatkan, presiden kita bahkan juga korban penggusuran? Tiru langkahnya, Dik. Pastikan saat kamu bisa berkuasa, tidak ada lagi orang-orang merasakan kepedihan serupa. Tidak ada lagi mereka yang tidak nyenyak tidurnya dihantui setan-setan tanah. Tidak ada lagi mereka yang merasakan sakitnya digebuk di pelataran rumah.

***

Saya tidak sedang berbicara tentang siapa benar siapa salah. Tapi tentang jerit ketakutan. Tentang darah dan air mata. Tentang hal yang bila terus dibiarkan dapat dipastikan akan terus berulang.

Penggusuran bukan hanya tentang penghancuran bangunan fisik saja. Tapi juga tentang perampasan ingatan juga kenangan dari dalam kepala. Menggantikannya dengan kenangan singkat yang sering kali berhiaskan adegan-adegan tidak menyenangkan.

Sekarang, bila pemicu kenangan tentang Stadion Menteng datang, yang muncul mengikuti dapat dipastikan bukanlah lahirnya bintang-bintang semisal Soetjipto Soentoro, Anjas Asmara, hingga Bambang Pamungkas. Bukan juga kejayaan lima gelar juara 1964, 1973, 1975, 1979, dan 2001.

Semua menjadi sebatas ingatan yang butuh usaha lebih dipanggil jauh dari dalam kepala. Sedangkan kenangan-kenangan yang melekat kemudian adalah kenangan kekejaman kota, kekejaman penguasa yang mengaku cinta Persija. Bahkan untuk kita yang hadir pagi itu, kenangan bagaimana piala-piala juga barang bersejarah lain berserakan seolah tidak berharga, menjadi lebih lekat.

Mungkin saja, kenangan si adik kecil tentang Pancoran Buntu bukan lagi tentang sepakbola di gang sempit. Bukan lagi tentang gelak tawa berlarian di jalan tidak rata. Berganti dengan kekejaman yang harus dilihat di usia belia.

Bagaimana PAUD direbut, bagaimana gas air mata diarahkan ke posko Kesehatan penuh korban butuh pertolongan, bagaimana darah-darah tumpah usai bentrok dalam upanya mempertahankan apa yang mereka punya.

Begitu juga kenangan kurang lebih 2000 jiwa penghuni lahan 4,8 Hektar eks-Wisma Intirub. Kenangan lebih dari 20 tahun hidup dari mulai menguruk rawa hingga mendirikan lapak-lapak mencari nafkah, berganti kenangan tidak sampai satu tahun proses pengusiran, bulan-bulan intimidasi, hingga malam pengepungan.

Dan semoga saja, tatapan-tatapan mata garang, kemarahan, hingga jerit bocah-bocah yang kelak tumbuh sekuat macan, menjadi kenangan dan mimpi buruk mereka yang berdiri di barisan seberang. Satu hal yang mereka perlu tahu, hal-hal serupa bukan tidak mungkin akan terjadi di rumah mereka bila semua terus dibiarkan.

credit image : Ikshan Farid

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
184 views

Leave a Reply