Sudahlah, Lupakan Dulu Sepakbola

Sudah saatnya, atau bahkan mungkin sudah seharusnya, kita lupakan dulu sepakbola.

Bila fokus pembicaraan adalah carut-marut kompetisi, tentu sudah menjadi hal biasa. Menjadi hal tidak asing ketika janji lanjutan kompetisi November lalu pupus begitu saja. Bahkan ketika jadwal seolah sudah tertata begitu rapih. Bahkan ketika waktu yang dinanti hanya tinggal beberapa hari lagi.

Pun dengan janji-janji berikutnya. Menjadi mudah ditebak akhirnya. Karena semua carut-marut kompetisi memang sajian sehari-hari sepakbola negeri ini. Bertahun-tahun lamanya. Menjadi alasan seluruh publik sepakbola mencaci federasi sebagai pihak paling bertanggungjawab dengan semua yang terjadi.

Namun yang kali ini jelas berbeda. Keadaan tidak biasa sedang terjadi. Itu yang lebih dulu harus dipahami. Setidaknya satu juta orang terjangkiti virus berbahaya. Sekurangnya sudah tiga puluh ribu di antara kita kehilangan nyawa.

Dipercaya atau tidak, itu semua bukan hanya deretan angka. Mereka adalah ibu, bapak, kakak, adik, kekasih, yang jelas meninggalkan duka mendalam orang-orang tercinta.

Dipercaya atau tidak, virus yang begitu mengancam masih liar berkeliaran di antara kita. Belum dapat dikendalikan sepenuhnya meski telah dilakukan berbagai upaya. Virus seolah masih dengan mudah menular orang ke orang walaupun protokol Kesehatan terus digalakkan. Dan bukan tidak mungkin, sepakbola menjadi sumber penularan.

Sebagai suatu gelaran yang biasa melibatkan orang banyak, sepakbola dapat dengan mudah menghadirkan malapetaka. Bila berbicara kompetisi atau lanjutan liga, meski berbagai protokol telah disiapkan, siapa bisa jamin orang-orang yang biasa terlibat dapat menjalankan.

Lagi-lagi sepakbola bukan hanya 11 lawan 11 di lapangan. Atau kedua tim yang sedang melakukan pertandingan. Bila berbicara liga, ada banyak orang yang terlibat yang juga harus menjadi pertimbangan. Bagaimanapun juga, harus dipastikan semua dapat terjaga.

Bila mengatur semua klub peserta mungkin bisa lebih mudah dilakukan sebagai syarat keikut sertaan liga, mengatur banyak supporter di luar sana dengan segala dinamikanya tentu menjadi tantangan berbeda.

Selain itu sebagai olah raga dengan kontak fisik erat, sepakbola memang membutuhkan perhatian khusus. Bukan hanya kompetisi profesional yang membutuhkan protokol ketat untuk dapat berjalan, segala bentuk pertandingan sepakbola juga demikian. Fun football yang semula menyenangkan bukan tidak mungkin menghadirkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Terlebih dari beberapa momen terlihat semua begitu abai protokol kesehatan. Tidak ada jaga jarak, tidak ada masker, semua asik bercengkerama di sekitar lapangan seolah pandemi telah berlalu entah kemana.

Bila berbicara rindu, sudah dapat dipastikan semua rindu sepakbola. Namun akan menjadi tidak bijaksana bila rindu menjadi bentuk keegoisan. Rindu itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan duka mereka yang kehilangan ibu, bapak, kakak, adik, kekasih, juga orang-orang tercinta.

Terserah percaya atau tidak pandemi ini ada, yang perlu dan harus dilakukan adalah saling jaga saling menguatkan. Jaga jarak, pakai masker, cuci tangan sesering mungkin menjadi satu-satunya cara.

Di saat seperti ini, sepakbola dengan segala kemungkinan dapat memperburuk keadaan bukan lagi menjadi keutamaan. Sudahlah, lupakan dulu sepakbola.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
253 views

Leave a Reply