September Pernah Begitu Kelam

September tidak selalu hitam. Tapi September pernah begitu kelam.

Awan mendung menghampiri. 23 September 2018 petang, kabar duka datang. Lengkap dengan gambaran kekejaman onggokan manusia tanpa hati. Hanya dengan alasan perbedaan klub yang didukung, sesama manusia melakukan tindakan keji dan kejam kepada manusia lainnya.

Seorang pencinta sepakbola asal Jakarta meregang nyawa di Kota Kembang. Tujuan awal kedatangannya hanya ingin menyaksikan klub kebanggaan berlaga. Namun apa daya, rivalitas panas merenggut nyawanya. Ia dihabisi supporter tuan rumah. Ya, supporter tuan rumah. Tidak lebih dan tidak kurang. Bukan oknum yang sering kali dikambing hitamkan.

Caranya pun solah di luar akal manusia. Pemuda yang datang seorang diri, dikeroyok beramai-ramai. Dipukul, ditendang, diinjak-injak, bahkan diperlakukan dengan cara yang tidak pantas disebutkan. Bisa dikatakan, ini peristiwa kekerasan paling kelam di sepakbola Indonesia.

Usai tragedi itu sepakbola ikut mati. PSSI meliburkan liga selama dua pekan. Kemudian Imam Nahrawi yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, mengatakan penghentian liga sebagai bentuk penghormatan kepada korban, sekaligus bentuk bela sungkawa yang mendalam.

Kini dua tahun telah berlalu. Dukanya telah hilang, namanya kembali terlupakan, tetapi mungkin akan ada keluarga yang selamanya membenci sepakbola. Luka bisa terobati, tapi rasanya akan tetap sama.

Semua berharap nama Haringga adalah yang terakhir. Semua berharap tidak ada lagi ibu yang menangis padahal anaknya hanya ingin menyaksikan sepakbola. Hanya ingin mendukung dan memenuhi janji tidak akan membiarkan klub kebanggaannya berjuang sendirian namun tidak lagi pernah pulang ke rumah.

Mungkin, selama seorang ibu masih berat merestui anaknya menyaksikan langsung pertandingan, selama itu juga sepakbola belum sepenuhnya baik-baik saja. Dan nyatanya tragedi-tragedi memang masih saja terus terjadi. Kekerasan, pertikaian, bentrokan, hingga jatuhnya korban jiwa seolah masih sulit dijauhkan dari sepakbola.

Bahkan mereka yang terluka dan terenggut nyawanya, tidak hanya terjadi karena pertandingan, tapi juga karena perbedaan logat bahasa kedaerahan, atribut kesebelasan, hingga hanya karena kode nomor kendaraan.

Sejarah manusia memang sejarah peperangan. Sering kali gesekan kecil sudah mampu membuat konflik berkepanjangan. Perang saudara hingga pertumpahan darah bagai hal biasa. Seolah-olah tidak ada kesempatan untuk dunia ini benar-benar dalam keadaan damai walau sekejap saja. Bahkan agama, hal paling suci dan pada hakikatnya pembawa damai, bagi sebagian orang dapat dijadikan alasan untuk saling menyakiti.

Dari tahun ke tahun harapan keadaan sepakbola akan lebih baik selalu dilambungkan. Setiap jatuhnya korban, diharapkan akan jadi korban yang terakhir. Akar-akar masalah yang ada coba diurai. Kampanye damai terus didengungkan. Tindakan tegas yang diharap memberi efek jera juga telah dilakukan. Namun senasib dengan dunia ini, tampak belum ada kesempatan untuk benar-benar damai di sepakbola.

Foto: Media Persija 

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
209 views

Leave a Reply