Sepakbola Tanpa Penonton, Apakah Masih Disebut Sepakbola?

Oleh: Syarifah Nadia Allydrus (@nadiaallydrus),

Sejak Juni, liga-liga besar di Eropa sudah mengumumkan sepakbola akan kembali bergulir setelah dihentikan sementara karena serangan Covid-19. Tentu dengan aturan yang berbeda, dengan protokol kesehatan yang ketat dan pembatasan jumlah orang yang diperbolehkan berada di area stadion.

PSSI tersendiri telah mengumumkan Liga 1 akan kembali bergulir September mendatang dengan pemusatan pertandingan berada di Pulau Jawa. Banyak yang menyayangkan keputusan PSSI ini karena menilai angka Covid-19 di Indonesia, terlebih di Pulau Jawa, masih sangat tinggi dan penyebaran masih sangat mungkin terjadi.

Di berbagai sosial media banyak cuitan yang berbunyi “sepakbola belum kembali jika tidak dibolehkan ada penonton”. Benar juga, rindu sepakbola yang selama ini ramai di kalangan suporter bukan hanya rindu akan 2×45 menit pertandingan.

Rindu itu berbentuk teriakan lantang bernyanyi dan gemuruh hentakan kaki dalam menyemangati pemain. Karena bagi suporter, sepakbola bukan sekadar permain sebelas melawan sebelas dengan gawang sebagai tujuan. Sepakbola adalah semangat, sepakbola adalah harapan.

Lebih dari sekadar hiburan, sepakbola adalah “agama” dengan hadir ke stadion sebagai ritual peribadatannya. Tribun bukan hanya sebatas tempat menyaksikan pertandingan, tapi tempat segala doa baik dirapalkan. Tempat dimana semua beban hidup sejenak bisa diluapkan. Bahkan tempat dimana banyak cerita di luar sepakbola bermula.

Semua itulah yang sejak beberapa bulan dirindukan.

Tetapi sepakbola sejatinya adalah mata pencaharian bagi pemain, staff, manajemen klub, dan bahkan ribuan orang lain yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Mereka bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga melalui sepakbola. Lalu bila sepakbola berhenti, bisa bayangkan bagaimana nasib mereka yang bergantung dari olahraga yang paling dinantikan di banyak negara ini?

Berbagai upaya telah dilakukan oleh klub untuk tetap mendapatkan pemasukan. Dari mulai penjualan jersey, kerja sama dengan berbagai e-commers serta meningkatkan engagement dengan “follower” di sosial media dan memanfaatkan adsense Youtube.

Lalu, apa jadinya jika sepakbola tanpa penonton? Apa jadinya tribun Gelora Bung Karno tanpa hentakan kaki para suporter? Apa artinya Persija Day tanpa nyanyian lantang yang menggema menakuti lawan?

Akan banyak muncul pertanyaan seperti itu bila nanti akhirnya liga kembali digelar dan tanpa ada penonton. Namun suka atau tidak, sepakbola tetaplah sepakbola ada atau tanpa suporter karena bagaimanapun suporter tetap dianggap “customer” dalam bisnis sepakbola.

Meski atmosfer stadion adalah dagangan utama, namun bukan satu-satunya. Dari mulai hak siar, sponsorship, hingga menggenjot penjualan merchandise bisa lebih mudah dilakukan bila liga kembali diputar.

Sudah seharusnya kita sebagai suporter memaklumi kondisi yang terjadi sekarang. Sepakbola harus tetap bergulir demi menghidupi mereka yang bergantung di dalamnya. Dengan segala prosedur yang telah ditetapkan tentunya. Demi perlindungan mereka yang terlibat pastinya.

Dari mulai kewajiban rapid test rutin seluruh anggota tim, penggunaan masker di lingkungan latihan dan pertandingan, pembatasan jumlah orang di sekitar stadion, hingga peniadaan wawancara langsung.

Untuk sejenak, mungkin kita akan menikmati sepakbola dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak langsung hadir berdampingan di stadion tapi melalui televisi atau streaming online resmi. Bukankah memang pasti tidak ada yang sama lagi selama pandemi yang entah berakhir kapan?

“Meski jarak waktu memisahkan, kudoakan selalu kunantikan selalu.”

Sepertinya lirik dari lagu Persija Menyatukan Kita Semua, ini adalah gambaran yang tepat. Dimanapun Persija berlaga, doa kita akan selalu menemani. Meski tak seperti biasanya, para pemain pasti mengerti ribuan dari kita menantikan setiap laga.

Percayalah, pandemi ini akan segera berakhir dan kita bisa kembali lagi memadati stadion dan mendukung kesayangan berlaga. Bersorak-sorai melepas rindu, menyanyikan puja dan puji, serta memberikan teror guna menciutkan nyali lawan.

Sampai jumpa lagi.

 

Foto milik Getty Images

Share post :
54 views

Leave a Reply