Sepakbola Itu (Tidak) Sederhana

Dik, sepakbola itu sederhana. Sederhana kala kita memainkannya di jalan depan rumah. Dengan bola apa saja, dengan gawang yang tinggi dan lebarnya sebatas kira-kira.

Dik, sepakbola itu sederhana. Sesederhana kala kita memainkannya di lapangan tanah merah. Dengan jumlah pemain tidak terbatas, asalkan sama rata. Jika ada yang ingin bergabung cukup cari pasangan untuk bermain dengan kubu seberang.

Tapi kamu juga harus mengerti, Dik. Bagi kami yang dewasa, sepakbola tidak lagi sesederhana itu. Tidak lagi sesederhana yang kita mainkan waktu bolos mengaji. Tidak lagi semenyenangkan permainan yang tetap bisa membuat kita tertawa meski kuku kita terlepas karena menendang bola tanpa alas kaki. Tidak lagi semenyenangkan permainan yang membuat kita lupa untuk pulang hingga azan berkumandang.

Bagi kami, sepakbola adalah tentang gengsi. Adalah tentang rivalitas, adalah tentang harga diri, adalah tentang sesuatu yang harus dipertahankan sampai mati.

Maaf bila telingamu bising dengan cacian yang dengan paksa kami jejali. Maaf bila kamu terpaksa mendengarkan kisah-kisah menyeramkan. Kisah-kisah tentang permusuhan, juga dendam yang kelak harus sama-sama kita balaskan.

Maaf aku tidak bersamamu sore itu, Dik. Saat kabarnya mereka menanggalkan dengan paksa jersey yang kamu suka. Tidak terbayangkan apa yang kamu rasa. Tidak terbayangkan kamu harus mengalami semuanya. Terlebih mungkin kamu juga melihat jersey jingga milikmu mereka bakar. Percayalah, aku dan kawan-kawan lain yang hanya melihat melalui video saja bisa meneteskan air mata.

Mungkin kamu terlalu polos untuk mengerti sepakbola kami yang dewasa ini. Tetapi ada baiknya kamu tetap seperti itu. Agar tidak hilang bahagiamu. Seperti bahagia sebagian kami akan sepakbola yang berganti fanatisme buta.

Aku tahu kamu pasti takut saat itu, tapi kamu adalah bocah yang kuat. Satu yang harus kamu percaya, yang mencintaimu karena sepakbola lebih banyak dari mereka yang tidak suka denganmu sore itu hanya karena jersey yang berbeda. Dan apa yang mereka lakukan murni egoisme dan kebodohan semata.

Aku tahu sebelum sore itu kamu sudah sering datang ke stadion yang sama untuk sepakbola. Semua baik-baik saja, kan?

Dik, mungkin ada baiknya kita ke lapangan kampung saja. Menonton sepakbola dari garis lapangan dengan jajanan di tangan. Saat jeda pertandingan, gantian kita menendang bola. Kita nikmati saja sepakbola yang sederhana. Sepakbola yang mereka sebut sepakbola kelas rendahan.

Tidak apa-apa, asal kita bahagia. Biarkan sepakbola yang berbicara tentang tentang gengsi, tentang rivalitas, tentang harga diri, tentang sesuatu yang harus dipertahankan sampai mati, untuk mereka saja. Lengkap dengan egoisme dan kebodohannya.

***

Untuk Adik Rian. Jangan pernah dendam dengan apa yang sore itu mereka lakukan. Sepakbola tidak mengajarkan itu. Percayalah, yang mencintaimu karena sepakbola lebih banyak dari mereka yang tidak suka denganmu hanya karena jersey yang berbeda.

Jangan pernah kapok menonton sepakbola. Sampai jumpa nanti, kita akan menyaksikan sepakbola yang membahagiakan kita.

Share post :

Leave a Reply