Sepakbola dan Cerita Lain yang Terus Berlanjut

Hanya ada satu kata, rindu. Meski masih sulit untuk menggambarkan dengan sempurna, rasa setelah hampir dua bulan tanpa bertemu.

Untuk kita, aku dan kamu, sepakbola bukan hanya permainan dengan gawang sebagai tujuan. Sepakbola adalah rasa, adalah pertemuan.

Masih ingat, kan, saat mata kita saling menemukan? Entah di muka pintu 21 atau 22 tribun timur Stadion Utama Glora Bung Karno tepatnya. Dengan lambaian tangan, kita berjumpa untuk pertama kalinya. Tidak romantis memang. Kita justru berkenalan di saat tubuh penuh peluh, wajah lelah, juga baju telah basah. Di antara ribuan lain yang juga nyaris sama.

Meski tribun kita berbeda, di setiap kesempatan lain kita pasti memaksa bertemu saat jeda. Tidak lama. Terhitung hanya sebatang rokok yang kita hisap bersama. Juga sebotol air yang lebih sering kita bagi berdua. Di luar tribun tentunya. Karena di tribun Persija, merokok jelas tidak dibenarkan.

Kini hampir dua purnama, bila meminjam kata anak senja, sepakbola pergi. Alasan yang mempertemukan kita, tidak ada lagi. Sepakbola harus mengalah oleh Covid-19 yang memang berbahaya. Sudah hampir seluruh penjuru bumi dijangkiti. Sudah ratusan ribu nyawa menjadi korbannya.

Dengan penularan yang begitu luar biasa, itu juga yang membuat sepakbola harus dihentikan sementara. Atau bahkan bisa dikatakan sementara mati.

Di Indonesia sendiri, korban masih terus bertambah. Dengan Jakarta, rumah kita, menjadi tempat yang dianggap paling berbahaya. Selain menjadi lokasi terdeteksinya kasus pertama, penularan di ibu kota menjadi yang terparah.

Tapi percayalah, untuk aku dan kamu, sepakbola tidak mati. Meski tidak ada pertandingan, tidak ada cerita menang dan kalah, tapi kita punya cerita sepakbola kita sendiri. Cerita tentang rasa yang terus berlanjut kemudian.

Rasanya, cerita kita hanya satu di antara banyak cerita lainnya. Toh kita hanya dua di antara sekitar 50 ribu orang yang rata-rata memenuhi SUGBK saat Macan Kemayoran berlaga. Mereka juga pasti memiliki cerita berbeda. Cerita sebakbolanya masing-masing.

Tengoklah di depan gang-gang ibu kota. Semangat kota ini untuk juara berubah menjadi harapan agar kota segera pulih. Energi yang biasa tersalurkan di tribun kini menyebar hingga seluruh penjuru. Suasana saat kita menantikan gelar juara tidak jauh berbeda dengan yang terjadi kini. Banner-banner terpasang dengan harapan seragam. “Kota Ini Mau Sehat.”

Kekuatan besar tribun menjelma aksi nyata mengusir Covid-19 dengan segala ancamannya. Yang semula suporter hanya berbicara tentang pertandingan sepakbola, kini cerita-cerita tentang kemanusiaan di kedepankan. Bahu-membahu saling mendukung ditunjukkan. Donasi-donasi dibuka. Tidak sedikit dana terkumpul disalurkan untuk pekerja medis yang berjuang di garis terdepan. Belum lagi aksi-aksi menjaga lingkungan.

Covid-19 memang telah merenggut begitu banyak nyawa. Tapi yang pasti Covid-19 tidak akan bisa mematikan kemanusiaan. Juga mematikan sepakbola. Setidaknya untuk kita, aku dan kamu, yang masih terus memiliki cerita sepakbola kita sendiri. Juga orang-orang lain yang pasti memiliki cerita masing-masing.

 

Foto milik @persijajkt di Instagram

Share post :

Leave a Reply