SEBUAH PLEDOI DARI KAMI

Kenapa banyak yang tak suka dengan sepakbola lokal terutama suporternya? Karena mereka lebih suka mengkritik daripada menelaah. Mendengar dari sudut pandang pemberitaan kerusuhan di media dan menelannya mentah-mentah.
Menyanggah pun tak ada arti. Karena tak akan bisa kita bersuara kepada seseorang yang menutup rapat kedua telinganya. Ketahuilah, bukan ini yang kami inginkan. Bedakanlah arti mencintai, kebrutalan, dan bertahan. Kami yang mana? Kami mencintai dan bertahan. Tapi yang disorot malah kebrutalan. Salah? Jelas.
Sejatinya tak bisa dipandang sebelah mata yang namanya suporter. Pemain ke-12 ini yang jadi penghuni tribun stadion. Memang kadang fanatisme dianggap ‘gila’ oleh kaum awam yang tak mengerti apa arti kata “Totalitas dan Loyalitas”
Totalitas dan Loyalitas ini pun menjadi daya tarik bagi segelintir pecundang di sekitar ranah sepakbola. Sering kali berita tak sedap tentang kami yang sering kami dengar dengan telinga kami sendiri. Kenyataan yang terjadi banyak yang tak terungkap di sebuah berita. Memperjualbelikan berita atas nama besar klub dan suporternya.
Kerusuhan, kerusuhan, kerusuhan. Mungkin itu yang melekat dengan sepakbola. Ya, karena hanya itu saja yang ditayangkan ketika suporter ada diberita. Kenapa begitu pun kami tak paham.
Hasilnya suporter era sekarang menjadi momok sebagian masyarakat, karena ulah segelintir ‘preman’ berkedok fans sepakbola dan media yang membangun citra miring suporter tanpa kelanjutan dan pembenaran.
Sebagai suporter jiwa kami seakan berteriak. Di mana keadilan? Bagai sampah yang kehadirannya selalu salah, kami terus menjadi bulan-bulanan. Bagi kami, jika tidak bisa menayangkan hal positif dari suporter, setidaknya jangan menayangkan kerusuhan yang terjadi tanpa membenarkan nama kami kembali.
Stop ‘membunuh’ nama kami. Prestasi pun seakan tiada arti. Banyak dari sisi lain yang tak terungkap dimasyarakat. Memang kami cinta tanpa perlu citra, tapi kecerdasan pemberitaan selalu kami harapkan. Karena makanan saja dicerna dahulu baru diedarkan ke seluruh tubuh. Berita pun seharusnya dicerna dahulu dengan otak sebelum emosi dan main tuduh.
Rakyat Indonesia butuh media cerdas, bukan pembodohan berkedok pemberitaan. Rivalitas dan permusuhan juga semakin panas dengan adanya pemberitaan buruk yang tidak berkesudahan.
Saat sebuah golongan menjadi pusat perhatian, tumbuh dengan cinta dan karya. Kita tak akan bisa jadi sempurna. Tetaplah pandang kami sebagai manusia biasa, yang bisa salah dan kadang lelah. Gunakanlah logika, perasaan dan kenyataan saat menyudutkan, menghujat apalagi memberitakan. Karena yang dituju juga punya perasaan.
Media menyampaikan apa yang ingin didengar. Kepedulian hanyalah milik minoritas. Suara lantang meneriakkan ketidakadilan hanya akan tersapu oleh tiupan angin. Setidaknya kita mengingatkan diri sendiri bahwa kita masih berdiri di atas garis kebenaran. Dan hanya bisa berharap “Media Cerdas” benar-benar menggerogoti sebagian besar rakyat Indonesia.
Mengertilah, karena seharusnya sepakbola, suporter, warga, dan medianya bersatu. Kembali pada hakikat awal bahwa sepakbola adalah olahraga pemersatu yang didirikan oleh para pendahulu.
Koreksi dan rangkul kami ketika ada salah, dan ini mungkin koreksi juga bagi media. Bukannya kami membenci, kami hanya sedikit mengoreksi karena bagi kami ada yang perlu diperbaiki. Melawan bukan berarti membenci apa yang ada di depan, tapi karena melindungi dan mencintai apa yang ada di belakang. Kenapa banyak yang tak suka dengan sepakbola lokal terutama suporternya? Karena mereka lebih suka mengkritik daripada menelaah. Mendengar dari sudut pandang pemberitaan kerusuhan di media dan menelannya mentah-mentah.
Menyanggah pun tak ada arti. Karena tak akan bisa kita bersuara kepada seseorang yang menutup rapat kedua telinganya. Ketahuilah, bukan ini yang kami inginkan. Bedakanlah arti mencintai, kebrutalan, dan bertahan. Kami yang mana? Kami mencintai dan bertahan. Tapi yang disorot malah kebrutalan. Salah? Jelas.
Sejatinya tak bisa dipandang sebelah mata yang namanya suporter. Pemain ke-12 ini yang jadi penghuni tribun stadion. Memang kadang fanatisme dianggap ‘gila’ oleh kaum awam yang tak mengerti apa arti kata “Totalitas dan Loyalitas”
Totalitas dan Loyalitas ini pun menjadi daya tarik bagi segelintir pecundang di sekitar ranah sepakbola. Sering kali berita tak sedap tentang kami yang sering kami dengar dengan telinga kami sendiri. Kenyataan yang terjadi banyak yang tak terungkap di sebuah berita. Memperjualbelikan berita atas nama besar klub dan suporternya.
Kerusuhan, kerusuhan, kerusuhan. Mungkin itu yang melekat dengan sepakbola. Ya, karena hanya itu saja yang ditayangkan ketika suporter ada diberita. Kenapa begitu pun kami tak paham.
Hasilnya suporter era sekarang menjadi momok sebagian masyarakat, karena ulah segelintir ‘preman’ berkedok fans sepakbola dan media yang membangun citra miring suporter tanpa kelanjutan dan pembenaran.
Sebagai suporter jiwa kami seakan berteriak. Di mana keadilan? Bagai sampah yang kehadirannya selalu salah, kami terus menjadi bulan-bulanan. Bagi kami, jika tidak bisa menayangkan hal positif dari suporter, setidaknya jangan menayangkan kerusuhan yang terjadi tanpa membenarkan nama kami kembali.
Stop ‘membunuh’ nama kami. Prestasi pun seakan tiada arti. Banyak dari sisi lain yang tak terungkap dimasyarakat. Memang kami cinta tanpa perlu citra, tapi kecerdasan pemberitaan selalu kami harapkan. Karena makanan saja dicerna dahulu baru diedarkan ke seluruh tubuh. Berita pun seharusnya dicerna dahulu dengan otak sebelum emosi dan main tuduh.
Rakyat Indonesia butuh media cerdas, bukan pembodohan berkedok pemberitaan. Rivalitas dan permusuhan juga semakin panas dengan adanya pemberitaan buruk yang tidak berkesudahan.
Saat sebuah golongan menjadi pusat perhatian, tumbuh dengan cinta dan karya. Kita tak akan bisa jadi sempurna. Tetaplah pandang kami sebagai manusia biasa, yang bisa salah dan kadang lelah. Gunakanlah logika, perasaan dan kenyataan saat menyudutkan, menghujat apalagi memberitakan. Karena yang dituju juga punya perasaan.
Media menyampaikan apa yang ingin didengar. Kepedulian hanyalah milik minoritas. Suara lantang meneriakkan ketidakadilan hanya akan tersapu oleh tiupan angin. Setidaknya kita mengingatkan diri sendiri bahwa kita masih berdiri di atas garis kebenaran. Dan hanya bisa berharap “Media Cerdas” benar-benar menggerogoti sebagian besar rakyat Indonesia.
Mengertilah, karena seharusnya sepakbola, suporter, warga, dan medianya bersatu. Kembali pada hakikat awal bahwa sepakbola adalah olahraga pemersatu yang didirikan oleh para pendahulu.
Koreksi dan rangkul kami ketika ada salah, dan ini mungkin koreksi juga bagi media. Bukannya kami membenci, kami hanya sedikit mengoreksi karena bagi kami ada yang perlu diperbaiki. Melawan bukan berarti membenci apa yang ada di depan, tapi karena melindungi dan mencintai apa yang ada di belakang.

 

(Tulisan ini telah diterbitkan pada November tahun lalu di web kami yang terdahulu.

dikirimkan oleh Jakangel yang bernama Vivi Andiani, beredar di IG dengan akun @viviandiani_)

Share post :

1 Response

Leave a Reply