Sebuah Babak Baru

Sepakbola perempuan di Indonesia akhirnya kembali hidup dari mati surinya dalam beberapa dekade. Akhirnya, perempuan Indonesia bisa memiliki akses yang sama seperti laki-laki dalam ranah sepakbola. Sepakbola yang notabene selalu diidentikan sebagai olahraga kaum lelaki, menjadikan para perempuan tabu untuk turut serta dan memunculkan stigma negatif dalam keberadaannya, karena menurut masyarakat patriarki sepakbola menggambarkan sebuah maskulinitas yang hanya cocok disandingkan dengan para lelaki. Apa lagi di Indonesia, dimana budaya patriarki masih terasa kental, hal ini membuat ruang gerak yang semakin terbatas bagi perempuan dalam ranah sepakbola.

Budaya patriarki ini yang menyebabkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan gender dalam berbagai aspek. Ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan ini yang menjadi salah satu hambatan yang menyebabkan individu dalam masyarakat tidak memiliki akses yang sama dalam segala ranah seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil.

Bisa kita lihat bagaimana cara respon laki-laki yang merasa superior ini menikmati kompetisi Liga 1 Putri mulai dari catcalling, candaan berbau seksisme, psywar yang sudah merendahkan gender, komentar di akun pribadi yang sudah menjurus ke pelecehan dan masih banyak yang lain nya. Lihat, Bagaimana budaya patriarki ini sudah mendarah daging dalam masyarakat kita? Budaya patriarki yang berkembang membuat perempuan hanya dilihat dan dinilai sebagai suatu obyek. Tidak jarang meskipun mempunya skill yang bagus tetapi yang dinilai hanya penampilan nya saja.

Bergulirnya kompetisi resmi Liga 1 Putri seperti dua sisi mata pisau. Sisi pisau yang satu sebuah kekhawatiran akan melanggengkan sistem patriarki di masyarakat kita. Sistem patriarki ini yang menjadikan laki-laki memiliki peran sebagai kontrol utama dalam struktur masyarakat. Bergulirnya Liga 1 Putri memang menjadikan perempuan memiliki akses yang sama untuk menikmati sepakbola. Tetapi bagaimana dengan para supporter dan media, apakah sudah siap? Hingga bergulirnya Liga 1 Putri masih bisa kita temukan baik di bangku tribun atau di berbagai sosial media yang kerap hanya menilai dari penampilan nya saja. Berbagai macam pemberitaan dari media dan respon dari masyarakat hanya fokus bagaimana keseksian dan kecantikan pemain tanpa peduli dengan sisi individu sebagai seorang perempuan. Sah-sah saja mengidolakan suatu pemain, tapi lihat di lapangan bukan hanya satu atau lima pemain saja, ada belasan orang di dalam tim yang berjuang selama 90 menit, mari kita apresiasi mereka semua. Jangan lagi hanya beberapa pemain saja yang mendapat perhatian lebih.

Sisi pisau yang satunya lagi adalah sebuah harapan. Stereotip bahwa sepakbola selalu dekat dengan olahraga laki-laki perlahan bisa sirna. Dengan bergulirnya Liga 1 Putri perlahan mulai mengubah cara pandang kita bahwa siapapun itu baik laki-laki dan perempuan mempunyai akses yang sama baik dalam sepakbola ataupun diluar ranah itu. Bagaikan perlawanan terhadap perilaku seksisme yang terjadi beberapa pekan belakangan muncul hastag #Persijatanpaseksisme, #Nosexism, maupun #Noseksisme yang merupakan sebuah harapan bahwa tidak ada lagi pelecehan verbal atau non verbal terhadap para pemain perempuan, tidak ada lagi diskriminasi gender pada pemain perempuan.

Mengutip dari Nelson Mandela Presiden Afrika Selatan yang berjuang melawan Apartheid (sistem/hukum pemisah ras) menurutnya sepakbola lebih dari olahraga, sepakbola telah menciptakan sebuah harapan. Lihat tanpa sengaja kita mencipatakan sebuah harapan Persija tanpa seksisme, Persija tanpa diskriminasi gender, Persija yang ramah bagi siapapun yang ada di dalam nya .

Sepakbola mempunyai kekuatan magis nya, kita supporter Jakarta adalah contohnya. Seperti layaknya awal berdirinya The Jakmania tercipta karena jumlah suporternya seperti menjadi tamu di kadang sendiri (di Jakarta), dan mempunyai harapan ingin menjadi tuan rumah di kandang sendiri. Saat ini harapan itu bisa menjadi kenyataan dengan seiring waktu kita menjadi tuan rumah di kandang kita sendiri.  Bahkan magisnya sepakbola sudah lebih jauh dari itu. Lihat saat ini Persija, The Jakmania dan Jakarta sudah menjadi identitas yang tidak bisa dipisahakan.

Kompetisi Liga 1 Putri ini adalah sebuah babak baru. Bagaimana kita menjadi manusia yang saling menghargai tanpa melihat apa jenis kelamin nya, menghargai tanpa merasa diri sendiri sebagai superior, menghargai tanpa ada embel-embel melindungi yang lebih lemah dan menghargai karena kita sesama manusia.

Mari sudah seharusnya kita mengambil sikap memilih sisi pisau kekhawatiran atau sisi pisau harapan. Tapi sebelum akan memilih sisi yang mana, sepertinya kita setuju dengan kata-kata  “Football for Unity”. Jadi sepertinya tidak ada alasan memilih sisi pisau kekhawatiran bukan?

Maka dari itu, mari kita sama-sama menciptakan sebuah harapan yang suatu saat mungkin harapan itu menjadi kenyataan. Sebuah harapan untuk sepakbola tanpa seksisme, sepakbola tanpa ada nya diskriminasi gender, sepakbola yang ramah bagi siapun yang ada di dalamnya. Semoga harapan ini bukan hanya sekadar dalam lingkup Persija atau sepakbola saja tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Karena sesungguhnuya semua gender berhak menggali segala potensi dalam dirinya dan merdeka dalam otoritas diri mereka sendiri, tanpa harus merasa terkekang oleh suatu otoritas lain nya.

foto milik : Situs Resmi Persija Jakarta (persija.id)

 

Ditulis oleh Aziz Muhammad Nadzir (@azizmnadzirr)

Share post :

Leave a Reply