Sampai Kapan ?

Sir Isaac Newton pada 5 juli 1687 menerbitkan sebuah buku yang berjudul Philosopiae Naturalis Principia Mathematica. Buku tersebut dianggap sebagai buku paling berpengaruh dalam dunia sains. Dalam buku tersebut Sir Isaac Newton menuliskan tiga hukum gerak, yang kemudian dinamakan Hukum I, II, dan III Newton. Salah satu hukum tersebut, yaitu hukum III Newton menyebutkan :

“Jika suatu benda pertama memberikan gaya aksi pada benda kedua, benda kedua akan memberikan gaya reaksi pada benda pertama yang besar nya sama tetapi arah nya berlawanan”.

Hukum III Newton penerapannya tak hanya dalam sebatas teori, dalam kehidupan sehari-hari pun kita selalu menemui hukum yang biasa disebut hukum aksi-reaksi ini. Bahkan, dalam dunia persepakbolaan pun kita bisa menemui penerapan hukum ini. Penerapan nya pun tak melulu hal-hal positif, hal negatif pun kadang menerapkan hukum ini. Dan hal negatif yang sering kita temui menerapkan hukum aksi-reaksi adalah kerusuhan supporter.

Ya, kerusuhan supporter di negara ini seperti dengan sengaja menerapkan hukum III Newton dalam penerapan nya.
Seakan tak ada habisnya setiap pihak dalam memberikan aksi dan kemudian, sebagai reaksi dibalas oleh pihak lain. Seakan setiap pihak dengan senang hati menjadi gaya aksi yang akan menyebabkan gaya-gaya reaksi lain nya bermunculan.

Wajar memang rivalitas eksis di dunia sepakbola. Tetapi rivalitas jika sudah meluas menjadi kericuhan rutin pada setiap pertemuan, bukanlah sesuatu yang masih dalam batas wajar, melainkan sebuah penyakit. Penyakit yang perlahan tapi pasti akan memakan badan dari masing-masing pihak. Memakan sampai habis tak tersisa. Badan yang dimaksud dalam konteks ini adalah anggota dari sebuah kelompok, yang akan habis, entah itu pergi karena tak suka dengan adanya kericuhan, atau mati mempertahankan kericuhan yang ada.

Seorang legenda sepakbola Indonesia asal Kabupaten Salatiga, sempat berkarier di Belanda, dan kini sedang membela panji klub kebanggan Jakarta pernah berujar, bahwa tak ada satu kemenangan pun yang harganya sebanding dengan nyawa.

Klub tak butuh nyawa kita, klub tak butuh darah kita. Klub hanya butuh suara, teriakan, nyanyian dukungan kita. Klub membutuhkan kehadiran kita. Mereka, manusia-manusia yang memakai seragam dengan lambang monas di dada, tak bisa berjuang sendirian, dan tak boleh berjuang sendirian. Mengawal, menjaga, dan membesarkan nama klub hanya bisa dilakukan ketika kita hidup, ketika kita masih bernyawa.

Dukungan hanya bisa diberikan saat kita ada di tribun, bukan di jalanan. Dukungan hanya bisa diberikan saat kita fokus dan memandang ke lapangan, bukan saat kita melihat ke kiri dan ke kanan kita untuk mencari rival bertanduk yang seperti setan.

Kebencian memang wajar hadir dalam setiap rivalitas, apalagi dalam dunia sepakbola. Tetapi membencilah sewajarnya. Tidak baik jika terlalu membenci sesuatu karena akan menghabiskan energi yang seharus nya habis untuk yang kita cinta kepada yang kita benci. Ingatlah, kita adalah pecinta apa yang kita cinta, bukan pembenci apa yang bukan kita cinta.

Lalu, sampai kapan kita akan terus begini? Sampai kapan mempertaruhkan nyawa kita? Sampai kapan akan terus menumpahkan darah yang mungkin masih saudara seiman kita, dan yang jelas-jelas saudara sebangsa setanah air kita?

Atau, seperti ini saja. Seperti di awal tulisan ini, disebutkan bahwa rivalitas di dunia sepakbola itu menerapkan hukum aksi reaksi. Jika ingin menghentikan hukum itu, cukup hentikan salah satu gaya yang berlawanan. Tinggal pihak mana yang mau mengalah dan menghilangkan gaya-nya lebih dulu. Atau bahkan lebih baik lagi, kedua pihak menghilangkan gaya-nya masing-masing.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
26 views

Leave a Reply