Riko, Simic, dan Gol

Blackburn Rovers memiliki Alan Shearer dan Chris Sutton ketika berhasil membuat kejutan dengan menjuarai Premier League musim 1994/1995, Manchester United mempunyai Dwight Yorke dan Andy Cole kala sukses meraih treble winner pada musim 1998/1999, sementara Arsenal memiliki  Thierry Henry dan Dennis Bergkamp saat berhasil menjuarai Premier League musim 2003/2004 dengan status Invincibles –tak terkalahkan sepanjang musim–.

Sementara Persija Jakarta mempunyai Riko Simanjuntak dan Marko Simic. Mereka berdua merupakan tumpuan utama kala Macan Kemayoran berhasil menembus tradisi dengan kembali menjadi juara Liga Indonesia pada musim 2018 silam.

Pertama kali keduanya  mendarat di Klub kebanggaan Ibu Kota yaitu pada musim 2018 silam. Seperti biasa seluruh fans pasti senang ketika tahu tim kesayangan mereka merekrut pemain baru pada bursa transfer.

Ketika itu Persija baru saja kehilangan Bruno Lopes, striker andalan mereka pada musim sebelumnya. Pihak manajemen Macan Kemayoran langsung melakukan manuver yang cukup gesit dengan mendatangkan seorang Marko Simic.

Jujur saya belum pernah melihat permainan Simic sebelumnya, bahkan saya baru tahu namanya saat ia bergabung dengan Persija. Maka dari itu saya langsung melakukan apa yang biasa fans lain lakukan, benar saya mencari video yang berisikan skill dan gol-gol beliau di berbagai kanal media sosial. Saya paham bahwa tak adil untuk menilai kemampuan seorang pemain hanya dengan melihat kompilasi skill dan gol dalam video berdurasi beberapa menit.

Jadi bagi saya kehadirannya saat itu membawa harapan baru dengan ekspektasi yang tak berlebihan.

Sementara untuk Riko saya sempat beberapa kali melihat penampilannya ketika masih berseragam Semen Padang. Kesan pertama saat saya melihat penampilannya adalah kagum dengan kelincahannya untuk berkelit dari hadangan lawan. Menurut saya kekurangan Persija pada musim sebelumnya adalah mereka tak memiliki sosok yang cepat dan agresif di sektor sayap, jadi mendatangkan seorang Riko Simanjuntak merupakan langkah yang bijak.

Kehadiran Riko dan Simic mulai menunjukkan bahwa langkah manajemen untuk merekrut mereka adalah langkah yang tepat. Sejak laga pra-musim keduanya sudah menunjukkan performa yang gemilang. Meskipun belum terlalu padu, tetapi sudah ada sinyal positif yang mengarah kesana.

Simic mampu tampil fantastis dalam perhelatan Piala Presiden 2018 dengan menjadi topskor sekaligus pemain terbaik pada turnamen pra-musim tersebut. Saya rasa seluruh The Jakmania pasti ingat betul apa yang Simic perbuat pada turnamen tersebut, ya gol spektakulernya pada laga pamungkas ke gawang Bali United.

Peran mereka makin terasa setelah keduanya berhasil membawa Macan Kemayoran menjuarai Liga 1 2018. Kala itu Simic berhasil menorehkan 18 gol, sementara Riko menyumbang 9 assis dan ikut andil dengan memberikan 2 assis untuk Simic pada musim tersebut.

Bahkan musim lalu disaat performa Macan Kemayoran sedang labil, kedua pemain inilah yang bisa dibilang masih berada dalam performa terbaiknya. Bahkan kekompakan keduanya semakin menjadi-jadi. Simic kali ini menjadi top skor Liga 1 2019 dengan torehan 28 gol. Dan Riko menorehkan 7 assis dan 6 di antaranya ia persembahkan untuk Simic. Sementara untuk musim ini kombinasi antara Riko dan Simic baru membuahkan 1 gol.

Jika dilihat dari statistik memang torehan assis yang Riko berikan untuk Simic  belum terbilang banyak, namun jika kita melihat pertandingan secara langsung maka kita akan melihat betapa setia dan kompaknya Riko dengan Simic.

Riko seakan tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh Simic, dan Simic pun tahu apa yang dimaksud oleh Riko. Kekompakan keduanya di atas lapangan tak perlu diragukan lagi. Seakan-akan saat bola berada di kaki Riko, lalu ia mengopernya kepada Simic, niscaya yang akan terjadi setelahnya adalah gol. Riko sepertinya terlahir untuk Simic, begitu pun sebaliknya. Bahkan menurut saya, jika Riko dan Simic bermain petak umpet, keduanya pasti tak akan kesulitan untuk saling menemukan satu sama lain.

Kalau di dunia film mungkin Riko dan Simic ini seperti Ipang dan Nugi. Mereka berdua adalah karakter utama di dalam film Realita, Cinta, dan Rock’n Roll yang tayang pada medio 2006 silam. Film yang disutradarai oleh Upi Avianto ini mengisahkan tentang persahabatan kedua karakter, Ipang dan Nugi. Mereka berdua memiliki cita-cita yang sama yaitu ingin menjadi pemusik rock’n roll.

Suatu ketika persahabatan mereka berdua terancam retak lantaran seorang perempuan bernama Sandra. Nugi suka dengan Sandra, tapi Sandra sukanya dengan Ipang, nah loh. Namun akhirnya Nugi mampu bersikap lebih dewasa dengan meredam egonya dan membiarkan Sandra memilih laki-laki yang ia cintai, yaitu Ipang. Dan persahabatan mereka pun tetap terjaga. Setidaknya sampai filmnya selesai.

Serupa dengan apa yang terjadi di Persija. Tidak peduli siapa yang menjadi Nugi dan siapa yang menjadi Ipang. Yang terpenting adalah mereka berdua, Riko dan Simic, mampu meredam ego masing-masing demi kepentingan tim.

Riko dan Simic memang bukan duet maut pertama yang sukes mempersembahkan gelar juara liga untuk Macan Kemayoran. Ketika  menjadi kampiun Divisi Utama Liga Indonesia tahun 2001 Persija Jakarta juga memiliki duet maut dalam diri Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono. Duet mereka membuahkan 32 gol, 17 gol ciptaan Bepe sedangkan 15 gol lainnya buah kreasi Si Ular Piton.

Namun Riko dan Simic merupakan duet maut pertama yang saya lihat berhasil mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia bagi Macan Kemayoran. Semoga kolaborasi Riko dan Simic bisa bisa membawa Persija Jakarta kembali berjaya, baik di kancah nasional, Asia dan bahkan dunia.

Sajete!

Gerry Maulana, bisa disapa di akun twitter @gerrymaulanaaa

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
96 views

Leave a Reply