Review Pertandingan: Persija 1-1 Persipura

 

Setelah kembali dari liburan, Persija belum juga meraih kemenangan setelah bermain imbang 1-1 melawan tamunya, Persipura Jayapura di Stadion Patriot, Bekasi pada Sabtu (8/7).

Line-up 

Setelah PT LIB “merevisi” regulasi U-23, ini adalah kali kedua Persija tidak menurunkan satupun pemain U-23 dalam susunan awal. Coach Teco menurunkan semua pemain seniornya. Meski begitu Persija tampil tanpa kekuatan penuh. Selain absennya tiga pemain yang dipanggil ke Tim Nasional, pencetak gol terbanyak Persija, Bruno Lopes juga tidak bisa tampil lantaran cedera. Teco juga melakukan beberapa rotasi guna menyiasati padatnya jadwal pertandingan.

Susunan awal tetap 4-3-3 seperti biasa. Andritany tetap dipercaya sebagai kiper utama. Ismed di bek kanan, Pacheco dan Maman berduet di sentral lini belakang. Sementara Vava tampil untuk pertama kalinya di Liga musim ini sebagai bek kiri. Lini tengah kembali mengandalkan trio Sute-Rohit-Sutanto. Sementara Novri mengisi sayap kiri, Luiz Junior sedikit bergeser ke kanan dan Bambang Pamungkas memimpin lini depan.

Sementara sang tamu asal Jayapura tersebut juga memakai formasi serupa. Yoo Jae-Hon berdiri di belakang back four Tinus Pae, Ricardo, Tahir, dan Ruben Sanadi. Trio lini tengah diisi Nelson Alom, Ian Kabes dan Manu Wanggai. Sementara kapten kesebelasan, Boaz Salossa bermain di lini depan bersama Adison Alves dan Prisca Womsiwor.

Meski Persija tersusun dalam 4-3-3 namun dalam penerapannya Persija cenderung berpola 4-4-2, terutama ketika tidak menguasai bola. Yang terlihat jelas adalah peran Luiz Junior. Meski sering bermain melebar, Luiz kadang berduet dengan Bepe sebagai no. 9. Sementara Rohit bergeser ke sayap kanan mengisi ruang yang ditinggalkan Luiz. Di sisi kiri, Novri cenderung sejajar dengan lini tengah alih-alih berperan sebagai winger/wide forward dalam skema tiga penyerang.

Back four Persija juga cenderung berdiri sejajar. Dua bek sayap, Ismed dan Vava tidak banyak melakukan overlap menyisir sayap. Keduanya fokus menjaga keseimbangan di lini belakang. Ada indikasi Coach Teco berfokus pada pertahanan guna mereduksi daya serang Persipura, yang pekan sebelumnya mencetak setengah lusin gol ke gawang Mitra Kukar.

Sementara tim tamu melakukan pendekatan yang lebih ofensif. Kedua bek sayap banyak membantu serangan, terutama bek kanan (Tinus Pae). Pae banyak mengisi area flank kanan sementara Boaz bergerak lebih bebas di area half-space bahkan ke area no. 10 Persipura. Boaz bahkan beberapa kali terlibat dalam proses build-up di area sendiri.

Persija Meredam Agresivitas Persipura

Seperti disebutkan tadi, Persija secara umum memang melakukan pendekatan yang cenderung pragmatis menghadapi Persipura. Namun Macan Kemayoran beberapa kali berinisiatif mencoba merebut bola di area lawan lewat high pressing.

Dua no. 9 Persija akan menempel dua bek tengah Persipura yang melebar di half-space. Sementara Nelson Alom, no. 6 Persipura yang berposisi di area tengah akan diikuti salah satu gelandang tengah Persija. Konsekuensinya, Novri dan Rohit yang bermain di kedua sisi sayap akan merapat ke tengah bersama satu gelandang tengah Persija.

Persija high-press

Hal ini belum terlalu membuahkan hasil pada babak pertama karena dua bek tengah Persipura mengambil posisi tidak terlalu melebar. Persipura masih bisa berprogres lewat kedua bek sayap mereka.

Pada awal babak kedua, pengambilan posisi M. Tahir yang terlalu melebar membawa masalah bagi Persipura, dimana ia kemudian terkunci di sisi kiri akibat pressing dari Luiz Junior. Tahir pun terpaksa membuang bola dan penguasaan bola berpindah ke Persija.

Persija kemudian memang gagal membangun serangan, tapi efek dari usaha tadi adalah Persija masih memiliki banyak pemain di area lawan, yang kemudian membuat Persija memenangkan pelanggaran yang menghasilkan tendangan bebas. Dari tendangan bebas itulah Persija menyamakan skor lewat William Pacheco.

Pola 4-4-2 Macan Kemayoran ketika tidak menguasai bola terhitung rapat secara horizontal. Rohit dan Novri merapat ke tengah bersama kedua no. 8 Persija. Hal ini disiasati Persipura lewat bola-bola panjang ke belakang lini pertahanan Persija. Bola tersebut banyak diarahkan ke winger Persipura, terutama Prisca Womsiwor yang memiliki kecepatan yang diharapkan bisa menghancurkan jebakan offside Persija.

Akan tetapi blok Persija renggang secara vertikal. Ini yang kemudian banyak dimanfaatkan oleh Persipura. Mereka memanfaatkan keunggulan 3v2 di lini tengah, serta pergerakan Boaz dan Adison di ruang antarlini. Lewat cara seperti ini Persipura banyak membuat peluang di babak pertama.

Minim Opsi dalam Fase Transisi

Ide awal Persija adalah memainkan bola langsung ke duet striker mereka. Baik Bambang Pamungkas maupun Luiz Junior memiliki atribut yang dibutuhkan dalam memenangi duel udara menyambut umpan panjang dari lini belakang. Sayangnya mereka seringkali terisolasi dari lini tengah. Kurangnya support dari lini kedua membuat serangan menjadi sia-sia.

Hal ini sebetulnya sering dialami Persija. Namun kuncinya ada pada Bruno Lopes. Penyerang yang sudah mengoleksi empat gol itu selain memiliki kapasitas sebagai target man (dengan postur dan kemampuan duel udara yang baik) , juga punya atribut dribble mumpuni.

Seperti Bruno, pada pertandingan ini Luiz banyak beroperasi di area sayap. Akan tetapi atribut dribble Luiz tak sebagus Bruno. Luiz tetap harus menunggu support dari rekannya-yang tentu saja butuh waktu lebih lama-selagi ia membelakangi gawang lawan. Akan tetapi setidaknya Luiz menghasilkan satu peluang lewat kerjasama dengan Bambang Pamungkas dalam satu momen serangan balik.

Persija sebetulnya punya peluang bagus ketika lawan bermain dengan 10 orang. Masuknya Rudi Widodo dan Umanailo membuat Luiz kembali ke posisi naturalnya sebagai target man. Akan tetapi hal itu tidak menghasilkan apa-apa karena Persija gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Luiz malah kemudian juga ikut-ikutan diusir setelah mendapat kartu kuning kedua.

Minimnya opsi ini juga terlihat di lini belakang. Persija menjadi kekurangan opsi di sisi lapangan mengingat hal ini merupakan konsekuensi dari strategi Teco dimana kedua bek sayap tidak terlalu banyak terlibat penyerangan. Salah satu momen terburuk strategi ini adalah ketika Novri terpaksa mengumpan ke Ismed-yang masih jauh di belakang-dalam satu momen peralihan penguasaan bola dari Persipura ke Persija. Posisi Ismed sebetulnya tidak memungkinkan tapi sang kapten adalah satu-satunya opsi umpan Novri ketika itu. Naas karena bola berhasil direbut kembali oleh Persipura dan kemudian dikonversikan menjadi gol pembuka oleh Adison Alves.

Kesimpulan

Persija memainkan laga keduanya di bulan Juli yang padat ini dengan kembali bermain imbang. Persija bisa dibilang tampil terlalu reaktif terhadap tamu asal Jayapura tersebut. Banyak konsekuensi-konsekuensi yang tidak menguntungkan dari strategi yang diterapkan. Dilihat dari penampilan di atas lapangan, hasil 1-1 terbilang cukup adil bagi kedua tim.

Share post :

Leave a Reply