Review Pertandingan: Persija 0-0 Bali United

Persija masih belum beranjak dari papan bawah setelah ditahan imbang tamunya Bali United di Stadion Patriot pada Minggu malam. Ini adalah pertandingan ke-enam Persija gagal meraih angka penuh dari tujuh pekan awal Gojek Traveloka Liga 1.

Line-up

Persija menurunkan formasi 4-3-3 seperti biasa. Teco melakukan sedikit perubahan dari line-up sebelumnya ketika menghadapi Mitra Kukar. Pacheco kembali mengisi posisi bek tengah, berduet dengan Gunawan Dwi Cahyo. Ismed dan Rezaldi melengkapi back four di depan Andritany. Lini tengah diisi oleh Hargianto-Sandi Sute-Rohit Chand. Sementara lini depan kembali diisi oleh trio Ambrizal Umanailo-Luis Junior-Bruno Lopes.

Tim tamu, Bali United menurunkan pola 4-2-3-1. Made Wardhana di bawah mistar. Di depannya ada Hasyim Kipuw, Agus Nova, Ahn Byung-Keon dan Ricky Fajrin. Gede Sukadana dan Fadil Sausu sebagai double pivot. Yabes Roni, Van der Velden dan Miftahul Hamdi mengisi pos gelandang serang di belakang striker tunggal, Sylvano Comvalius.

Ide Awal Persija

Persija masih mengandalkan ide yang sama seperti sebelumnya. Macan Kemayoran mengandalkan sektor sayap dalam serangannya. Dalam hal ini baik Ambrizal Umanailo maupun Bruno Lopes sangat diandalkan. Tendensi Persija dalam memanfaatkan sisi sayap ini sangat terlihat dalam skema build-up Persija. Andritany memanfaatkan operan pendek kepada salah satu dari empat bek di depannya. Bola dari empat bek ini kemudian diarahkan ke sayap. Perbedaan terlihat dari jenis umpan. Bola yang menuju Umai lebih banyak bola vertikal dan cenderung mendatar dari Ismed Sofyan, sedangkan bola yang menuju Bruno banyak berupa bola lambung dan diagonal. Logikanya, postur Bruno lebih memungkinkan memenangi duel udara dibandingkan Umai. Jika Andritany memanfaatkan Ismed untuk progresi via Umai, bola-bola panjang untuk Bruno sering ia lakukan sendiri.

Dalam membongkar blok pertahanan Bali United, Persija banyak memanfaatkan akselerasi dari kedua pemain sayapnya. Selain itu pemain Persija membentuk segitiga-segitiga untuk melancarkan serangan. Peran dua pemain nomor delapan (#8) Persija yaitu Sute dan Rohit adalah sebagai konektor serangan dari satu sisi ke sisi yang lain.

Persija kembali memainkan skema bola-bola panjang. Menghadapi tim asal Bali tersebut, Persija beberapa kali mengambil keuntungan dari memenangi bola kedua. Proses serangan yang mengawali hadiah penalti untuk Persija menunjukkan hal ini. Rohit yang memenangi bola kedua di area half-space kiri segera memberi umpan kepada Bruno Lopes. Pemain asal Brasil itu kemudian melakukan cutting inside dan dijatuhkan di kotak 16.

Persija juga kerap mengombinasikan “kemenangan” bola kedua ini dengan third man run di sisi sayap untuk segera melakukan progresi ke area final third. Hal ini bisa menghasilkan beberapa peluang di awal babak kedua. Salah satunya seperti ilustrasi di bawah ini.

Pertahanan Persija

Berbeda dengan Persija yang sejak awal bermain melebar, dalam melakukan build-up, Bali melakukan overload di satu sisi guna menarik pemain Persija ke sisi tersebut. Diharapkan dari overload tersebut bisa menarik pemain Persija ke sisi tersebut kemudian menciptakan akses kepada pemain sayap mereka di sisi jauh. Dua winger mereka, Yabes dan Hamdi diharapkan dapat mengambil keuntungan dari situasi satu lawan satu.

Seperti pada umumnya, menghadapi hal ini Persija menutup tiga area terdekat sisi bola, yaitu flanks dan half-space sisi bola, serta area tengah. Dengan struktur yang rapat ini Persija bisa meminimalisir Bali untuk mengakses Yabes/Hamdi di sisi jauh.

Tiga area yang ditutupi pemain Persija, ditandai dengan warna merah.

Ide awal pressing Persija adalah memaksa Bali untuk memainkan bola lambung ke depan. Persija memainkan dua bek berpostur jangkung (Pacheco dan Gunawan) untuk mengamankan bola lambung tersebut. Selain itu adalah dengan mengunci Bali di sayap (mempersempit area penyerangan) dan memaksa mereka melakukan kesalahan.

Persija beberapa kali mengambil keuntungan dari melakukan pressing di area Bali United. Pemain-pemain depan Persija memprovokasi pemain Bali agar mengarahkan bola ke satu sisi tertentu dimana disana banyak terdapat pemain Persija. Struktur yang rapat alias compact seperti yang disebutkan sebelumnya juga membantu Persija memenangkan bola dan kembali membangun serangan.

Kesimpulan

Untuk keenam kali secara berturut-turut Persija gagal meraih kemenangan. Padahal Persija-jika tidak bisa dikatakan mendominasi-cukup berhasil meredam permainan Bali United. Sayangnya memang Persija gagal memanfaatkan peluang-peluang emas yang didapat. Termasuk penalti pada awal babak pertama. Form buruk ini tentunya tidak diharapkan akan berlanjut.

Terlepas dari “ketidakberuntungan” berupa peluang yang mengenai mistar ataupun penalti yang gagal, sistem menyerang Persija perlu ditingkatkan. Terutama di sepertiga akhir. Persija perlu mendayagunakan pemainnya di area tersebut. Tidak melulu trio pemain depan, tapi juga support dari lini kedua, serta lini belakang. Hal ini agar serangan Persija menjadi bervariasi dan tidak monoton.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
51 views

Leave a Reply