Review Pertandingan: Bhayangkara FC 0-0 Persija

Partai pembuka gojek liga 1 2018 menyajikan duel Bhayangkara FC kontra Persija Jakarta yang berakhir sama kuat, 0-0.

Susunan pemain

Minus Rezaldi Hehanussa dan Novri Setiawan, pelatih Persija Stefano Cugurra “Teco” menurunkan seluruh pemain intinya dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno tersebut. Formasi 4-3-3 kembali diandalkan oleh sang pelatih kepala asal Brasil. Andritany berada di bawah mistar.  Ismed Sofyan, Jaimerson, Maman, dan Dany Saputra sebagai backfour. Sandi Sute mengisi pos gelandang bertahan di belakang duo Ramdani dan Rohit. Riko dan Addison bermain di kedua sisi lapangan mengapit ujung tombak, Marko Simic.

Sementara Bhayangkara yang bertindak sebagai tuan rumah menurunkan formasi 4-4-2 dengan bentuk berlian (diamond) di lini tengah. Awan Seto berperan sebagai penjaga gawang di belakang backfour: Putu Gede, Vujovic, Nurhidayat, dan Alsan Sanda. Lee Yu Jun bertindak sebagai gelandang bertahan di depan backfour. Dua gelandang tengah diisi Hargianto dan Sani Rizki. Paulo Sergio sebagai pemain nomor 10 di belakang duet Vendry Mofu dan striker anyar, Nikola Komazec.

Babak Pertama

Jalannya babak pertama bisa dibilang cukup berimbang. Baik Persija maupun Bhayangkara tidak menguasai pertandingan secara signifikan.

Persija bermain dengan pola 4-3-3. Serangan Persija banyak dilakukan melalui sayap. Pemain sayap disupport oleh fullback dan salah satu gelandang tengah (no. 8) terdekat di area half-space. Gelandang terdekat ini terkadang bertukar posisi dengan pemain sayap untuk lepas dari penjagaan dan bisa berprogres. Salah satunya terlihat dari peluang Marko Simic di akhir babak pertama.

Skema tersebut memang sudah menjadi semacam ciri khas dari permainan Persija di bawah asuhan Teco pada musim ini. Akan tetapi pada laga melawan Bhayangkara, struktur gelandang dari Bhayangkara menyulitkan Persija menciptakan struktur overload di area sayap dan half-space. Lee Yu Jun dan gelandang terdekat (Hargianto/Sani) dengan baik mampu meng-cover area krusial tersebut.

Pola Persijia lewat sayap memiliki pendekatan berbeda di sayap kanan (Riko) dan kiri (Addison). Perbedaan karakteristik keduanya berperan dalam perbedaan ini. Karakter Riko lebih kepada winger murni yang menyisir sisi lapangan, karena itu sangat jarang Riko mengambil posisi lebih ke dalam. Posisi Riko pasti ada di sisi sayap (flank). Posturnya yang kecil dan memiliki akselerasi tinggi ini menjadikan Riko menjadi sasaran umpan-umpan daerah. Berbeda dengan Addison yang lebih berperan sebagai wide target man dengan postur tinggi membuatnya menjadi tujuan bola-bola udara.

Bhayangkara sendiri meskipun bermain dengan 4-4-2 diamond dapat bertransformasi menjadi 4-2-3-1. Hargianto menemani Yu Jun di posisi nomor 6. Sani naik ke posisi sayap kiri dan Mofu sebagai sayap kanan.

Pressing Bhayangkara dengan bentuk 4-2-3-1

Persija beberapa kali memulai pressingnya di area yang cukup tinggi. Beberapa kali pressing maupun counterpressing Persija memaksa Bhayangkara membuang bola langsung ke depan. Bhayangkara pun beberapa kali bisa lolos dari pressing Persija dengan menciptakan situasi diamond di lini tengah.

Bentuk diamond Bhayangkara FC membantu progresi dan lolos dari pressing Persija

Babak Kedua

Persija banyak mengambil inisiatif di babak kedua. Addison seringkali mengambil posisi lebih ke tengah, di belakang Simic. Hal tersebut lebih menguntungkan baginya karena lebih dekat dengan gawang. Sebagai konsekuensi, Rohit kerap melebar mengisi posisi sayap kiri.

Persija juga beberapa kali mengancam, namun peluang yang dihasilkan bukanlah peluang bersih. Persija pada babak kedua banyak melakukan serangan dari sayap, utamanya lewat crossing. Akan tetapi hal tersebut tidak menghasilkan peluang berbahaya.

Kesimpulan

Di pertandingan melawan Bhayangkara, Persija kembali terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan. Sebelumnya di ajang AFC Cup, Persija juga mengalami kesulitan serupa. Dua pertandingan menghadapi tim asal Vietnam, Song Lam Nghe An, Marko Simic cs hanya sekali mencetak gol.

Tentu terlalu dini menilai Persija sudah ‘habis’ usai menjuarai Piala Presiden. Memang tidak banyak yang berubah dari cara bermain Persija. Persoalan apakah pemain yang underperformance atau skema yang sudah terbaca adalah hal lain. Satu hal yang pasti, Persija harus menambah variasi dalam skema permainannya dalam menghadapi lawan dengan lini tengah yang kuat.

Share post :

Leave a Reply