Review Persija vs Borneo FC: Tiga Poin dengan Banyak Catatan

Osvaldo Haay, Marko Simic, dan Evan Dimas masing-masing mencetak satu gol dalam kemenangan tipis 3-2 Persija atas Borneo FC. Dalam pertandingan pembuka liga yang biasa-biasa saja tersebut, The Dream Team berhasil meraih poin penuh pertamanya musim ini. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk memenuhi target juara musim ini.

Line-up

Persija di bawah pelatih baru Sergio Farias menurunkan nyaris seluruh pemain bintangnya, termasuk tiga pemain anyar dalam formasi 1-4-3-3. Andritany Ardhiyasa di bawah mistar gawang. Empat bek diisi oleh Marco Motta di sisi kanan, duet Ryuji Utomo-Maman Abdurahman di area tengah, dan Rezaldi Hehanusa di sisi kiri. Sandi Sute berperan sebagai pemain no.6, di belakang duet no. 8, Rohit Chand dan Marc Klok. Riko Simanjuntak dan Osvaldo Haay bermain di posisi sayap mengapit Marko Simic sebagai penyerang tunggal.

Tim tamu, yang dilatih oleh Edson Tavares–pelatih yang turut berperan dalam menyelamatkan Persija dari degradasi musim lalu–turun dengan formasi serupa. Gianluca Pandeynuwu sebagai penjaga gawang di belakang kuartet bek Diego Michiels-Andika Kurniawan-Javlon Guseynov-Kevin Gomes. Wahyudi Hamisi bermain sebagai no.6 di belakang Nuriddin Davronov dan Sutan Samma. Trio penyerang lini depan diisi oleh Guy Junior, Francisco Torres, dan Diogo Campos.

Line-up Persija dan Borneo FC

Persija dalam Fase Menyerang

Memiliki dua pemain sayap level tim nasional yang didukung oleh dua fullback berkualitas, membuat Persija tidak ragu untuk memainkan bola lewat area sayap. Persija memang banyak melakukan serangan melalui area ini, terutama di sisi kanan. Hal tersebut terlihat dengan dua gol di babak pertama yang berasal dari sisi yang dihuni oleh Riko dan Motta tersebut.

Meski demikian, terdapat beberapa isu yang muncul dari mekanisme tersebut. Isu pertama muncul dari umpan vertikal dari sisi yang sama, hal tersebut membuat bek lawan dengan mudah memotong umpan tersebut karena hanya harus bergeser ke satu arah. Isu kedua adalah arah lari winger yang bergerak dari dalam ke luar, sehingga ketika menerima bola ia akan membelakangi gawang lawan. Body shape yang demikian akan memudahkan lawan untuk melakukan pressing.

Ilustrasi umpan vertikal Persija yang menyulitkan pemain sayap

Isu lain yang terlihat adalah tiga gelandang yang cenderung sejajar dalam melakukan build-up. Hal tersebut membuat progresi serangan ke depan menjadi terhambat. Aliran bola menjadi cenderung horizontal dan hanya mengalirkan bola dari sayap ke sayap lainnya, seperti huruf ‘U’. Bentuk struktur gelandang yang sejajar tersebut juga menyulitkan winger untuk mendapatkan support dan opsi yang ideal untuk mengalirkan bola.

Lini tengah Persija yang sejajar menyulitkan untuk progresi serangan

Buruknya struktur juga terlihat ketika Persija memainkan bola-bola panjang ke lini depan. Striker dan kedua winger akan mengikat empat bek lawan, akan tetapi minimnya support yang ada untuk memenangi second ball membuat build-up serangan Persija menjadi sia-sia karena mudah dipatahkan oleh lawan.

Masuknya Evan Dimas pada menit ke-20 memang membawa perubahan. Pertama adalah perbaikan struktur serangan. Kemampuan Evan dalam memahami ruang yang ada (spatial awareness) membuat rotasi di lini tengah berjalan dan memperbaiki struktur yang sejajar tadi. Kemampuan Evan dalam switch play dan mengirimkan bola diagonal ke sayap juga membuat serangan dari sayap menjadi lebih efektif.

Rotasi di lini tengah sebelum gol pertama Persija. Riko turun dan berotasi dengan Rohit. Posisi Rohit menarik Kevin untuk keluar dari posisinya. Hal tersebut menciptakan ruang untuk Motta yang masuk dari belakang.

Persija dalam Fase Bertahan

Persija bertahan umumnya dalam blok menengah 4-1-4-1 atau 4-1-2-3, tergantung pada lokasi bola. Meski demikian, mekanisme pressing Persija masih menyisakan banyak permasalahan.

Pertama adalah eksekusi pressing yang tidak sinkron antara lini depan dengan lini di belakangnya, terutama ketika melakukan pressing di area yang tinggi. Ketika pemain di lini depan (umumnya Simic dan Riko) melakukan pressing, pemain di belakangnya tidak ikut melakukan tekanan dan cenderung hanya melaksanakan penjagaan zonal di daerahnya masing-masing.

Ruang antarlini Persija juga masih menjadi ruang yang dapat dengan mudah dieksploitasi oleh penyerang-penyerang Borneo. Berbeda dengan Persija yang tiga pemain depannya cenderung statis, ketiga penyerang Borneo (Guy-Torres-Campos) bermain cukup cair dan kerap berotasi. Campos menjadi pemain yang kerap beroperasi di ruang antarlini dan menimbulkan masalah bagi pertahanan Persija.

Serupa dengan Persija, Borneo juga kerap memainkan bola-bola panjang langsung ke lini depan. Perbedaannya adalah cairnya tiga pemain depan mereka membuat support yang ada lebih ideal. Struktur untuk second ball juga lebih siap. Di sisi lain, kemampuan fisik tiga pemain depan Borneo memudahkan mereka memenangi duel-duel udara dan 1v1 melawan duet bek tengah Persija.

Kesimpulan

Tiga poin penting berhasil diraih Persija di pertandingan pembuka. Meski permainan yang ditampilkan belum ideal, tiga poin menjadi modal awal yang sangat berharga di klasemen. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan untuk menjalani musim 2020 ini. Apalagi dengan target juara, Persija harus memperbaiki isu-isu yang ada agar lebih siap dan stabil dalam tiap fase permainan. Jika perbaikan tidak kunjung dilakukan, maka terminologi The Dream Team hanya akan menjadi julukan belaka.

foto sampul: Antara
Share post :

Leave a Reply