Rahasia Pertahanan Kokoh ala Teco

Nama Stefano Cugurra atau kerap disapa Teco bisa dikatakan layak terpampang dalam hall of fame sejarah Persija. Selama dua tahun ia bertugas, pelatih asal Brasil tersebut mampu membawa Persija menjadi juara Liga 1, Piala Presiden, dan melaju hingga semifinal Piala AFC Zona ASEAN. Sebagai individu, ia dianugerahi gelar Pelatih Terbaik Liga 1 2018 untuk melengkapi kesuksesannya bersama Persija.

Keberhasilan Teco di Persija tidak terlepas dari kuatnya lini pertahanan. Selama dua musim berturut-turut, 2017 dan 2018, Persija berhasil menyabet predikat tim dengan kebobolan paling sedikit di Liga 1. Secara keseluruhan dari 68 pertandingan di dua musim tersebut, Persija hanya kebobolan 60 gol. Jumlah tersebut merupakan yang paling sedikit di antara kontestan lainnya. 

Kualitas Personil di Lini Belakang

Kuatnya lini pertahanan tersebut tentu dipengaruhi oleh kualitas personil yang dimiliki Persija di belakang. Secara sumber daya manusia, Persija memiliki pemain tim nasional, pemain senior, dan pemain asing yang berkualitas.

Dari lima pemain inti di lini belakang (4 bek plus 1 penjaga gawang), dua di antaranya adalah pemain tim nasional aktif, yaitu Andritany Ardhiyasa di posisi kiper dan Rezaldi Hehanusa di pos bek kiri. Sementara dua personil lainnya merupakan pemain senior dengan banyak jam terbang di level tertinggi sepakbola nasional, yaitu Ismed Sofyan (bek kanan) dan Maman Abdurahman (bek tengah). Sementara itu, satu posisi bek tengah diisi oleh pemain asing yang masuk ke dalam Best XI di tahun tersebut, yaitu William Pacheco pada 2017 dan Jaimerson Xavier pada 2018.

Tidak berhenti sampai di situ, di lini tengah sampai depan, pemain-pemain lainnya tidak ‘malas’ untuk bertahan. Pemain-pemain seperti Riko Simanjuntak, Ramdani Lestaluhu, Sandi Sute, Rohit Chand, Novri Setiawan, hingga Marko Simic bukan tipikal pemain yang hanya aktif menyerang. Mereka juga memiliki determinasi tinggi dalam bertahan, baik itu dalam melakukan pressing atau marking terhadap lawan, hingga melakukan tracking back saat transisi negatif. Hal ini yang cukup membedakan Persija pada musim 2017 dan 2018 dengan musim-musim sebelumnya.

Meski demikian, kunci kokohnya pertahanan Persija terletak pada sistem pertahanan secara keseluruhan. Ketika bicara sistem, maka hal tersebut bukan hanya bicara tentang kemampuan individual setiap pemain, tetapi juga terkait dengan sebelas pemain di atas lapangan secara kolektif; bagaimana mereka membentuk blok pertahanan, bagaimana mereka melakukan penjagaan terhadap lawan, bagaimana mereka mengontrol ruang, dan seterusnya. Sistem itulah yang menjadi inti kekuatan dari pertahanan kokoh Persija.

Prinsip Umum: compact, man-oriented, arahkan lawan ke tepi

Sistem pertahanan yang dibentuk Persija memiliki tiga prinsip umum. Prinsip-prinsip berikut merupakan pondasi bagi Persija dalam bertahan. Prinsip tersebut nantinya akan disesuaikan dengan blok pressing Persija, baik dalam blok tinggi, menengah, maupun rendah.

Prinsip pertama adalah pertahanan yang rapat atau compact, baik secara vertikal atau horizontal. Tujuan utamanya adalah membatasi area permainan lawan seminimal mungkin dan melindungi area-area yang strategis. Dengan bertahan secara compact, lawan akan sulit dalam memiliki opsi untuk melakukan progresi serangan. Dengan begitu, maka lawan dapat lebih mudah kehilangan penguasaan bola.  

Kerapatan vertikal terlihat ketika Persija bermain dengan blok pressing tinggi, maka pemain belakang juga ikut berada di posisi yang lebih tinggi. Begitu juga sebaliknya, ketika Persija bermain dengan blok yang lebih rendah, pemain tengah dan depan juga menyesuaikan dengan rendahnya pertahanan tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir celah atau ruang antarlini yang bisa dieksploitasi lawan.

Sedangkan kerapatan horizontal terlihat ketika Persija banyak melakukan proteksi di area yang strategis, seperti area tengah maupun half-space. Ketika lawan mencoba menyerang lewat sayap, pergeseran blok Persija juga cukup terjaga. Dalam situasi tersebut biasanya Persija akan menutup 4 koridor terdekat dan membiarkan area sayap di sisi jauh terbuka. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kerapatan horizontal dan menutup area strategis yang lebih mungkin dieksploitasi lawan.
Selanjutnya, Persija dalam melakukan pressing akan melakukan penjagaan zonal dengan orientasi perorangan atau man-oriented. Maksudnya, pemain Persija akan tetap melakukan penjagaan sesuai zona-nya masing-masing, tetapi bertanggung jawab atas pemain lawan yang ada di zona tersebut. 

Orientasi ini cukup banyak terlihat di lini tengah dan belakang. Mengingat Persija dan mayoritas tim di liga bermain dengan varian formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1, terdapat banyak potensi terjadinya situasi 3v3 di lini tengah atau 4v3 di lini belakang. Hal tersebut membuat Persija melakukan penjagaan zonal dengan orientasi perorangan. Biasanya terdapat satu pemain yang bebas (tidak melakukan penjagaan perorangan) untuk melakukan cover sebagai antisipasi apabila lawan melakukan pertukaran posisi.

Prinsip lainnya adalah mengarahkan lawan ke area tepi. Tujuan dari prinsip ini adalah membatasi opsi progresi lawan dengan menggunakan garis tepi (touchline) sebagai ‘pemain bertahan tambahan’. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Ilustrasi sederhananya, seorang pemain yang berada di area tengah atau half-space dalam kondisi bebas (tanpa penjagaan) memiliki akses progresi 360 derajat. Sedangkan, pemain yang ada di area tepi opsinya menjadi terbatas menjadi hanya separuhnya, atau 180 derajat karena dibatasi oleh garis tepi. Konsekuensinya, karena opsi yang terbatas, pemain lawan lebih mudah untuk ditekan dan kehilangan bola. 

Oleh karena itu, Persija sebisa mungkin mengarahkan lawan agar bermain ke area tepi dengan menutup jalur progresi lewat area tengah dan cenderung ‘membiarkan’ pemain lawan di area sayap bebas untuk sementara. Ketika lawan sudah berada di area sayap, Persija siap untuk melakukan tekanan dan memaksa lawan kehilangan bola.

Mekanisme pressing dalam blok tinggi

Pressing blok tinggi menjadi pilihan Persija, terutama ketika bermain di kandang dan mengincar tiga angka. Ketika menggunakan blok tinggi, Persija cukup proaktif untuk melakukan tekanan secara agresif dan mengarahkan lawan ke sisi tertentu untuk kehilangan bola. 

Keuntungan memainkan pressing blok tinggi adalah jarak dengan gawang lawan yang relatif lebih dekat. Artinya, ketika Persija berhasil memenangkan bola di area lawan, maka jarak yang harus ditempuh pemain untuk mencapai area berbahaya lawan lebih dekat dibandingkan apabila Persija memenangkan bola di area permainan sendiri. Oleh karena itu, Persija dalam blok tinggi berusaha merebut bola secepat mungkin. Jika tidak memungkinkan, mereka akan paksa lawan melakukan bola-bola panjang tidak akurat ke depan untuk Persija kembali me-restart serangan.

Pada blok pressing ini, Persija kerap menekan dalam formasi 4-3-3, 4-2-3-1, atau 4-4-2, bergantung kepada bentuk build-up dari lawan. Meski secara formasi berbeda, tetapi prinsip umumnya tetap sama. Tiga pemain terdepan akan berada di antara empat bek lawan, sementara pemain di tengah melakukan penjagaan man oriented. Tujuan dari shape tersebut adalah menutup area tengah dan half-space.

Bentuk umum Persija dalam pressing blok tinggi

Trigger untuk melakukan pressing biasanya adalah ketika bola dioper ke salah satu bek tengah. Pemain nomor sembilan (striker), biasanya Marko Simic, aktif untuk mengarahkan lawan ke salah satu sisi lapangan.. Striker akan melakukan lari memutar (curved run) sehingga orientasi badannya mengarahkan lawan ke salah satu sisi. Tujuannya adalah untuk membatasi opsi dan area permainan lawan.

Sedangkan winger terdekat biasanya akan aktif melakukan tekanan kepada bek tengah bersama striker, sementara winger di sisi jauh lebih merapat agar menjaga kerapatan horizontal sekaligus mempertahankan akses pressing ke pemain terdekat.

Eksekusi Persija dalam pressing blok tinggi

Di lini tengah, tiga gelandang melakukan penjagaan perorangan dan menutup akses lawan bermain secara konstruktif. Hal ini yang menyebabkan shape Persija berubah menjadi 4-2-3-1 atau 4-4-2, karena tiga gelandang akan melakukan penjagaan sesuai dengan bentuk gelandang lawan, yang membuat salah satu gelandang akan mengikuti gelandang lawan yang drop ke lini pertahanannya. 

Pemain tengah turut melakukan pressing ketika pemain yang dijaganya turun ke lini pertama

Di lini belakang, pemain bertahan mempertahankan kerapatan vertikal dengan garis pertahanan tinggi.  Empat pemain terakhir cenderung mempertahankan bentuk backfour agar lawan tidak mudah mengeksploitasi ruang di belakang lini dengan umpan-umpan panjang. Untuk menyiasati hal ini juga, salah satu bek tengah (biasanya Maman) tampil sedikit ke belakang untuk menjadi sweeper.

Isu utama dalam mekanisme pressing di blok tinggi Persija adalah timing bagi winger dalam melakukan pressing ke bek tengah. Seringkali mereka terlalu cepat melakukan tekanan sehingga jalur umpan ke bek sayap justru terbuka dan menjadi akses bagi lawan melakukan progresi. Intensitas yang rendah dari No. 9 dan orientasi perorangan di lini tengah membuat bek tengah lawan memiliki opsi untuk melakukan progresi via dribble.

Mekanisme pressing dalam blok rendah/menengah

Pressing blok rendah/menengah banyak digunakan Persija di laga tandang melawan sesama tim papan atas. Dalam hal ini, Persija tampil lebih reaktif dan banyak menunggu di area permainan sendiri. Meski demikian, Persija tetap melakukan pressing dengan mengontrol area-area strategis tertentu dengan cara menutup akses lawan ke area-area tersebut.

Bentuk formasi Persija ketika melakukan pressing di blok menengah dan rendah umumnya adalah 4-1-4-1 atau 4-4-1-1. Blok pressing ini berfokus pada menutup seluruh koridor vertikal secara natural, sehingga menyulitkan lawan untuk mengeksploitasi salah satu koridor tertentu. Oleh karena itu, walaupun terkesan hanya menunggu, Persija tetap memiliki kontrol terhadap area permainan.

Bentuk umum Persija dalam pressing blok rendah

Dalam eksekusinya pemain No. 9 akan lebih banyak di depan dan tidak banyak terlibat dalam blok pressing. Tujuannya adalah sebagai target utama ketika transisi untuk serangan balik. Dalam beberapa kasus pemain No. 9 (dan 10 dalam 4-4-1-1) turut aktif mengarahkan lawan ke pinggir sekaligus menutup akses lawan untuk melakukan sirkulasi bola ke belakang.

Berbeda dengan blok tinggi, kedua winger pada blok menengah dan rendah akan banyak turun sejajar dengan lini tengah. Bahkan keduanya tidak jarang turut melakukan tracking back terhadap bek sayap lawan yang melakukan overlap. Ketika lawan memegang bola di area tengah, keduanya akan cenderung merapat ke half-space masing-masing. Hal ini bertujuan untuk memancing lawan ke area sayap, baru kemudian mereka melakukan pressing di area tersebut. Winger sisi jauh akan menyesuaikan untuk menjaga kerapatan horizontal dengan merapat ke half-space sisi jauh bahkan area tengah.

Persija dalam blok rendah

Tiga gelandang akan tetap mempertahankan prinsip man-oriented-nya. Umumnya dua gelandang No. 8 akan aktif membantu winger dalam melakukan pressing di area sayap masing-masing. Untuk itu No. 8 sisi jauh akan membantu meng-cover area tengah.

Staggering antara gelandang No. 8 dengan winger dalam blok rendah

Kekurangan dari blok menengah dan rendah ini lebih kepada struktur yang cenderung flat sehingga membuat beberapa ruang antarlini maupun celah antar pemain terbuka. Hal ini menuntut kedisiplinan pemain lini tengah untuk melakukan marking sekaligus menjaga shape Persija secara umum. Selain itu, struktur yang flat juga membuat pemain di lini tengah menempuh jarak yang lebih jauh ketika hendak melakukan serangan balik. Hal ini yang membuat penyerang terkadang harus menahan bola lebih lama.

Kesimpulan

Pertahanan Persija menjadi instrumen yang esensial dalam keberhasilan Persija di musim 2018. Kualitas individu personel tentu sangat menentukan dalam momen-momen tertentu, seperti dalam situasi 1v1 ataupun situasi di mana kiper harus melakukan penyelamatan penting.

Di atas itu semua, mekanisme Persija untuk bertahan sebagai tim patut diapresiasi. Baik itu dalam perencanaan hingga komitmen untuk eksekusinya. Ditambah dengan konsistensi melakukan hal tersebut selama satu musim penuh di 7 pertandingan Piala Presiden, 8 laga di AFC Cup, dan 34 kontestasi di Liga 1. Secara umum pertahanan Persija memiliki bentuk yang relatif sulit ditembus lawan karena dapat menutup area-area strategis yang bisa dieksploitasi lawan serta memaksa lawan untuk kehilangan bola.

Share post :
387 views

Leave a Reply