Preview Final Piala Indonesia: Persija Jakarta vs PSM Makassar

Rivalitas historis, aroma balas dendam, hingga pembuktian menjadi bumbu dari laga puncak yang mempertemukan dua tim berkostum merah ini. Persija dan PSM akan saling jegal dalam pertarungan dua leg di Jakarta dan Makassar. Seperti apa perjalanan kedua tim menuju partai puncak, hitung-hitungan untung rugi siapa tuan rumah leg pertama dan kedua, serta pembahasan mengenai pertandingan di leg pertama akan dibahas pada tulisan ini.

 

Perjalanan menuju final

Piala Indonesia edisi kali ini terhitung sebagai salah satu turnamen terpanjang. Partai pertama yang menandai kick-off turnamen ini digelar pada 8 Mei 2018, mempertemukan juara bertahan, Persibo Bojonegoro melawan Madura United. Dengan final yang akan dilaksanakan pada 21 dan 28 Juli 2019, artinya penyelenggaraan turnamen ini memakan waktu 446 hari, atau 1 tahun 2 bulan dan 20 hari. 

Persija memulai langkahnya di babak pertama dengan mengalahkan Persikabo 2-0. Di babak yang sama, PSM tanpa keringat berhasil melaju setelah lawannya, Sidrap United didiskualifikasi akibat mengundurkan diri dari Liga 3.

Pada babak kedua, Persija kembali bertemu tim asal Bogor. Kali ini Macan Kemayoran menang tipis 1-0 atas Bogor FC. Sementara PSM harus bersusah payah mengalahkan Persiter Ternate lewat babak adu penalti. 

Memasuki babak ketiga, pertandingan mulai dilakukan dalam dua leg. Pada babak ini Persija menyingkirkan 757 Kepri Jaya FC lewat agregat 9-3. Pada bagan yang lain, PSM menyingkirkan Kalteng Putera lewat kemenangan di dua leg dengan agregat 3-1.

Pada babak 16 besar, Persija menyingkirkan sesama kontestan Liga 1, PS TIRA (yang sudah merger dengan Persikabo) dengan agregat 4-2. Sementara PSM berhadapan dengan Perseru (belum menjadi Badak Lampung FC). PSM mengalahkan tim yang sedang dalam transisi kepemilikan itu dengan agregat telak, 12-0.

Pada babak perempatfinal, kedua finalis menemui lawan yang cukup tangguh, di mana keduanya berhasil lolos setelah unggul agresivitas gol tandang. Persija menyingkirkan Bali United sementara PSM menyisihkan Bhayangkara FC.

Pada babak semifinal, Persija bertemu Borneo FC. Setelah unggul tipis di leg pertama lewat gol telat Bambang Pamungkas, pada leg kedua giliran veteran lainnya, Ismed Sofyan yang mencetak gol dan mengamankan skor 1-1 di Samarinda. Di sisi lain, PSM yang sudah unggul 1-0 di leg pertama atas Madura United sempat ketar-ketir setelah Madura berhasil membalikkan agregat dengan unggul 2-0. PSM akhirnya lolos setelah gol telat Aaron Evans memberikan PSM gol tandang yang sangat berharga.

 

Final dengan dua leg, siapa lebih untung?

Format baru Final Piala Indonesia yang memainkan dua laga di masing-masing kandang kontestan memberikan satu pendekatan baru dibanding final-final sebelumnya yang kerap menampilkan satu partai puncak. Format baru ini tentu menampilkan sesuatu yang menarik. Hal ini tidak lepas dari anggapan umum bahwa tuan rumah memiliki keuntungan tersendiri dalam suatu pertandingan olahraga, mulai dari dukungan suporter hingga adaptasi yang sudah maksimal terhadap kondisi dan atmosfir lapangan. Dengan bertanding di masing-masing kandang, kedua kontestan memiliki ‘jatah’ keistimewaan tersebut.

Pada umumnya, tim yang bermain sebagai tim tamu pada leg pertama dianggap memiliki keuntungan. Tim yang berkandang pada leg kedua memiliki dua keuntungan dengan mengetahui konteks pertandingan sebelumnya, sehingga persiapan taktis bisa lebih disiapkan. Ditambah dengan mendapatkan privilege bermain di kandang. Oleh karena itu, hasil imbang atau kekalahan tipis masih bisa dianggap hasil yang menguntungkan, terlebih apabila dapat mengamankan gol tandang atau bahkan meraih kemenangan. Pertandingan kandang leg kedua juga dapat memberikan motivasi tersendiri seperti ketika Liverpool mengalahkan Barcelona 4-0 meski menelan kekalahan 0-3 di leg pertama.

Meski begitu, hal tersebut tidak serta merta membuat berkandang di leg 2 memberikan keuntungan absolut. Terkadang keuntungan tersebut dikonstruksi sedemikian rupa untuk membentuk narasi kepahlawanan suporter dan pemain. Seperti kisah-kisah pahlawan yang kalah dulu untuk kemudian membalikkan keadaan dan menang atas musuhnya. Bertandang di leg kedua juga berarti ada kesempatan lebih untuk mencetak gol tandang, di mana leg kedua dapat dimainkan lebih panjang dengan adanya babak tambahan. 

Menariknya, catatan di Piala Indonesia tahun ini menunjukkan angka yang sama besarnya terhadap kelolosan tim yang berstatus tuan rumah di leg pertama dengan yang tidak. Sejak Piala Indonesia dimainkan dalam dua leg pada babak 32 besar, tuan rumah leg pertama yang lolos ke babak selanjutnya adalah sebanyak 15 kali atau 50%, alias sama besarnya dengan tim yang menjadi tuan rumah di leg kedua. Rinciannya adalah 7 tim pada babak 32 besar, 5 tim pada babak 16 besar, 1 tim pada babak perempatfinal, dan 2 tim pada babak semifinal. Kedua tim yang lolos ke final hari ini juga merupakan tuan rumah leg pertama pada babak sebelumnya.

Hitung-hitungan tadi memang harus dilengkapi dengan konteks lain, semisal kekuatan lawan, status “kandang” yang kerap bukan merupakan kandang asli tim yang bersangkutan, hingga komposisi tim yang kerap berubah akibat lamanya penyelenggaraan. Apapun itu, pertandingan tetap merupakan kontestasi yang 50:50. Tidak ada hitungan yang benar-benar pasti sebelum pertandingannya benar-benar berakhir, melainkan sekadar analisis dari apa yang sudah terjadi untuk mempersiapkan yang akan terjadi selanjutnya.

Pratinjau taktikal leg pertama

Melihat kalkulasi di atas, pertandingan di leg pertama menyajikan pertarungan yang umumnya memiliki karakteristik tertentu. Tim tuan rumah, dengan keuntungan bermain di kandang akan sangat mungkin untuk bermain menyerang demi mengamankan gol cepat. Sementara tim tamu juga tentu ingin mencuri gol tandang. Pertandingan yang terbuka akan sangat mungkin terjadi mengingat skor secara keseluruhan masih 0-0. Meski mungkin tampil bertahan, tim tamu tidak akan sepenuhnya bertahan mengingat pertandingan ini merupakan kesempatan terakhir mereka mencuri gol tandang guna mempermudah langkah di leg kedua.

Sayangnya, kedua tim akan tampil tanpa kekuatan terbaiknya, terutama Persija yang sedang diterpa badai cedera. Andritany Adhiyassa, Ramdani Lestaluhu, dan Steven Paulle akan absen sementara kondisi Fitra dan Bruno masih meragukan. Di kubu PSM, Wiljan Pluim sempat menderita cedera engkel ketika melawan Persebaya dan diragukan tampil di final. Meski bisa saja dipaksakan tampil, kemampuannya tentu sulit untuk dimaksimalkan.

Persija dan PSM memiliki kesamaan dalam hal kekuatan di lini tengah dan sektor sayap. Di lini tengah Persija, ada Rohit Chand dan Sandi Sute yang memiliki nilai lebih berupa etos kerja dan visi bermain yang baik. Di sisi lain, PSM (minus Pluim) masih memiliki Mark Klok dan Rizky Pellu yang juga sama ngototnya. Pertarungan alot sangat mungkin terjadi di lini tengah, apalagi jika melihat formasi 4-3-3 Persija melawan 4-2-3-1 PSM, secara natural akan terdapat duel 3v3 di lini tengah. 

Pada sektor bek, Persija kemungkinan menurunkan kuartet bek lokal; Ismed, Ryuji Utomo, Maman Abdurahman, dan Rezaldi Hehanusa. Sedangkan PSM kemungkinan menurunkan Asnawi Mangkualam, Evans, Abdul Rahman, dan Taufik Hidayat atau Beny Wahyudi. Lini belakang ini akan coba untuk dieksploitasi oleh lini depan masing-masing tim. Persija punya sayap murni yang memiliki kecepatan dan dapat berduel 1v1 seperti Riko Simanjuntak dan Yogi Rahardian. Sementara Marko Simic, dengan 11 gol musim ini, akan memberikan ancaman bagi pertahanan lawan di area sentral. Di kubu lawan, kecepatan M. Rahmat menjadi satu hal yang mesti diwaspadai oleh pertahanan Persija. Begitu juga dengan pergerakan Ferdinand Sinaga dan Guy Junior yang cukup cair dan tidak mudah ditebak. Jika buntu, PSM masih punya Zulham Zamrun dan Bayu Gatra.

Kesimpulan

Pertandingan final Persija melawan PSM merupakan final yang sangat pantas. Selama dua-tiga tahun terakhir keduanya merupakan langganan papan atas di Liga 1, termasuk musim lalu di mana Persija finis sebagai juara dan PSM satu tingkat dibawahnya. Keduanya juga merupakan wakil Indonesia di kompetisi Asia musim ini. Meski berganti pelatih, kekuatan tim tetap sama. Rekor pertamuan yang cukup ketat dalam empat pertemuan terakhir juga mengisyaratkan hal tersebut, tiga pertandingan berakhir imbang dan hanya sekali berakhir bagi kemenangan tipis PSM 1-0 melawan sepuluh pemain Persija. Pertandingan nanti dapat menjanjikan duel yang ketat.

Melihat situasi leg pertama di mana Persija menjadi tuan rumah, dapat diekspektasikan bahwa Macan Kemayoran akan tampil menyerang dan cukup terbuka. Penguasaan lini tengah Persija cukup baik saat melawan PS TIRA kemarin, akan tetapi tetap perlu mewaspadai serangan dari PSM yang tentu tidak akan melepaskan kesempatan untuk mengambil gol tandang.

Share post :

Leave a Reply