Plus Minus Permainan Persija Jelang Liga 1

Kick-off kompetisi kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia, Go-jek Traveloka Liga 1 akan segera dimulai. Persija akan mengawali musim ini dengan bertandang ke kandang (sementara) Persiba Balikpapan di Stadion Gajayana, Kota Malang pada hari Minggu (16/4).

Persiapan Menuju Liga 1

Di tengah ketidakpastian kompetisi sebelum mengarungi Liga 1, Persija telah menjalani pra-musim yang lumayan panjang, terhitung sejak Januari 2017 lalu. Sebagai langkah awal, manajemen Persija memutuskan untuk tidak meneruskan kerjasama dengan M. Zein Al Hadad, atau biasa dipanggil Coach Mamak sebagai pelatih kepala. Persija lalu menunjuk Stefano Cugurra Rodrigues alias Teco sebagai arsitek anyar Macan Kemayoran. Pelatih asal Brasil yang pada musim sebelumnya menukangi Siam Navy di Liga Thailand itu dikontrak selama satu musim.

Penunjukkan Teco sebagai pelatih kepala sempat menimbulkan keraguan di kalangan The Jakmania. Pasalnya, track record Teco sebelumnya selama berkarier di Thailand cenderung biasa-biasa saja. Di sana, Teco lebih banyak menangani tim papan tengah. Prestasi tertingginya adalah membawa Chiangrai sebagai peringkat 9 Thai League. Meski begitu, Teco mempunyai nilai plus berupa pengalaman di Liga Indonesia. Teco adalah pelatih fisik Persebaya pada 2003-2007, termasuk ketika menjuarai Divisi Utama 2004. Teco juga menguasai Bahasa Indonesia, bahkan beristrikan seorang perempuan asal Surabaya. Karena itu Teco dinilai tidak perlu banyak beradaptasi dengan sepakbola Indonesia.

Selain itu Persija juga memperkuat tim dengan menambah amunisi di bursa transfer. Rudi Widodo, Sandi Sute, Jefri Kurniawan, Ryuji Utomo, Pandi Lestaluhu, M. Rasul, Irfandy Alzubeidy, Luiz Junior, Arthur Irawan, M. Hargianto, dan Rohit Chand resmi menjadi punggawa Persija di musim 2017 ini.

Persija kemudian mengikuti berbagai turnamen pemanasan. Turnamen-turnamen yang diikuti Persija adalah Trofeo Bhayangkara, Piala Presiden, serta Cilacap Cup. Selain itu, Ismed Sofyan dkk juga menggelar beberapa pertandingan persahabatan dengan tim-tim di sekitar Jakarta. Persikad Depok, Persita Tangerang, Cilegon United, PS TNI, dan Timnas Indonesia U-22 adalah lawan-lawan uji tanding Persija di pra-musim.

Hanya saja hasil yang diraih Persija belum bisa dibilang bagus. Setelah menjadi juru kunci Bhayangkara Trofeo, Persija gagal lolos dari fase grup Piala Presiden. Ketika turun di ajang Cilacap Cup, Kesebelasan yang dulu bermarkas di Menteng ini harus puas sebagai juara tiga. Setali tiga uang dengan hasil di ujicoba. Satu-satunya kemenangan “meyakinkan” adalah ketika mengalahkan Persikad 3-1. Selain itu Persija hanya mampu menang tipis 1-0 atas Cilegon United, dan imbang tanpa gol menghadapi Persita, Timnas U-22, dan PS TNI.

Minim Gol

Secara keseluruhan Persija memainkan 12 pertandingan dengan total 973 menit selama pra-musim. Sayangnya, taring Macan Kemayoran seakan tumpul dengan hanya melesakkan 7 gol. Dari 12 laga tersebut, ada 7 pertandingan dimana Persija gagal mencetak gol. Catatan kurang baik ini seakan mengulang tragedi di Indonesia Soccer Championship (ISC) tahun lalu dimana Persija menjadi tim dengan jumlah gol paling minim seantero kompetisi.

Satu hal yang perlu diperhatikan, persoalan minim gol bukanlah persoalan lini depan semata. Bukan juga sekadar persoalan ada tidaknya playmaker, suplai bola yang kurang, dan sebagainya. Dalam kasus ini, yang paling utama harus disoroti adalah sistem permainan Persija. Terutama dalam fase menyerang (menguasai bola).

Mulai dari formasi. Susunan awal yang kerap dipakai Teco adalah 4-3-3. Pada format 4-3-3, selain kiper dan empat back four, tiga gelandang diisi oleh satu gelandang bertahan dan dua gelandang sentral. Lini depan diisi oleh seorang penyerang tunggal yang dibantu dua winger di kedua sisi.

Dari formasi awal mungkin sudah terlihat bahwa Persija tidak memakai gelandang serang. Apabila Teco tidak mempu menerapkan sistem komunikasi dan pemahaman posisi yang baik, formasi seperti ini bisa membuat aliran bola Persija yang hanya berputar dari samping, ke belakang, ke sisi lain, dan seterusnya. Ini biasa disebut dengan U-Shape. Dalam situasi ini Persija malah akan sulit melakukan progresi lewat tengah yang notabene adalah daerah strategis dalam melancarkan serangan sekaligus berbahaya bagi lawan.

Meski begitu, 4-3-3 juga memiliki keuntungan tersendiri. Disini, winger punya ruang lebih untuk berkreasi.  Dalam banyak kasus, winger bisa masuk lebih ke dalam ke area half-space, untuk kemudian menimbulkan prahara keretakan rumah tangga lawan, memberikan umpan cuek manja, atau melakukan tendangan SLJJ jika memungkinkan.

Gambar di bawah adalah contoh ilustrasi bagaimana Persija bisa memanfaatkan formasi 4-3-3. Disini bek kanan (RB) dan bek kiri (LB) melakukan overlap di area flanks, sementara dua winger (RW dan LW) masuk lebih dalam ke area half-space. Juga ada salah satu gelandang (CM) yang ikut naik memperbanyak opsi serangan di lini depan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, kedua winger ini dibantu oleh fullback yang melakukan overlap. Dengan ini Persija bisa mempunyai 4-5 orang di lini depan. Opsi untuk progresi bisa lebih banyak. Pergerakan gelandang yang dinamis juga bisa membantu hal ini.

Formasi 4-3-3 yang dipakai Persija memang menyiratkan suatu permainan menyerang. Lantas kenapa Persija hanya mencetak tujuh gol? Dalam aplikasi tentu berbeda karena pelatih punya banyak faktor, seperti kualitas pemain dan lain sebagainya. 4-3-3 yang dipakai oleh Teco berbeda dengan 4-3-3 yang menjadi andalan Klopp di Liverpool, misalnya.

Secara umum, ada dua hal yang harus digarisbawahi menjadi penyebab Persija minim gol selama pra-musim. Pertama adalah struktur permainan. Kedua adalah transisi.

Struktur permainan seringkali menjadi masalah Persija ketika membangun serangan. Ambil contoh ketika build-up Persija menggunakan bola-bola panjang. Bola ini diarahkan kepada striker Persija yang kebetulan memang ahli dalam duel udara, seperti Bambang Pamungkas, Rudi Widodo ataupun Luiz Junior. Variasi lain dari bola panjang ini adalah mengarahkannya ke sisi sayap (flanks) di belakang lini pertahanan lawan. Bola ini diharapkan bisa dimanfaatkan winger-winger Persija semacam M. Rasul, Umai, ataupun Pandi.

Letak permasalahan bukan di bola panjangnya. Namun struktur tim kerap belum siap untuk melakukan support atau merebut bola kedua. Alih-alih membuat peluang, striker Persija dengan mudah terebut bolanya bahkan terperangkap offside.

Persoalan struktur juga kerap membuat antarlini Persija terjadi diskoneksi. Antara satu lini dengan lainnya tidak terhubung dengan baik. Alhasil, pemain hanya bisa melakukan umpan putus asa ke depan dan berharap peruntungan atau seperti yang telah disebutkan tadi, sirkulasi membentuk huruf “U” tanpa ada penetrasi yang berarti. Dalam hal ini, struktur gelandang maupun penyerang yang terlalu “kaku” dan minim pergerakan tanpa bola serta tidak adanya inisiatif memanfaatkan ruang antarlini sangat merugikan.

Disini ada satu ilustrasi dimana terjadi diskoneksi antara lini tengah dan depan. Tidak ada pemain yang berperan sebagai konektor alias penghubung di ruang antarlini (lingkaran). Hal ini membuat pemain kesulitan mengalirkan bola ke lini depan.

Persoalan transisi bertahan ke menyerang juga belum bisa dibilang bagus. Hal ini utamanya terjadi di sektor sayap, dimana fullback terlalu lambat melakukan overlap untuk men-support pembawa bola. Sehingga bola harus ter-delay dan tidak menghasilkan sesuatu yang berarti.

Pressing dan Peningkatan dari Musim Lalu

Persija tetap menunjukkan tren peningkatan seiring berjalannya waktu. Walaupun masih minim gol Persija tetap menampilkan permainan yang lebih baik dibanding musim lalu. Ada beberapa hal yang menjadi kekurangan di musim lalu, namun pada pra-musim ini terlihat mulai ada perbaikan.

Pada musim lalu Persija sangat sulit ketika ingin melakukan progresi lewat sisi flanks. Salah satunya dikarenakan para pemain tidak bisa memanfaatkan are half-space sebagai akses untuk membantu sirkulasi bola ke area tengah yang lebih strategis. Pada musim lalu fullback dan winger sangat mudah terisolasi akibat tidak ada orang ketiga sebagai opsi tambahan untuk menjaga sirkulasi.

Gambar 1

Pada gambar satu terlihat bahwa opsi pemain pemegang bola sangat terbatas. Pemain yang berada di depan tidak berada dalam posisi yang baik karena terkena cover shadow pemain lawan. Meski unggul jumlah 2v1 namun progresi positif hampir mustahil dilakukan. Hal ini sangat sering terjadi pada musim lalu. Bandingkan dengan gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2

Pada situasi di gambar 2, ada orang ketiga yang memberikan opsi tambahan untuk menjaga progresi agar tetap positif. Selain itu, posisi si orang ketiga ini berada di aera half-space. Area ini bisa menjadi area strategis untuk kemudian mengalirkan bola ke area yang lebih berbahaya.

Persija juga berani melakukan pressing di area lawan. Pemain sayap juga bisa diandalkan untuk menjaga struktur tim agar tetap rapat. Striker pun juga tidak malas untuk melakukan tekanan kepada bek lawan.

Kesimpulan

Persija telah menjalani masa persiapan tidak kurang dari tiga bulan. Meski secara hasil belum memuaskan, namun peningkatan-peningkatan di berbagai aspek mulai terlihat. Satu hal yang penting adalah bagaimana peningkatan-peningkatan tersebut bisa secara konsisten ditampilkan Persija dalam 90 menit pertandingan sepanjang musim. Faktor non-teknis seperti mes dan tempat latihan, berkandang tidak jauh dari Jakarta dan masuknya investor baru juga menjadi suntikan moril yang cukup signifikan.

Satu hal lagi. Pra-musim seperti ini mengingatkan pada musim 2005. Ketika itu, Persija tampil kurang memuaskan pada masa persiapan, termasuk gagal menjuarai Piala Emas Bang Yos. Akan tetapi di akhir musim Persija mampu berjuang hingga akhir dengan masuk final di dua kompetisi sekaligus, Liga dan Copa Indonesia. Meski gagal meraih satupun trofi, ini juga mengingatkan kita bahwa tampil buruk di pra-musim belum tentu hasilnya buruk di akhir musim. Target untuk finis di lima besar Liga 1 nanti rasanya cukup realistis untuk menebus keterpurukan di ISC musim lalu.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
17 views

Leave a Reply