Pisau Bermata Dua Milik Persija Jakarta

Layaknya sebuah pisau yang dapat menjadi senjata mematikan, Ismed di Persija pun demikian. Umpan terukur, tendangan jarak jauh, hingga tendangan bebas yang dilepaskan sering kali merobek pertahanan lawan sekaligus menjadi penentu hasil pertandingan.

Bergabung pada 2002 setelah sebelumnya memperkuat Persijatim, bakat Ismed muda terus terasah di Persija Jakarta. Sudah tak terhitung jumlah gol Bambang Pamungkas atau penyerang Persija lainnya bermula dari umpan silang Ismed yang memang merupakan kekuatan utamanya. Tak terhitung pula gol yang dicipta dari tendangan bebas dan tendangan jarak jauh. Tentu tak akan terlupakan gol ke gawang Persik Kediri pada 29 Maret 2007. Di stadion Lebak Bulus, sepakan yang dilepas dari tengah lapangan menghujam sudut kanan gawang Persik pada menit ke-24. Gol ini sekaligus menjadi gol terbaik ASEAN pada tahun tersebut.

Kecintaan Ismed pada Persija juga tidak perlu diragukan. Sempat dikabarkan akan meninggalkan Ibu Kota saat Persija berada pada kondisi yang tidak menyenangkan, nyatanya ia tetap bertahan. Satu-satunya alasan bertahan kala itu adalah rasa cintanya kepada Persija yang begitu besar.

“Ya, pada tahun 2013 selangkah lagi saya terbang ke Palembang untuk gabung dengan Sriwijaya Fc. Tetapi, itu semua saya urungkan karena kecintaan saya yang begitu besar kepada Persija”. Dikutip dari CNN Indonesia.

Kini, setelah 16 tahun di Persija, tidak banyak yang berubah dari permainan Ismed. Kemampuannya nampak tetap terjaga di usia yang semakin menua. Satu yang berubah adalah hilangnya emosi yang sering kali meluap-luap. Berganti permainan matang dan nampak tenang di atas lapangan. Tak ada lagi kesalahan serupa yang dilakukan saat memperkuat Timnas pada Piala Asia 2007. Sesekali luapan emosi itu datang, namun di saat yang memang diperlukan.

Namun, layaknya sebuah pisau, Ismed Sofyan bisa saja menjadi bahaya bagi Persija Jakarta.

Meski kini Ismed masih terus berlari dan seakan menolak tua, tapi pertambahan usia adalah hal yang pasti. Suatu yang pasti juga jika penurunan kondisi fisik dan kemampuan permainan mengiringi. Menjadi bahaya ketika saatnya tiba, namun belum ada pemain lain yang mampu menjadi senjata pengganti.

Sebenarnya, sejak beberapa musim kebelakang telah dipersiapkan pemain-pemain yang kelak menjadi senjata berikutnya di sisi kanan Persija Jakarta. Sisi kekuasaan Ismed Sofyan yang cepat atau lampat pasti ditinggalkan. Mulai dari Hasyim Kipuw yang dating dari kompetisi internal Persija, Alfin Tuasalamoni, hinggal Syaiful Indra Cahya pernah datang menjadi pesaing dan kelak dipersiapkan menjadi pengganti. Namun nyatanya semua memilih pergi. Bukan berarti permainan mereka buruk. Hanya saja menit bermain dan pengalaman yang mereka butuhkan sebagai pemain muda rasanya sulit didapat ketika harus bersaing dengan Ismed Sofyan.

Musim ini, Marko Kabiay kabarnya juga memilih pergi. Tersisa pemain serba bisa semisal Vava Yagalo dan Novri Setyawan yang sewaktu-waktu dapat mengisi posisi Ismed sewaktu dibutuhkan. Lagi-lagi ini pertanda bahaya.

Santer kabar yang menghubungkan Marckho Sandy Meraudje, mantan pemain Sriwijaya FC, dengan Persija. Menarik dinanti kebenarannya. Jika benar adanya, akankah Marckho Sandy yang merupakan pemain inti di klub sebelumnya dapat menjadi pesaing serius Ismed Sofyan. Atau bukan tidak mungkin Marckho Sandy adalah pemain yang akan terus ditempa dan diasah untuk menggantikan Ismed Sofyan ketika saatnya tiba.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
45 views

Leave a Reply