Mewahnya Pertahanan Persija dari Masa ke Masa.

Setiap tahunnya, Persija Jakarta di isi oleh nama-nama besar pemain yang berposisi bek. Mulai dari tahun 1980-an kita mengenal Tony Tanamal, masuk tahun 2000 ada nama Nur Alim hingga sekarang Persija memiliki Gunawan Dwi Cahyo.

sepakbolajakarta.com – Musim ini Persija Jakarta memiliki kemewahan khusus untuk barisan lini belakang. Ada nama William Pacheco, Maman Abdurrahman, Rezaldi Hehanussa, Vava Mario Yagalo, Gunawan Dwi Cahyo, Ismed Sofyan hingga Ryuji Utomo, pemain yang baru saja bergabung dengan Persija musim ini dari Arema FC. Bahkan dalam turnamen Torabika Soccer Championship 2016 musim lalu, Persija disebut sebagai tim yang memiliki pertahanan terbaik karena solidnya lini belakang Persija.

Tapi, jika kita membahas tentang lini pertahanan Persija Jakarta. Persija memang sedari dulu bisa dikatakan mempunyai catatan  sejarah pemain-pemain berkelas yang pernah mengawal pertahanan Persija. Kali ini, saya mencoba merangkum beberapa deretan gabungan pemain top dalam menjaga pertahanan Persija di kurun waktu 16 tahun terakhir.

BENTENG KOKOH PERSIJA DI MILENIUM AWAL.

Foto kesebelasan Persija Jakarta tahun 2001.

Mari sejenak bernostalgia kurang lebih 16 tahun yang lalu. Tahun 2001, Persija Jakarta mempunyai daftar pemain dengan nama-nama besar dengan kualitas pertahanan cap jempolan seperti Nur Alim, Budiman Yunus, Antonio Claudio asal Brasil, Aris Indarto, Joko Kuspito, Anang Ma’ruf dan Warsidi. Nama-nama yang disebutkan tersebut adalah nama-nama pemain yang hampir semuanya pernah merasakan seragam Timnas Indonesia.

Nama besar dan kualitas mumpuni di lini pertahanan Persija Jakarta saat itu juga sukses membawa Persija Jakarta menjadi juara liga di tahun 2001. Apalagi, pemain-pemain belakang saat itu juga turut berkontribusi dalam urusan mencetak gol. Contoh saja Antonio Claudio, pemain berkebangsaan Brasil itu sering mencetak gol bagi Persija Jakarta walaupun posisinya adalah center back.

Postur tinggi besar selalu membuat ia memenangi duel-duel udara termasuk mencetak gol lewat servis bola mati dengan heading-nya. Salah satu gol yang paling di ingat dari Antonio Claudio adalah ketika ia menyarangkan bola ke gawang Persebaya Surabaya di semi final Liga Bank Mandiri tahun 2001 yang membawa Persija lolos ke babak final hingga akhirnya menasbihkan Persija Jakarta menjadi juara untuk ke 10 kalinya.

Nama-nama di atas memang ibarat benteng hidupnya Persija Jakarta pada masa itu. Tidak mudah lawan untuk dapat tembus pertahanan Persija terlebih zona kotak penalti Persija itu sendiri.  Setiap pemain belakang juga memiliki peranan masing-masing. Seperti contoh Budiman Yunus terfokus dalam me-man to man marking lawan, atau Joko Kuspito yang lebih mengamankan zone marking 1/3 akhir wilayah pertahanan Persija bersama Antonio Claudio.

Susunan lini pertahanan Persija Jakarta di tahun 2001 saat menghadapi PSM Makassar di partai final liga Bank Mandiri.

Apalagi jika pelatih Persija Jakarta saat itu Sofyan Hadi memasang 5 pemain belakang sekaligus dalam formasi 1-5-3-2. Nur Alim yang berposisi sebagai libero, Joko Kuspito yang diduetkan bersama Antonio Claudio menjadi center back, lalu fullback kanan di isi oleh Anang Ma’ruf dan fullback kiri posisi milik sang kapten, Budiman Yunus.

MAHALNYA PERTAHANAN MILIK MACAN KEMAYORAN.

4  tahun berselang selepas Persija Jakarta menjadi juara tahun 2001 pada musim 2005/2006. Persija di isi bek-bek terbaik liga Indonesia. Ada Hamka Hamzah, Charis Yulianto, Leonard Tupamahu, Ortizan Solossa, Aris Indarto, Ismed Sofyan juga Abanda Herman. Kembali, nama yang disebutkan adalah nama-nama generasi emas pemain Persija Jakarta di bidang pertahanan tim Macan Kemayoran yang juga hampir semuanya adalah pemain tim Nasional Indonesia terkecuali Abanda Herman yang berkebangsaan Kamerun.

Pose kesebelasan Persija Jakarta tahun 2006 saat menghadapi PSIM Jogjakarta.

Memasang 1-3-1-4-2 pilihan formasi taktik era Arcan Iurie atau 1-4-4-2 punya Sergei Dubrovin semasa mereka berdua melatih Persija. Membuat pertahanan Persija sangat dan sama kokohnya. Apalagi jika memasang 1-4-4-2 dengan Charis Yulianto bersama Hamka Hamzah dengan di apit dua fullback Ortizan Solossa di kiri dan Ismed Sofyan di fullback kanan. Faktanya, di masa banyaknya pemain bintang sewaktu itu terutama lini belakang. Membuat Persija berhasil mencapai final di dua hajatan berbeda, pertama di final Copa Dji Sam Soe 2005 dan final liga Djarum Indonesia di tahun 2006 walaupun hasilnya Persija harus puas menjadi runner up di kedua kompetisi tersebut.

Jika kita telusuri, memang Persija dalam rentang 16 tahun terakhir ini memiliki pemain-pemain bek yang kokoh dalam mengawal pertahanan Macan Kemayoran. Tim kebanggaan kita ini tidak pernah absen dengan nama-nama pemain top di lini belakang, Lalu musim 2010/2011 ada Precious Emuejeraye, Leo Saputra, Erick Bayemi, Muhammad Nasuha dan Hasim Kipuw.

Sebetulnya bukan hanya di tahun 2000-an saja Persija memiliki pertahanan dengan di isi bek-bek berkualitas. Tahun 1980-an, Persija memiliki bek-bek luar biasa seperti Didik Darmadi, Tony Tanamal dan Patar Tambunan. Persija memang memiliki pertahanan terbaik dari masa ke masanya. Tapi, sepakbola lagi bukan soal hanya bertahan tapi juga ada menyerang sebagai kunci mencetak gol dan mendapat poin kemenangan. Ini yang masih menjadi permasalahan Persija sekarang, tentang pencarian penyerang yang setiap tahunnya pasti menimbulkan pertanyaan di dalam beberapa kurun waktu terakhir. Semoga saja urusan tentang penyerang Persija dapat segera di atasi hingga bisa mengikuti kemewahan isi pertahanan Persija itu sendiri sebagai bentuk keseriusan akan prestasi.

Share post :

Leave a Reply