Persija Yang Masih Belum Menjanjikan

Tiga kekalahan dari lima laga awal Gojek Traveloka Liga 1 dan terpuruk di posisi ke-15 klasemen. Apa yang salah dari permainan Persija di bawah Coach Teco sejauh ini?

Formasi dan ide awal

Persija dalam lima pertandingan ini selalu memakai formasi 4-3-3. Formasi ini berisikan satu kiper, empat bek, satu gelandang bertahan, dua gelandang tengah, dan penyerang tengah yang diapit dua winger. Dalam dua pertandingan terakhir Persija memakai formasi 4-2-4 ketika sedang mengejar ketertinggalan skor.

Formasi 4-3-3 seakan menunjukkan bahwa Persija ingin bermain menyerang. Bagaimana dengan skema permainan Persija itu sendiri? Persija di bawah asuhan pelatih asal Brasil, Stefano Cugurra alias Teco kerap membangun serangan dari bawah. Penjaga gawang, Andritany Adhiyasa maupun duet bek tengah, Willian Pacheco dan Maman Abdurahman sering menjadi pemain pertama yang menginisiasi penyerangan. Terkadang pemain di posisi no. 6 (Sandi Sute/ Hargianto) juga drop ke belakang memberikan opsi umpan.

Build-up dari bawah tersebut kemudian dilanjutkan dengan serangan melalui sisi sayap. Baik Ismed di posisi bek kanan, maupun Rezaldi di posisi bek kiri, biasanya langsung mengirimkan umpan ke arah penyerang sayap di masing-masing sisi. Pergerakan pemain sayap ini biasanya diikuti oleh gelandang tengah di sisi terdekat bola, untuk kemudian bergerak di area half-space guna men-support si penyerang sayap tadi.

Ketika bola berada di sayap, Persija tidak melakukan overload dengan banyak pemain seperti halnya permainan posession football. Di sini Persija biasanya hanya membentuk segitiga dengan tiga orang pemain.

Untuk berprogresi ke tengah, penyerang sayap ini bisa langsung melakukan umpan silang ke arah kotak penalti. Atau memberikan bola ke gelandang tengah terdekat untuk melakukan progresi ke arah lain. Opsi lain adalah mendribble bola untuk masuk ke tengah. Jika opsi terakhir ini dilakukan, biasanya diikuti oleh bek sayap yang melakukan overlap di sisi lapangan.

Persija sebetulnya cukup berani dalam melakukan pressing maupun counterpressing di area lawan. Pemain depan biasanya membuat lawan agar kehilangan bola dengan pressing satu lawan satu secara agresif atau mengundang lawan agar membuang bola ke area dimana banyak pemain Persija yang siap untuk merebut bola kembali. Sayangnya hal ini belum secara konsisten bisa dilakukan oleh Persija.

Salah satu momen ketika pressing trap Persija berhasil. Pemain Barito Putera (kuning) diarahkan agar membuang bola ke area dimana ada empat pemain Persija yang siap merebut bola. Dalam kasus ini Maman berhasil merebut bola kemudian dilanggar oleh Cunha.

Beberapa Permasalahan yang Terjadi

Salah satu permasalahan yang kerap terlihat adalah posisi ketiga gelandang yang sering berdiri sejajar. Hal ini tidak memberikan keuntungan bagi Persija untuk berprogres ke depan. Bola hanya mengalir secara horizontal. Dalam hal ini mungkin Teco hanya memfokuskan untuk menjaga sirkulasi bola dan merenggangkan blok pertahanan lawan. Efek samping lainnya adalah area no. 6 menjadi mudah terekspos. Konsekuensinya pemain di posisi tersebut (Sandi Sute terutama) harus melakukan banyak pelanggaran dalam rangka mencegah pemain lawan membangun serangan lebih jauh. Sampai pertandingan melawan Persela kemarin, eks Borneo FC ini sudah melakukan 13 pelanggaran. Plus 4 kartu kuning dan 1 kartu merah.

Kecuali pada pertandingan tandang melawan PSM, mayoritas serangan Persija dibangun dari bawah, seperti yang sudah diulas pada awal tadi. Hanya saja hal ini terkadang menimbulkan masalah berupa pemborosan pemain di lini pertama. Ketika menghadapi lawan yang bermain di blok rendah, bisa ada 6-7 pemain Persija berada di depan blok lawan. Di sisi lain lawan hanya menempatkan dua personilnya di depan. Meski menang secara jumlah (6 vs 2), tetapi ini adalah pemborosan. Ketika menghadapi lawan semodel ini, 3 vs 2 atau 4 vs 2 sebetulnya cukup. Pemain lainnya bisa didorong lebih ke depan. Mengapa? Ketika melakukan strategi bola panjang, ketika ada banyak pemain di belakang, pemain di depan menjadi sedikit. Ini juga yang memperlambat support sekaligus memudahkan lawan mengisolasi pemain depan Persija.

Hal lainnya adalah seringnya terjadi diskoneksi di area no. 10. Secara formasi 4-3-3 memang tidak menurunkan pemain yang secara natural bermain di area tersebut. Untuk ini biasanya penyerang tengah, Luis Junior yang turun ke area tersebut.

Sebetulnya hal ini bisa dimanfaatkan pemain tengah-depan Persija untuk melakukan third man run. Ilustrasinya, bola yang diberikan kepada Luis bisa dimanfaatkan pemain bernomor 9 itu untuk menarik penjaganya keluar dari posisi. Kemudian bola dikembalikan ke belakang, lalu memberikan umpan terobosan kepada pemain ketiga memanfaatkan area yang ditinggalkan penjaga Luis yang telah meninggalkan areanya tadi. Pemain ketiga ini bisa saja penyerang sayap atau bahkan bek sayap

Contoh bagaimana Persija bisa memanfaatkan third man run dari pergerakan Luiz. Luiz bergeser ke half-space, yang menyebabkan penjaganya keluar dari posisinya. Bola kemudian diarahkan ke ruang kosong yang ditinggalkan penjaga Luiz tadi.

.

Yang paling mencolok tentu kebuntuan Persija dalam mencetak gol. Macan Kemayoran baru mencetak tiga gol dimana dua di antaranya berawal dari bola mati. Faktor yang cukup dominan (bahkan mungkin faktor terbesar) di sini adalah permainan Persija di 1/3 akhir. Kombinasi antar pemain depan, maupun lini tengah-depan di area ini masih minim. Banyak terjadi umpan yang terburu-buru serta memaksakan tembakan spekulasi. Juga belum terlihat adanya pemain yang bisa perform dalam hal penciptaan maupun eksekusi peluang di 1/3 akhir seperti Greg musim lalu.

Sebetulnya Bruno Lopes adalah pemain yang paling berpotensi dalam hal ini. Di laga melawan Madura dan PSM pemain berpaspor Brasil ini adalah yang terbanyak melakukan sentuhan di kotak penalti, plus dua tembakan yang mengenai mistar di dua laga tersebut. Pergerakan tanpa bolanya juga cukup bagus. Dalam banyak kesempatan ia bisa membuka ruang bagi rekan-rekannya.

Pemain lain semisal Jefri Kurniawan, Ambrizal Umanailo, maupun Muhammad Rasul pun belum memberikan dampak yang signifikan. Rudi Widodo juga bisa menjadi kandidat. Akan tetapi ia lebih terlihat sebagai finisher alih-alih seorang creator.

Kesimpulan

Dalam beberapa aspek, Persija sudah mulai mengalami peningkatan. Terutama dalam hal build-up dan pressing terhadap lawan. Hanya saja, papan klasemen tidak bisa dibohongi. Persija (sementara ini) masih terjerembab di papan bawah. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan-peningkatan tadi belum sepenuhnya menjamin hasil yang maksimal. Setiap peningkatan haruslah dijalankan secara konsisten.

Variasi serangan juga masih sangat minim. Pertandingan melawan Persela misalnya. Persija terus menerus ngotot agar melakukan progresi lewat sayap. Tanpa ada variasi serangan, permainan Persija mudah dibaca dan sangat mudah masuk ke dalam jebakan pressing Persela. Khusus laga di Lamongan sore itu, adalah penampilan terburuk Persija di Liga 1 sejauh ini.

Berbicara tentang kualitas, sebetulnya kualitas skuat Persija saat ini di atas kualitas skuat musim lalu. Persija juga berkandang di tempat yang tidak begitu jauh dari Jakarta, sehingga dukungan yang masif dari suporter pasti didapat. Tak heran jika tim ibukota ini ditarget lima besar. Hanya saja target ini seakan belum tercermin di lapangan. Perbaikan sangat dibutuhkan untuk mencapai target tersebut. Bermainlah selayaknya tim yang pantas berada di lima besar, Persija!

 

foto sampul: liga-indonesia.id

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
21 views

Leave a Reply