Persija vs Persipura : 91 Tahun Persija dan Semangat Persatuan

Pekan lanjutan ke 28 Liga 1 2019 mempertemukan duel menarik antara Persija Jakarta dengan Persipura Jayapura. Stadion Utama Gelora Bung Karno dijadwalkan sebagai tempat pertemuan kedua tim yang bertepatan dengan hari jadi Persija ke 91, 28 November 2019. Persija dan Persipura terpisahkan sembilan poin di klasemen Liga 1 2019. Dengan hal tersebut, pertandingan ini berpotensi menciptakan pertarungan menarik untuk merebutkan tiga poin yang ada: misi tim ibukota yang ingin berpesta di hari ulang tahunnya, atau tamu dari pulau paling timur di Nusantara yang ingin melepas dahaga kemenangan.

Pekan ke 28 ini begitu istimewa bagi pendukung Persija yang berada disekitaran Jakarta. Mereka berkesempatan merayakan hari jadi kesebelasan kesayangannya di tempat yang semestinya, di rumah, di Jakarta, Stadion GBK. Tempat yang menyimpan kerinduan puluhan ribu The Jakmania untuk menyaksikan Macan Kemayoran kembali berlaga. Terlebih hari ini adalah 28 November. Hari yang menjadi awal mula terciptanya bond sepakbola anak-anak Jakarta yang terbesar sampai saat ini. Selain di Jakarta, kesempatan menikmati perayaan ulang tahun Persija ke 91 pun dapat dirasakan oleh pendukung Persija di berbagai wilayah. Iya, mereka semua sah-sah saja jika melantunkan kalimat “Hari ini hari yang indah. Persija kita kembali berlaga. Mari lupakan segala, mari rayakan bersama. Hari ini harinya Persija !”

Mengulik perjalalnan 91 tahun Persija terdapat cerita-cerita besar di dalamnya. Cerita tentang bagaimana seluruh elemen Persija menanti hingga 17 tahun lamanya membawa mahkota sepakbola Indonesia kembali ke Jakarta beserta intrik di dalamnya. Cerita tentang bagaimana gelar demi gelar dapat mendarat di ibu kota, cerita tentang bagaimana menjadi satu-satunya tim yang abadi di kasta teratas sepakbola Indonesia, sampai kepada cerita tentang semangat persatuan yang mengilhami lahirnya entitas ini. Cerita yang tak satupun klub di Indonesia mampu memilikinya sampai saat ini.

Persija Adalah Alat Persatuan

Berbagai macam literasi yang ada telah membuktikan semangat awal terciptanya Persija ialah semangat anak-anak Jakarta –yang saat itu merupakan pribumi di tanahnya, untuk melawan diskriminasi dari masyarakat kolonial Belanda. Semangat yang terbentuk dari laga amal terhadap korban kebakaran di Passar Baroe berlanjut sampai perlawanan nyata di ranah sepakbola. Voetbalbond Indonesia Jacatra atau yang biasa disingkat menjadi VIJ. Nama awal dari Persija yang berhasil menghangatkan telinga-telinga kumpeni pada waktu itu. Tanah Batavia kedatangan penantang baru, penantang dari tanahnya sendiri. Tak heran apabila eksistensi Voetbalbond Batavia en Omstreken (bond sepakbola milik kolonial Belanda) melancarkan diskriminasi secara gamblang terhadap pribumi. Mereka melarang VIJ menggunakan tanah miliknya untuk memainkan si kulit bundar. Tak ayal, kasus tersebut menarik perhatian tokoh pergerakan dari tanah Jakarta, Muhammad Husni Thamrin. M. H. Thamrin adalah tokoh perjuangan dari Batavia pada masa pra-kemerdekaan Indonesia. Perhatiannya terhadap VIJ cukup besar. Beliau lah yang mewakafkan tanah di Petojo kepada VIJ untuk bisa menendang bola dan memasukannya ke gawang pada saat itu. Stadion VIJ, tanah yang menyatukan pemuda pribumi untuk bermain sepakbola. Tanah yang tak pernah didapatkan apabila berharap kepada tuan-tuan kolonial.

Pengaruh M. H. Thamrin juga menjadikan VIJ sebagai alat perjuangan kaum tertindas. VIJ adalah representasi perlawanan terhadap kaum kolonial melalui sepakbola. Di dalamnya terdapat semangat bersama: inlander Batavia juga bisa berprestasi dalam sepakbola.

Mengingat Batavia pada saat itu merupakan kota pelabuhan, berdampak pada kondisi sosial masyarakat kota tersebut. Tak heran apabila terdapat banyak berbagai macam etnis di dalamnya. Etnis keturunan Tionghoa, suku Jawa, pendatang dari Celebes, perantau dari tanah Sunda, maupun penduduk aseli Betawi itu sendiri. Senada dengan hal tersebut, VIJ pun merangkul dan merayakan kemajemukan pada kondisi sosial masyarakat di dalamnya. Karena tujuan mereka satu: mereka ada untuk bermain sepakbola, mereka ada untuk menang, mereka ada untuk melawan.

Merenungkan Semangat Para Pendiri

91 tahun berjalannya waktu menghasilkan kondisi yang tentunya berbeda dengan masa awal terbentuknya VIJ. Persija hari ini, dengan segala kemampuannya telah memasuki babak sepakbola Indonesia yang menuju sepakbola modern. Sepakbola yang tak ada lagi pengekangan dari bangsa kolonial di dalamnya. Sepakbola yang lebih mengutamakan sisi komersil. Sepakbola yang sudah mengenal berbagai macam varian taktik. Sepakbola yang telah mampu mendatangkan pemain-pemain dari benua Amerika maupun belahan dunia lainnya. Kondisi yang membuat pecinta Persija mempertanyakan kembali relevansi semangat awal mula terbentuknya Persija dalam kondisi hari ini.

Sama juga halnya perkembangan kondisi pada ranah suporter. Apabila melihat kondisi saat ini, perkembangan sepakbola dan media berdampak pada jumlah  mobilisasi massa yang cenderung masih bersifat cair dan majemuk untuk bisa terlibat menjadi atribut kesatuan sepakbola itu sendiri (dalam hal ini tentang Persija). Menarik dan cukup apresiatif apabila dapat terbentuk suatu entitas suporter yang mampu memobilisasi massa dalam jumlah cukup besar dengan terorganisir. Hal tersebut mampu mendorong terciptanya semangat persatuan yang bersemayam dalam tubuh Persija apabila dilakukan dengan cara yang benar dalam porsi yang tepat. Namun, dalam kondisi massa yang cair dan majemuk, tak bisa menafikan bahwa ada sebagian kelompok-kelompok yang belum dapat diorganisir. Kemudian hal tersebut akan menjadi suatu kesalahan apabila timbul sekat-sekat yang secara tidak langsung menimbulkan diskriminasi antara kelompok yang terorganisir dengan kelompok massa yang cair itu. Bung, bukankah praktik-praktik tersebut adalah suatu yang ditentang para pendiri terdahulu ? Kembali lagi, hal tersebut menjadi renungan bersama terkait jiwa persatuan yang ada di tubuh Persija.

Persija-Persipura dan Representasi Diskriminasi Kelas

Pada suatu malam, saya berkesempatan mengikut obrolan menarik tentang kondisi sosial maupun kondisi tribun stadion belakangan ini. Terdapat suatu pernyataan yang menggugah pikiran saya saat seorang kawan dari Papua berpendapat:

“Persipura adalah representasi martabat dari rakyat Papua itu sendiri. Kita apabila bertemu tim-tim dari Jawa, apalagi tim ibukota, rasanya bukan seperti pertandingan sepakbola biasa. Tapi seperti pertandingan antara Negara Indonesia, melawan Negara Papua.”

Hal tersebut membuat saya terkejut terkait pandangan rakyat Papua yang kebetulan pendukung Persipura terhadap tim-tim dari pulau Jawa. Muncul berbagai pertanyaan terkait hal tersebut.

Pada dasarnya, setiap pendukung klub-klub yang ada di Indonesia akan menasbihkan diri bahwa klub yang ia dukung adalah representasi dari daerah asal klub tersebut. Dalam hal ini, apabila supporter Persipura memandang tim nya sebagai perjuangan melawan perlakuan diskriminatif dari pemerinitah pusat yang dalam hal ini berkedudukan di ibu kota, yaitu Jakarta, maka hal yang wajar apabila suporter Persipura memiliki pandangan seperti itu.

Namun, ada hal-hal yang harus dijelaskan terkait representasi Persija dan Jakarta itu sendiri. Persija bukanlah representasi dalam kebengisan dari pemerintah pusat. Karena sejatinya Persija adalah milik warga Jakarta dan orang-orang di luar sana yang mencintainya, bukan milik pemerintah pusat. Persija adalah Jakarta dalam kemajemukan budayanya, dalam nilai-nilai yang mendasari persatuan, dalam semangat untuk selalu menang. Walaupun tak dapat ditampik bahwa Persija pernah mempunyai jejak yang bersinggungan dengan pusaran elite borjuasi, namun tak dapat membenarkan tanggapan bahwa Persija adalah representasi kebengisan pemerintah pusat.

Dan yang harus diluruskan adalah mengenai semangat persatuan yang ada di tubuh Persija itu sendiri. Semangat para pendiri untuk melawan diskriminasi dan perjuangan kaum tertindas. Bukankah kita satu spektrum dalam hal itu, dan kita harus sama-sama memperjuangkannya, seharusnya kawan ?

 

***

Sambil merenung tentang semangat persatuan dan menunggu jalannya kick off babak pertama, hari ini adalah hari akbar bagi sepakbola tanah Jakarta. Hari ini harinya Persija. Kemenangan dilarang terbang ke bumi Cendrawasih. Perjamuan besar dari tanah Papua bukan berarti harus dimenangkan oleh tim tamu. Karena kemenangan Persipura dan masyarakat Papua tak boleh dilakukan hari ini. Ada saatnya nanti, mungkin di waktu berdekatan.

 

Panjang Umur, Persija Jakarta !

Hidup Persija !

 

Foto milik : Instagram Persija Jakarta (@persija_jkt)

Share post :

Leave a Reply