Persija Untuk Semua

Gue bukan Aing. Sebuah kalimat sederhana yang begitu buruk bagi saya. Karena Gue bukan Aing adalah sebuah kalimat diskriminatif yang menjurus rasis kepada etnis tertentu. Kalimat ini biasa dijadikan chants ketika pertandingan sepakbola yang melibatkan Persija melawan tim manapun asal tempat bertanding nya di Provinsi jawa Barat. Biasa dinyanyikan oleh sekelompok orang yang mengaku pecinta Persija, padahal sebener nya tidak. Mencintai sesuatu itu, syarat awal nya adalah mengenal objek yang akan anda cintai terlebih dahulu. Jika tidak kenal, mana bisa disebut mencinta.

Persija didirikan dengan semangat kebangsaan, didirikan oleh para nasionalis. Alasan pendirian nya pun untuk menyatukan putra-putra daerah dari berbagai penjuru nusantara yang bermukim di jakarta. Pendirian Persija sedikit banyak juga merupakan penerapan sumpah pemuda yang dilaksanakan pada tahun yang sama dengan Pendirian Persija. Klub anggota nya pun juga merupakan kumpulan dari berbagai macam  perkumpulan pemuda daerah nusantara. Sampai di sini, sudah kenal dengan Persija? Jika belum, mari kita lanjutkan.

Persija, didirikan di Jakarta, ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kunci nya di sini, sebuah tim sepakbola yang berdomisili di ibu kota negara kesatuan. Sebuah ibu kota negara, masyarakat penghuni nya sudah pasti heterogen. Apalagi sebuah ibu kota negara kesatuan, pasti sangat heterogen penghuni nya. Pecinta tim sepakbola nya pun tak bisa hanya dari penduduk asli ibu kota sebuah negara kesatuan itu. Dan tak bisa pula, para penduduk asli nya melarang mendukung tim sepakbola kota nya, atau meminta para pendukung yang bukan dari etnis asli ibu kota, untuk menanggalkan identitas kedaerahan nya saat mendukung klub ibu kota. Itu hak mereka, itu identitas mereka.

Apa posisi anda sampai-sampai bisa melarang mereka yang bukan etnis asli ibu kota untuk mendukung tim ibu kota? Siapa anda sehiingga bisa melarang mereka yang bukan etnis asli ibu kota untuk menggunakan identitas kedaerahan mereka saat mendukung tim ibu kota? Siapapun berhak mendukung tim manapun yang mereka cintai. Ingat, tim sepakbola yang anda dukung sekarang itu, bukanlah pilihan anda. Tuhan yang maha esa yang memillihkan tim sepakbola kita. Tak peduli anda lahir dari etnis apa, jika sudah ditakdirkan mencintai salah satu tim sepakbola, yasudah, sampai mati pun hanya tim itu yang akan anda dukung.Jika sampai di sini belum mengenal Persija juga, mari kita lanjutkan.

Sejak terbentuk pada 1928, Persija tak hanya memakai Pemain dari satu etnis tertentu saja. Persija, sejak masih bernama VIJ, sudah memakai pemain dari berbagai macam etnis. Tionghoa, diwakilkan oleh Tan Liong Houw, yang dijuluki si Macan Betawi. Jawa, ada kapten kita, Bambang Pamungkas. Aceh, ada nama yang artinya merupakan kata lain dari loyalitas, Ismed Sofyan. Sunda, etnis yang merupakan kata Aing berasal itu diwakilkan oleh Soetjipto Soentoro alias Gareng. Papua diwakilkan oleh Ortizan Solossa. Ambon diwakilkan oleh Rochi Putiray. Ada pula anak asli Jakarta yang berasal dari etnis Betawi, yaitu Amarzukih, si kurus bertenaga banteng di lini tengah Persija. Dan daftar nya akan terus bertambah panjang jika saya sebutkan semua nya.

Dilihat dari sejarah nya, Persija merupakan miniatur Indonesia. Warna kostum nya pun sama-sama merah. Persija diisi oleh pemain dari Aceh sampai Papua, sama seperrti hal nya kesebelasan negara Indonesia. Maka salah besar jika ada yang mengaitkan etnis tertentu  dengan Persija, karena Persija adalah representasi dari Indonesia yang sebenar nya. Jadi, bebas saja jika ada orang yang mengatakan Aing Persija, Ayas Persija, Aku Persija, Ambo Persija, Gue Persija, Karena Persija memang untuk semua. Sampai di sini, semoga anda yang masih saja menyanyikan chants Gue bukan Aing sudah mengenal Persija lebih dalam dan bisa menghilangkan nyanyian Gue bukan Aing ketika Persija berlaga.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
103 views

Leave a Reply