Persija Putri Adalah Tentang Sepakbola

“Bukan tentang bentuk tubuh, bukan tentang paras wajah. Persija Putri adalah tentang sepakbola.”

Sangat disayangkan, nampaknya ada sebagian orang yang belum bisa menerima sepakbola wanita seutuhnya sepakbola. Dalam artian masih ada diantara kita yang melihat para pemain wanita sebatas objek sepakbola.

Tidak jarang meski berprestasi, para pesepakbola wanita hanya dilihat dari bentuk tubuh dan paras wajahnya. Sering kali seksi, besar, putih, dan cantik yang menjadi penilaian.

Sering kali, saat para wanita berlaga, siulan dan candaan berbau seksisme menghiasi. Tak jarang bentuk tubuh dan paras wajah yang menjadi fokus perhatian, pertandingan sepak bola seolah “hiburan” dengan tubuh-tubuh wanita sebagai menu utama.

Bukan hanya di tribun, di linimasa media sosial candaan dan komentar berbau seksis bahkan hingga mengarah pada hal yang melecehkan dapat dengan mudah ditemui. Kata-kata menggoda, candaan mengenai bentuk tubuh wanita banyak betebaran dimana-mana.

Ya, pelecehan. Hal yang bagi sebagian orang diangap wajar, nyatanya dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Jika ada yang beranggapan pelecehan seksual hanyalah prihal kontak fisik atau pemaksaan aktifitas seksual, itu salah besar.

Nyatanya lelucon cabul, komentar seksual tentang bagian tubuh, bahkan sekedar isyarat, sudah cukup untuk menjerat seseorang melakukan pelecehan seksual.

Karena bila mengutip Komnas Perempuan, pelecehan seksual merujuk pada tindakan bernuansa seksual yang disampaikan melalui kontak fisik maupun non-fisik, yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang.

Tindakan ini termasuk siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin hingga menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Sebenarnya bukan hanya di Indonesia. Hal serupa terjadi di Amerika dan Inggris yang dianggap negara-negara lebih maju. Untuk itu tidak sedikit stadion sepakbola wanita dibuat terpisah dengan stadion utama, dan umumnya memiliki bentuk lebih kecil.

Begitu juga di negara dengan kultur penghormatan terhadap wanita yang lebih baik semisal Italia, Spanyol atau Meksiko, meski menggunakan stadion utama, namun hanya sebagian tribun yang dibuka. Itupun tidak untuk seluruh pertandingan.

Kini ada baiknya kita mempersiapka diri sebelum benar-benar menikmati sepakbola wanita. Cara pandang yang menilai wanita hanya sekedar dari bentuk tubuh, kecantikan wajah, dan hal-hal seksis lainnya harus lebih dulu dihilangkan. Stigma bahwa sepak bola wanita merupakan tontonan kelas dua dengan mengekspos kecantikan dan keseksian para pemainnya harus dibuang jauh-jauh.

Sudah seharusnya sepabola wanita dilihat seutuhnya sepakbola, dan para pemainnya dinilai sebagai pemain dengan segala kemampuan dan prestasinya.

Akan lebih menyenangkan bila kita berbicara tentang Persija Putri yang menjadi pembahasan adalah skil pemain, taktik pelatih, liukan mematikan, hingga gol indah yang tercipta. Bukan lagi sekedar bentuk logo Monas di dada yang dianggap berbeda.

Akan lebih menyenangkan saat kita membicarakan Zahra Muzdalifah, andalan penyerangan Persija Putri, yang hadir adalah prestasi di dalam maupun di luar lapangan. Sudah tahukah kalian bila pemilik akun Instagram @zahmuz12 ini sempat trial di salah satu klub raksasa Swedia, Rosengard? Atau prestasi ketika ia telah berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta melalui program akselerasi, padahal anak-anak seusianya masih menjalani jentang sekolah menengan atas?

Begitu juga tentang idola baru publik sepakbola Jakarta, Anggita Oktaviani. Selain kecantikan dan keramahannya, gadis berusia 20 tahun yang memang bercita-cita menjadi atlet profesional memiliki cerita lain. Seperti prestasinya di olah raga yang jauh dari sepakbola, atletik dan volly. Juga awal perjalanan di futsal sebelum akhirnya melompat ke sepakbola.

Penguasa sektor bek kiri Persija Putri tersebut sempat memberikan tanggapan mengenai banyaknya candaan juga komentar berbau seksis. Dengan sikap cueknya, ia pribadi tidak mementingkan  komentar-komentar yang dianggap tidak jelas. Karena menurutnya, ia hanya ingin bermain dan membawa timnya juara Liga 1 Putri 2019.

“Untuk tanggapan komentar, aku lebih ke cuek aja tetang komentar yang nggak jelas. Karena menurut aku, aku cuma mau main fair play dan bawa nama Persija menang di liga ini. So, aku lebih nggak terlalu mentingin sama komentar yang tidak jelas,” kata Anggita.

Meski mengaku tidak terganggu, dan mengganggap setiap orang berhak berkomentar apapun, gadis yang juga memiliki hobi kuliner ala street food ini merasa akan lebih baik bila dukungan yang hadir sepenuhnya mengenai sepak bola.

“Tapi ya lebih baik si semoga aja support-nya untuk dukung main bola. Bukan ke hal lain,” pungkasnya pemain bernomor punggung 3.

 

Foto : Situs Resmi Persija Jakarta

Share post :

Leave a Reply