Persija Juara Settingan

Sudah lebih dari enam bulan sejak pertandingan terakhir Liga 1 musim lalu. Musim yang berakhir dengan Persija Jakarta keluar sebagai juaranya. Tapi nyatanya, masih saja ada orang-orang yang mengembangkan opini liar tentang gelar juara yang didapat tim ibu kota. Bahkan di layar kaca, tanpa ragu, meski tanpa data, mereka berani bicara menuding Macan Kemayoran mendapat gelar juara hanya karena mendapat banyak bantuan.

Perubahan jadawal, keputusan kontroversial wasit, hingga gol ajaib mereka anggap sebagai jalan pihak-pihak tertentu memuluskan jalan Persija Jakarta menuju juara. Padahal bila mau adil berpikir, bukan hanya Persija yang mendapat revisi jadwal pertandingan, begitupun dengan putusan kontroversial wasit. Rasanya semua tahu, semua pernah diuntungkan dan dirugikan sang pengadil di lapangan.

Sebenarnya tidak akan sulit membantah opini liar yang coba dikembangkan sebagian orang. Kembali saja kepada fakta-fakta yang ada. Tengok saja data-data yang tersaji. Meski hal tersebut tidak akan mengubah pemikiran mereka yang sejak awal tidak suka dengan Persija.

Jika mau bersepakat, modal pertahanan terbaik dan performa tandang terbaik cukup menjadi fakta pendukung Macan Kemayoran menjadi juara. Dari 34 pertandingan sepanjang musim, gawang Andritany dan para kiper pengganti hanya kemasukan 36 gol. Sedangkan untuk performa tandang, anak asuh Stefano Cugurra berhasil meraup 25 poin dari 51 poin tersedia. Ini catatan terbaik di antara kontestan lainnya.

Belum lagi fakta menakjubkan kekuatan mental pasukan Macan Kemayoran. Sepanjang musim mereka harus menjelajah 6 stadion di 5 kabupaten/kota untuk menjalankan 17 pertandingan kandang. Di antaranya Stadion Utama Gelora Bung Karno, Stadion Pakansari, Stadion Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Stadion Sultan Agung, Stadion Partiot, dan Stadion Wibawa Mukti.

Dari 62 poin akhir Persija, 37 poin didapat di rumah, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Sedangkan sisanya harus diraup di tanah usiran mereka. Pencapaian yang rasanya belum tentu mampu diraih tim lainnya.

Memang juga sebuah fakta bila Persija sempat terkapar di jurang degradasi pada pekan ke-12. Cacian, cibiran, datang bertubi-tubi kala itu. Namun mereka seakan lupa satu hal, Persija masih memiliki dua laga tunda menghadapi Persib Bandung dan Persebaya Surabaya.

Bila penundaan ini dianggap suatu keistimewaan, nyatanya pemundaan tidak sepenuhnya keinginan pihak Persija Jakarta. Penundaan partai menghadapi Persib Bandung beralasan tidak keluarnya izin pertandingan karena ada agenda besar lain di ibu kota. Sedangkan penundaan partai menghadapi Persebaya, semua tahu penyebabnya adalah ulah suporter tamu yang menguasai Stadion Sultan Agung, Bantul, kandang sementara Persija.

Di paruh musim, ketika partai tunda telah dimaikan dan berarti telah sama-sama menyelesaikan 17 laga, Persija merangsek posisi 6 dengan beda hanya 3 poin dari pemuncak klasemen sementara.

Kenyataan lain yang bisa dijadikan fakta penguat juara Persija Jakarta adalah konsistensi hingga akhir musim. Saat tim lain lengah dan hilang konsentrasi atau tergoyah urusan non-teknis, Persija terus memanjat tabel klasemen.

Mereka tidak terkalahkan di enam pertandingan terakhir. Termasuk menahan imbang saingan terkuat, PSM Makasar di kandangnya. Hingga akhirnya Persija menyudahi kompetisi dengan 62 poin hasil 18 kemenangan, 8 seri, dan 8 kekalahan. Persija unggul satu poin dari PSM Makasar di posisi ke-2.

Tapi rasanya, fakta-fakta tersebut tidak akan berarti untuk mereka yang lebih suka beropini. Padahal bila mau sama-sama adil berpikir dan mau berbicara dengan fakta yang ada, rasa saling curiga bisa dihilangkan.

 

foto : Liputan6.com

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
476 views

Leave a Reply