Persija Jakarta, Sebuah Cerita Cinta yang Besar

Oleh: Syarifah Nadia Allydrus (@nadiaallydrus),

Senja itu akan selalu kuingat. Bahagia saat pluit wasit pertanda pertandingan berakhir melengking di telinga setelah menit-menit krusial. Disambut sorak-sorai penggemar yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno pada laga pertama musim 2020 Persija Jakarta menjamu Borneo FC yang berkesudahan dengan skor 3-2.

Akupun terlarut akan euforia tersebut. Setelah libur selama 3 bulan akhirnya kaki ini menginjak stadion lagi, atmosfer yang dirindukan kembali lagi. Semangat yang telah membatu menyambut kebanggaan berlaga dan menang pula.

Tersadar ketika seorang teman bertanya, “Kenapa mencintai Persija Jakarta sedangkan tidak ada garis keturunan pribumi Jakarta?” Hanya perantau yang menetap di Jakarta. Tidak, kota yang berbatasan dengan Jakarta tepatnya.

Aku memang bukan anak Jakarta. Hanya tinggal di pinggiran ibu kota, bahkan berasal jauh dari ujung barat Indonesia. Terpisah jarak lebih dari 2000 Km dari tanah kelahiran dan tempat dibesarkan, tanpa ikatan apapun, nyatanya cinta itu bermula entah karena apa.

Satu-satunya kedekatan antara si anak asal Aceh dengan Macan Kemayoran mungkin hanyalah sosok Ismed Sofyan. Bagi rakyat Serambi Mekah pria bengal kelahiran 28 Agustus 1979 adalah kebanggaan. Berasal jauh dari Tualang Cut, Ismed telah bergabung dengan klub sebesar Persija di usia muda. Diakui, dan melegenda bersama di ibu kota.

Sejak bergabung di tahun 2002, posisi bek kanan tim kebanggaan publik sepakbola Jakarta selalu menjadi kekuasaan. Sejak saat itu pula tidak pernah sekalipun pemain nomor 14 meninggalkan barisan Macan Kemayoran.

Bukan hanya di Persija, Ismed juga langganan tim nasional Indonesia. Satu yang tidak akan terlupa adalah pertandingan 28 Desember 2004 di SUGBK menghadapi Malaysia. Meski aku belum mengenal dan belum sepenuhnya mengerti sepakbola, tapi cerita-cerita tentang Ismed dan pertandingan tersebut sudah cukup menghadirkan kebanggaan begitu besar.

Dua hari sebelum pertandingan, gempa berkuatan besar terjadi di Samudra Hindia. Gempa bawah laut kemudian menghadirkan tsunami maha dahsyat. 280 ribu jiwa dari 14 negara berbeda melayang karenanya. Dampak terbesar dan jumlah korban terbanyak berasal dari Serambi Mekah.

Maka dari itu, ketika Indonesia berhadapan dengan Malaysia di putaran pertama babak semi-final Piala Tiger (kini bernama Piala AFF) tahun 2004, masyarakat Aceh sangat berharap bahwa putra daerah terbaik mereka di kancah sepakbola, bisa membawa skuat Garuda untuk memenangkan pertandingan sebagai pelipur lara.

Sayangnya, alih-alih menjadi pelipur lara, pemain yang kala itu berusia 26 tahun justru terlihat tampil penuh beban. Dua gol Malaysia yang membuat skor akhir 2-1 bisa dikatakan akibat kesalahannya. Untungnya di leg kedua Indonesia berhasil membalikkan keadaan.

Bisa jadi pertandingan pada 28 Desember 2004 tersebut adalah memori buruk sepanjang karier gemilang sang pemain. Tapi bagiku, bagi kami rakyat Aceh, Ismed dan pertandingan tersebut adalah kebanggaan dan simbol perjuangan juga semangat untuk bangkit.

Kembali ke pertanyaan di awal, sempat memikirkan apa kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Tetapi hanya jawaban klise yang terucap. Toh, cinta datang dengan sendiri tanpa alasan, kan? Ibarat memilih kekasih, hati juga mengerti bahwa Persija definisi dari jatuh cinta tanpa syarat dan tanpa embel-embel apapun.

Sama halnya dengan Ismed Sofyan yang bertahan karena cinta. Bahkan di saat-saat yang tidak menyenangkan. Ada pilihan untuk pergi, tapi cinta membuatnya bertahan.

“Ya, pada tahun 2013 selangkah lagi saya terbang ke Palembang untuk bergabung dengan Sriwijaya FC. Tapi, semua itu saya urungkan karena kecintaan saya begitu besar kepada Persija.” dikutip dari laman CNN Indonesia.

Bukan sesuatu yang aneh bukan? Mengingat Persija tim ibu kota di negara yang fanatisme atas sepakbola cukup tinggi. Rivalitas, sejarah, taktik, kreativitas suporter, dan pemain dengan skill tinggi selalu dinanti untuk disimak dan dijadikan bahan perbincangan saat berkumpul bersama. Tak jarang pula Persija Jakarta menjadi topik hangat di berbagai media. Kabar tentang Persija selalu dinantikan, benar?

Dan Persija memang bukan hanya milik warga Jakarta saja. Virus cinta telah meluas jauh dari kota Jakarta. Ribuan orang yang mengaku outsider adalah bukti nyata dari perwujudan cinta tersebut. Bus-bus dengan spanduk nama kota yang berjarak ratusan kilometer sering terlihat di area stadion. Luar Jakarta Luas Biasa, sering kali terdengar sebagai bentuk eksistensi.

Persija Jakarta, sebuah cerita cinta yang besar. Sebuah cerita yang juga mempertemukan cinta aku dan dia.

 

Foto: vivagol

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
348 views

Leave a Reply