Persija dan Sumpah Pemuda

Rasanya Persija dan peristiwa yang menjadi satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kelahiran VIJ sebulan setelah ikrar yang dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia serupa satu rangkaian peristiwa sejarah bangsa.

Sejarawan JJ Rizal pun pernah menyampaikan dalam suatu kesempatan, VIJ adalah media penyebar semangat Kongres Pemuda Oktober 1928.

“Sebab itu sebulan setelah peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, berdirilah perkumpulan sepakbola VBB (VoetBal Boemiputra), yang kemudian hari berubah namanya menjadi VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacatra) dan pada 1942 menjadi Persija (Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta).” 125 Tahun MH Thamrin: Jungkir Balik Demi Jakarta.

Peran MH Thamrin begitu besar disini. Tokoh bangsa sekaligus politikus di Gemeenteraad dan Volkstraad tersebut menjadi jembatan penghubung semangat Sumpah Pemuda ke dalam klub sepakbola pribumi agar mengadopsi semangat persatuan.

Memang, selain kesehatan, perbaikan kampung, hingga Bahasa Indonesia, sepakbola menjadi pemikiran lain dan pergerakan politik laki-laki kelahiran Kampung Sawah Besar. Thamrin adalah gambaran kedekatan sepakbola dan pergerakan kebangsaan.

Penggunaan kata Indonesia dengan ejaan Indonesia di penamaan VIJ juga jelas pengaruh besarnya. Meski sesuai ikrar, Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia, penggunaan kata Indonesia di masa itu bukanlah hal mudah.

Tidak berhenti disana. Persija menjadi penggagas dan mendorong terjadinya persatuan yang lebih luas di sepakbola pribumi. VIJ aktif berkomunikasi dengan bond-bond pribumi lain dan mengontak secara khusus Ir. Soekarno agar cita-cita persatuan bond sepakbola pribumi segera menjadi nyata.

Hasilnya, pada 19 April 1930 di Gedung Sosited HandePryo, Yogyakarta, lahirlah Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia dengan diprakarsai tujuh Bond masing-masing daerah.

Sebagai wadah pemersatu klub sepakbola pribumi, PSSI mengusung semangat penggagasnya, Ir. Soeratin Sosrosoegondo. Beliau sadar betul sepakbola adalah salah satu alat mempersatukan bangsa dengan menjunjung tinggi makna Sumpah Pemuda. Beliau percaya, sepakbola dapat mempersatukan semua golongan untuk melawan kolonialisme.

Dunia pergerakan dalam sepakbola

Kedekatan Thamrin dan sepakbola memang memperlihatkan bahwa dunia pergerakan begitu akrab dengan lapangan hijau. Setiap kali sepakbola pribumi, setidaknya di Batavia menemui masalah seperti politik ras di sepakbola, dialah yang dicari pertama. Seperti Ketika klub pribumi dilarang bermain di lapangan bond sepakbola Eropa bahkan untuk pertandingan amal.

Lebih jauh ia sering kali mengajak koleganya di Dewan Rakyat untuk menghadiri pertandingan VIJ maupun PSSI sebagai bentuk dukungan moril dari elite politik terhadap perjuangan bangsa Indonesia melalui sepakbola.

Pertandingan persahabatan seperti pertandingan Djago Kolot dan pertandingan Jagoan Pejambon (lokasi gedung Volksraad), mempertemukan sesama politisi semisal M.H. Thamrin, Otto Iskandar Dinata, Mr. Hadi dan kawan-kawan di lapangan.

Namun HM Thamrin bukan satu-satunya. Masih banyak nama-nama tokoh pergerakan lain yang begitu dekat dengan sepakbola. Mulai dari Tan Malaka yang menganggap sepak bola adalah alat perjuangan dan selalu bermain sepak bola tanpa alas kaki, hingga kisah Sutan Syahrir yang belum banyak diketahui.

Masih dikisahkan sejarawan JJ Rizal, dalam masa-masa pengasingannya, Syahrir mendirikan klub sepakbola dengan nama-nama nyeleneh sekaligus menjadi pesan politiknya. Di Digul, Syahrir mendirikan klub yang bila diterjemahkan akan bernama “Jangan Biarkan Dirimu Kalah”. Ini jelas sebuah penegasan walaupun dirinya diasingkan, namun beliau belum kalah dalam perjuangan.

Begitupun ketika kembali diasingkan ke Banda Neira. Syahrir bertemu tokoh bangsa lainnya, Mohammad Hatta. Mereka kemudian membuat klub bola dengan nama “Hati Suci”. Hati Suci seolah perlawanan terhadap Kolonial yang menganggap mereka penuh dosa dianggap harus disingkirkan.

Masih ada juga Dr. Soetomo yang melihat sepak bola bukan hanya melatih fisik tapi juga mental. Tokoh sentral Boedi Oetomo melihat etos revolusioner dan etos nasionalisme dalam sepakbola.

Di Boedi Oetomo sepakbola bukan hanya olah raga. Klub-klub pribumi yang terbentuk adalah manifestasi dari etos revolusioner. Sepakbola menjadi jembatan penghubung yang mempermudah penyebaran semangat nasionalisme dan pengobar semangat perlawanan.

Kisah heroik lain hadir ketika Ir. Soekarno melakukan tendangan pertama pertandingan VIJ, atau yang kini dikenal dengan Persija, menghadapi PSIM Yogyakarta di partai puncak kompetisi PSSI yang digelar di lapangan Laan Travelli, Batavia.

Pertandingan yang berlangsung 16 Mei 1932 sukses dijadikan panggung Bapak Bangsa mengirim pesan politik perlawanan.  Beberapa pekan sebelum kehadirannya di Laan Travelli, Soekarno baru saja bebas dari penjara Sukamiskin dan dilarang kembali berpolitik. Tentu saja kesempatan tampil di hadapan banyak orang dan diabadikan harian Pandji Poestaka menjadi penegas kembalinya tokoh sentral perjuangan kemerdekaan.

Semua yang terjadi sesungguhnya melambangkan visi nasionalisme. Sepakbola bukan medan kepentingan, melainkan perjuangan dan ujung tombak gerakan kebangsaan.

(image source: persija.co.id)

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
207 views

Leave a Reply