Persija dan Persebaya, Mengenang Rivalitas Klasik Era Perserikatan

 

Suyono melepaskan kopiahnya, meletakkan benda tua itu sembarang di atas lemari. Hari masih siang, dan ia baru selesai menunaikan ibadah sholat dzuhur. Ia pun bersantai sejenak, rebahan di atas kasur. Melepaskan lelah setelah sejak pagi bekerja di proyek di bilangan Jakarta Pusat. Hari itu memang hari minggu. Seharusnya libur. Akan tetapi para atasannya tidak mau tahu dan ingin bangunan toko itu agar cepat selesai. Beruntung saat itu ia bisa mendapatkan izin meninggalkan pekerjaannya sebagai mandor lebih awal.

Hari itu kalender menunjukkan tanggal 27 Maret di tahun 1988. Dalam beberapa jam ke depan, partai puncak Kompetisi Perserikatan PSSI akan segera dimulai. Pertandingan yang akan digelar di Stadion Utama Senayan itu mempertemukan Persija dan Persebaya. Pertandingan antara keduanya selalu spesial baginya.

Suyono lahir di Surabaya dua tahun sebelum Indonesia merdeka. Akan tetapi ia menghabiskan masa kecilnya bersama 13 saudaranya di sebuah kota kecil di barat daya Ibukota Provinsi Jawa Timur itu. Sejak kecil ia sangat menyukai sepakbola, yang ia salurkan lewat partisipasi di turnamen antar-kampung. Ia juga sering mengikuti pertandingan Persebaya lewat radio karena tidak selalu mempunyai uang yang cukup untuk menyaksikan langsung pertandingan di Surabaya.

Ia merantau ke Jakarta sekitar akhir tahun 60-an. Sebagai perantau ia mengerjakan apa saja untuk bertahan hidup, asalkan halal. Begitu prinsipnya mengamalkan petuah kedua orangtuanya.

Kecintaannya terhadap sepakbola tidak luntur. Termasuk kepada Persebaya-nya. Akan tetapi di sisi lain ia juga mencintai Persija dan Jakarta, rumah barunya. Ia menikah di Jakarta, beristrikan orang Jakarta. Kelak anak dan cucunya pun semua lahir di kota tempat Soekarno memproklamirkan kemerdekaan bangsanya ini.

Apalagi tahun-tahun awalnya di Jakarta, Persija begitu dominan. Sebuah era yang menandakan era keemasan tim dengan lambang monas di dada itu.

Pada waktu itu, Jakarta dengan komposisi masyarakat dari berbagai suku, justru sangat minim dalam memberikan dukungan terhadap Persija. Kebanyakan orang lebih memilih mendukung tim daerah asalnya. Dan Suyono berada di tengah-tengahnya. Ia jatuh cinta dengan Persija, tapi tidak serta-merta meninggalkan Persebaya-nya.

Maka dari itulah ia seperti tanpa beban di final 1988 itu. Meski ini bukan final Persija-Persebaya pertama yang ia saksikan,pria itu tetap datang ke Senayan dengan senang hati. Menaiki angkutan umum dari rumahnya di dekat Jatinegara. Tak perlu risau soal tiket. Perjalanan hidupnya di Jakarta membawanya berkenalan dan menjadi teman dekat dengan salah seorang penjaga pintu merah stadion terbesar di Indonesia itu. Dengan sedikit senyum dan lambaian tangan, Suyono masuk dan bahkan ditemani hingga mendapat kursi di tribun VIP.

Pertandingan itu sendiri dikenangnya sebagai salah satu yang terbaik. Pada suatu momen, Azhari Rangkuty kehilangan bola di lini tengah. Bola segera dikuasai anak-anak Surabaya, yang kemudian mengirimkan umpan terobosan kepada Syamsul Arifin. Kapten Persija, Tony Tanamal berusaha mengejar. Tony menjulurkan kakinya mencoba melakukan sliding tackle. Sayang ia terlambat. Syamsul terjatuh dan wasit menunjuk titik putih. Johanes Budi menjalankan tugasnya tanpa cela. Bola diarahkan ke kiri, berlawanan dengan arah yang ditebak kiper Persija, Agus Waluyo. Di kejauhan nampak Suyono tersenyum sambil sedikit bertepuk tangan.

Begitu pun ketika umpan silang Patar Tambunan yang gagal diantisipasi bek Persebaya disambut sontekan Triastono Taufik dari jarak 6 yard membuat skor imbang menjadi 1-1. Suyono justru menganggap pertandingan ini akan makin menarik.

Persija 1-1 Persebaya. Pict via @Legendary1928

Memang betul. Jual beli serangan kedua tim tidak cukup dipentaskan hanya dalam 90 menit. Butuh waktu tambahan untuk mencari pemenang. Dalam tempo waktu itu, Mustaqim dan Yongki Kastanya membuat Surabaya unggul 3-1. Persija menutup pertandingan dengan satu gol tambahan dari Kamarudin Betay.

Persebaya unggul 3-2. Suyono bergembira. Tidak terlalu, sebenarnya. Karena ia tetap memberi hormat kepada Persija-nya.

Persija vs Persebaya Sebagai Rival Kompetitif

Persija melawan Persebaya adalah satu perseteruan terbesar dalam sejarah persepakbolaan nasional. Keduanya kerap bertemu pada era kompetisi Perserikatan yang tak jarang ajang pertemuan mereka adalah partai puncak.

Rivalitas Persija dan Persebaya dipupuk di atas lapangan. Berbeda dengan misalnya Persija melawan Persib yang lebih banyak melibatkan gengsi antara kedua kota. Persaingan Persija dan Persebaya adalah satu contoh rivalitas yang perseteruannya berasal dari lapangan hijau dalam memperebutkan gelar juara. Beberapa literatur menyebut perseteruan ini sudah dimulai pada era 50-an, alias tahun ketika PSSI memutar kompetisi Perserikatan yang kompetisi sebelumnya bernama Stedenwedstrijden. Selain Persebaya, tim lain yang bisa disebut sebagai rival kompetitif Persija adalah PSM Makassar dan PSMS Medan.

Persija dan Persebaya dianggap sebagai representatif dua kota terbesar di Indonesia. Persija sebagai tim ibukota yang membawa semangat nasionalisme banyak diperkuat pemain berbakat dari Sabang-Merauke. Sementara Persebaya diisi oleh para putera daerah asli Surabaya.

Kedua tim merupakan tim besar yang juga kolektor gelar juara. Persija meraih lima gelar Perserikatan (salah satunya juara bersama PSMS Medan) setelah 4 kali menjuarai Stedenwedstrijden. Angka ini digenapkan menjadi sepuluh setelah juara Liga Indonesia tahun 2001. Persebaya sendiri mengoleksi 4 gelar Perserikatan, yang kemudian hari disusul 2 gelar Liga Indonesia.

Kerap Berjumpa di Pertandingan Penting

Baik Macan Kemayoran maupun Bajul Ijo kerap bertemu di partai puncak atau setidaknya babak enam besar yang pada beberapa edisi Perserikatan menjadi babak akhir. Ada empat edisi dimana Persija menjadi juara dan Persebaya menjadi runner-up, maupun sebaliknya.

Tahun 1952, Persebaya mengungguli Persija di babak 6 besar dengan menyapu bersih kemenangan di babak tersebut. Persija di posisi runner-up dengan 4 menang, 1 seri, dan 1 kalah.

Tahun 1973, gantian Persija yang unggul. Pada laga penentuan yang disaksikan 100 ribu orang itu, Persija menang dengan skor tipis 1-0. Meski hanya menghasilkan sebiji gol, laga tersebut tetap dikenang sebagai salah satu yang terbaik. Menurut laporan pertandingan di koran Tempo tanggal 22 Desember 1973, Persebaya memperagakan permainan keras. Bek kiri Persebaya, Rusdi Bahlawan sudah dihadiahi kartu kuning oleh wasit Djuremi pada menit-menit pertama setelah melanggar kanan luar Persija, Iswadi Idris. Permainan menjurus kasar Persebaya diharapkan mampu melunturkan mental Persija. Kepemimpinan Djuremi yang kurang tegas  terhadap permainan kasar Persebaya menjadi sorotan. Wasit berkualifikasi FIFA ini disebut Tempo ‘’lupa membawa kartu merah’’.

Meski sempat terbawa arus, permainan Persija berangsur membaik. Iswadi Idris yang kerap dikasari itu membalasnya lewat aksi-aksi cerdiknya mengelak dari terjangan lawan. Persija akhirnya mencetak gol kemenangan lewat Andi Lala, yang digambarkan secara ciamik oleh Tempo:

..di babak kedua ketika kiper Tjong dan barisan belakang Persebaya bersantaisantai mempermainkan bola – dengan maksud mengulur waktu dan memaksa pertandingan berakhir seri – Risdianto mengatur barisan depan Persija memulihkan kepercayaannya. Kesempatan itu akhirnya tiba di menit ke-78, ketika Andi Lala yang menggantikan Arwiyanto dimakan Diono. Tendangan bebas untuk Persija dali daerah penalti Persebaya terjadi. Risdianto berbisik pada Lala. Barangkali penyerang-tengah Persija ini mengingatkan rekannya bahwa dalam beberapa pertandingan terdahuhl ia terlampau sering mengecewakan suporter Persija dalam adegan di muka gawang. Dan dengan sebuah cuilan, bola disuguhkan pada Lala. Pekerjaan selan jutnya adalah menggenjot biji longkong itu ke sudut kanan gawang Persebaya. Seantero Stadion bergema. Yang tua yang muda, semuanya bangkit menyambut bobolnya gawang Tjong. Hadiah Natal dan Tahun Baru bagi warga ibukota. Bola bergulir lagi. Kini giliran Hudo Hadianto bersantai-santai. Wasit Djuremi nampaknya bingung melihat Persija bisa menang. Dan iapun makin melongo ketika Persija sama pandainya mengulur-ulur waktu.

Persija pun menjuarai kompetisi tersebut. Sekaligus menjadi tonggak awal era keemasan Persija di tahun 70-an. Di kemudian hari Persija kembali juara di tahun 1975 dan 1979.

Skuat Juara Persija tahun 1973. Pict via Persija Foundation

Tahun 1978 Persebaya kembali unggul yang ditandai oleh kemenangan 4-3 atas Persija di partai final. Persija unggul cepat di menit ke-lima lewat Taufik Saleh. Hadi Ismanto sempat menyamakan angka di menit ke-20. Namun Taufik kembali mencetak gol delapan menit kemudian. Skor 2-1 untuk Persija bertahan hingga turun minum. Menit 54 Hadi Ismanto membuat skor menjadi 2-2. Dalam tempo kurang dari 15 menit berikutnya Rudy Keltjes dan Joko Malis membawa anak-anak Surabaya menjauh 4-2. Persija hanya mampu memperkecil ketertinggalan lewat Andi Lala pada menit 78.

Setelah final 1988 seperti yang diceritakan di atas, kedua kesebelasan ini belum lagi bertemu di partai puncak. Keduanya sempat bertemu di beberapa pertandingan fase akhir, termasuk semifinal 1990. Ketika itu Persija kalah 3-4 lewat babak adu penalti setelah bermain imbang 2-2. Pertandingan ini diwarnai tetesan air mata Rahmad Darmawan yang kala itu gagal mengeksekusi penalti penentuan.

Di era Liga Indonesia keduanya masih merupakan kekuatan di persepakbolaan Indonesia. Persebaya juara dua kali, yakni pada LI III musim 1996/97 dan musim 2004. Persija satu kali juara yakni pada LI VII tahun 2001. Uniknya perjalanan Persija menuju tangga juara tahun 2001 termasuk mengalahkan Persebaya di semifinal dengan skor 2-1 lewat gol dari Antonio Claudio dan Luciano Leandro. Sementara Persebaya juga memastikan gelar juara 2004 dengan mengalahkan Persija di Tambaksari dengan skor 2-1. Pelatih Persija saat ini, Stefano “Teco” Cugurra merupakan pelatih fisik Persebaya kala itu.

Akan tetapi beberapa tahun belakangan, kedua raksasa Perserikatan ini tidak lagi terdengar keperkasaannya. Paceklik prestasi ini sangat disayangkan tak hanya pendukung kedua tim, tapi juga banyak penikmat sepakbola nasional. Dua klub legendaris ini sangat tidak pantas diposisikan sebagai tim medioker. Persija sempat tersandung kasus dualisme, masalah finansial, dan deretan pertandingan usiran tanpa penonton. Persebaya mungkin lebih parah karena nyaris terkubur selamanya akibat dualisme dan perseteruan dengan federasi.

Satu hal yang patut disyukuri, Persija dan Persebaya saat ini mulai kembali menyusun amunisi untuk kembali menjadi kekuatan di belantika sepakbola nasional. Masuknya investor baru di Persija dan Persebaya mulai menunjukkan langkah-langkah yang mengindikasikan ke arah yang positif. Maka, penantian akan persaingan kompetitif diantara keduanya seharusnya bisa kembali kita saksikan tidak lama lagi.

 

Share post :

Leave a Reply