PERSIJA 1964: SI MERAH YANG TAK TERKALAHKAN

Kejuaran Nasional PSSI 1964, atau yang biasa kita kenal dengan Perserikatan digelar pada bulan Juni sampai bulan Agustus 1964. Kejuaraan ini diikuti oleh sembilan tim dari seluruh Indonesia. Persija Jakarta yang saat itu diperkuat pemain asal Kebayoran Soetjipto Soentoro, berhasil keluar sebagai juara dengan catatan tak terkalahkan.

Kejuaran edisi 1964 ini diikuti oleh sembilan tim, yaitu:

  1. Persija Jakarta
  2. PSP Padang
  3. PSB Bogor
  4. PSA Ambon
  5. Persebaya Surabaya
  6. Persib Bandung
  7. PSMS Medan
  8. PSM Ujung Pandang (Makassar)
  9. Persijem Jember

PERJALANAN PERSIJA DI PERSERIKATAN 1964

Partai pertama Persija pada kejuaran kali ini digelar pada tanggal 26 Juni 1964 di kota Surabaya. Menghadapi jagoan kota Bogor, PSB Bogor, Persija berhasil memenangkan partai  perdananya dengan skor 2-0.

Dua hari berselang, tepatnya tanggal 28 Juni 1964, gantian tim kebanggaan orang Ambon yang melawan Persija. Masih di kota Surabaya, Persija berhasil mengalahkan PSA Ambon dengan skor akhir 4-0 untuk kemenangan Si Jampang.

Setelah melawan PSA Ambon, kejuaraan berpindah venue, kali ini venue berada di Jakarta. Partai ketiga ini dimainkan tanggal 3 Juli 1964, bermain melawan PSP Padang, anak asuh Liem Soen Joe ini berhasil menang dengan skor akhir tujuh gol tanpa balas. Skor ini cukup mengagetkan publik sepakbola tanah air pada saat itu, karena Persija bisa menang dengan selisih gol lebih dari setengah lusin dengan skuat andalan yang mayoritas diisi oleh anak muda.

Jarak pertandingan ketiga dengan pertandingan Persija selanjutnya lumayan jauh, tiga minggu lebih. Kejuaraan kali ini dilangsungkan di Yogyakarta. Di kotanya PSIM ini, Persija memainkan dua pertandingan. Pertama menghadapi PSM Makassar, yang berkesudahan imbang dengan skor 1-1. Hasil ini merupakan satu-satunya hasil imbang Persija pada kejuaraan kali ini. Pertandingan kedua di Jogja, Persija menghadapi tim asal Jember, Persijem. Pada pertandingan ini Persija mencatatkan kemenangan terbesarnya pada kejuaraan tahun itu. Melawan anak-anak Jember Persija berhasil mencetak sembilan gol tanpa balas.

Setelah menjalani dua partai di Jogja, pada tanggal 31 Juli 1964, Persija menghadapi PSMS di Bandung. Persija berhasil memenangi laga melawan Ayam Kinantan dengan skor akhir 4-0 untuk kemenangan Si Merah Putih. Hasil ini menunjukkan bahwa Persija, walau diisi oleh banyak pemain muda bisa menjadi penantang gelar serius.

Setelah laga di Bandung, Persija pulang ke Jakarta. Di hadapan publik sendiri, Persija akan menjalani dua partai melawan dua tim klasik Indonesia, yaitu melawan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya.

Persija terlebih dahulu melawan Persib Bandung pada tanggal 6 Agustus 1964. Bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dan di hadapan 60.000 pendukungnya sendiri, Si Jampang bermain dengan semangat tinggi. Walau bermain melawan Persib Bandung, yang notabene skuatnya mayoritas adalah para pemain Tim Nasional Indonesia di Asian Games 1962, anak-anak Jakarta tidak gentar.

Pada akhirnya, Persija berhasil memenangkan partai balas dendam melawan Persib dengan skor akhir 3-1. Gol-gol Persija dicetak oleh Dominggus, DidIk Kasmara, dan Soetjipto Soentoro. Gol Persib dicetak oleh Djadjang.

Partai melawan Persib bukanlah partai yang menentukan juara atau tidaknya Persija di Perserikatan tahun ini. Partai terakhirlah yang menentukan, yaitu partai melawan Persebaya Surabaya. Karena sebelum partai Persija vs Persebaya ini, kedua tim memiliki jumlah poin yang sama.

Partai ini dimainkan pada tanggal 8 Agustus 1964, masih dilangsungkan di Jakarta, Persija Jakarta berhasil keluar menjadi juara Perserikatan 1964 setelah mengalahkan Persebaya Surabaya di partai penentuan, dengan skor akhir 4-1 untuk kemenangan Persija Jakarta.

Pada kejuaraan yang menghasilkan Persija sebagai juaranya ini, Soetjipto Soentoro alias Gareng berhasil menjadi pencetak gol terbanyak dengan enam belas gol. Keenam belas gol ini dibuatnya hanya dari delapan pertandingan yang dijalankan Persija. Padahal, Gareng berposisi bukan sebagai striker, melainkan seorang gelandang serang, yang jika diibaratkan dengan pemain masa kini itu sama dengan Wesley Sneijder asal Belanda. Sementara Persebaya mengirimkan pemainnya, Januar Pribadi, untuk menjadi pemain terbaik di kejuaraan kali ini.

Berikut adalah klasemen akhir dari Kejuaraan Nasional PSSI 1964:

Klasemen akhir Kompetisi PSSI 1964

Sebagai catatan, poin untuk setiap kemenangan pada zaman ini masih dihargai dua poin untuk setiap kemenangan, satu poin untuk hasil seri, dan nol untuk kekalahan.

FORMASI ANDALAN PERSIJA

Pada era kepelatihan Endang Witarsa, Persija kerap memainkan formasi 4-2-4 yang ketika di lapangan bisa berkembang menjadi 4-3-3.  Para pemain Persija pada era ini berasal dari klub-klub internal kompetisi Persija, semisal UMS, Indonesia Muda, dan Setia.

Formasi dan skema permainan Persija adalah hasil adaptasi dari UMS, klub internal Persija yang dilatih Endang Witarsa sebelum ke Persija. Bahkan kiper dan back four Persija saat itu berasal dari UMS semua. Memang UMS merupakan tim internal Persija terbaik pada saat itu setelah berhasil menjuarai kompetisi internal Persija pada tahun-tahun sebelumnya.

formasi andalan Persija saat juara 1964

Para pemain-pemain Persija ini tak hanya berprestasi bersama Persija. Pemain Persija generasi ini juga berperan dalam kesuksesan Tim Nasional Indonesia di tahun 60-an sampai 70-an.

Gelar juara 1964 adalah salah satu bukti betapa pentingnya peran kompetisi dan klub internal Persija dalam perjalanan Persija. Melihat kondisi kompetisi dan klub internal Persija sekarang yang seakan dilupakan sebagai lumbungnya pemain Persija sangat berbanding terbalik dengan kondisi beberapa dekade ke belakang.

Semenjak berganti milenium, Persija baru mendapatkan gelar juara PSSI sebanyak satu kali, yaitu pada tahun 2001. Penantian akan gelar terbaru masih terus berlanjut. Pendukung Persija sudah jauh lebih banyak dari tahun 1964 kala Persija juara tak terkalahkan. Sudah seharusnya Persija bisa melampaui raihan-raihan generasi masa lalu, atau paling tidak menyamainya.

 

sumber: Buku Dokter Sepakbola Indonesia, dan sumber lainnya

 

 

Share post :

1 Response

Leave a Reply