PERKENALKAN, KOMPETISI INTERNAL PERSIJA

Sebelum tulisan ini dibuat, kami sempat membuat sebuah jajak pendapat untuk pendukung Persija yang menjadi pengikut kami di media sosial Twitter. Jajak pendapat tersebut dibuat untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan pendukung Persija tentang Kompetisi Internal Persija beserta para klub anggotanya. Hasilnya, sebagian besar koresponden yang mengikuti jajak pendapat kami, masih belum mengetahui apa itu Kompetisi Internal Persija dan Klub anggotanya.

Tulisan ini dibuat untuk memperkenalkan kembali Kompetisi Internal dan Klub anggotaya kepada pendukung Persija masa kini. Mengingat betapa besarnya jasa-jasa Klub Internal Persija dalam perjalanan Persija selama ini.

Lalu, apa itu kompetisi internal Persija?

Kembali ke beberapa dekade silam, saat Persija didirikan, “klub” sepakbola kebanggaan The Jakmania ini awalnya didirikan bukan sebagai sebuah “klub” melainkan sebuah Bond kota Jakarta. Bond adalah sebuah federasi sepakbola yang menaungi sebuah “negara”, layaknya sebuah “negara” setiap Bond tersebut pasti memiliki sebuah kompetisi dan tentunya klub-klub yang mengikutinya.

Secara sederhana, Persija adalah PSSI-nya Jakarta pada saat itu. Maka Persija berlaku sebagai “Tim Nasional” yang mewakili Jakarta pada kompetisi Nasional PSSI yang disebut Perserikatan. Selayaknya sebuah “Tim Nasional”, Persija berhak memanggil para pemain dari klub-klub anggota Kompetisi Internal Persija untuk mengarungi Perserikatan. Tetapi, sistem seperti itu sudah tidak digunakan lagi pada era sepakbola profesional Indonesia.

Pada era perserikatan, Kompetisi Internal Persija merupakan wadah pembinaan pemain muda, masing-masing klub internal memiliki tim-tim cadangan di bawah tim utamanya, bahkan, salah satu klub memiliki sampai enam tim di bawah tim utamanya. Sebuah metode pembinaan yang biasa pada saat itu, tetapi untuk klub-klub Indonesia masa kini hal tersebut merupakan sebuah hal yang berat untuk memiliki sejumlah tim cadangan di bawah tim utamanya.

Peran klub-klub internal anggota kompetisi internal  Persija tak hannya berhenti di Persija saja, banyak hasil binaan kompetisi internal Persija yang di kemudian hari dipanggil memperkuat tim PSSI. Bahkan pada satu periode, lebih dari setengah skuat Tim Nasonal Persija diisi oleh pemain Persija yang merupakan hasil dari kompetisi internal Persija. Tak Cuma para pemain, sang  pelatih pun hasil dari kompetisi internal Persija.

Setelah berbagai kejayaan yang dibuat klub-klub internal anggota kompetisi internal Persija, klub-klub tersebut kini tak lagi seperti dulu. Selepas era perserikatan, klub-klub Indonesia yang dahulu berbentuk Bond berubah menjadi sebuah klub sepakbola profesional yang berbadan hukum perseroan, ini membuat peran kompetisi internal dan klub pesertanya tak se-krusial saat era perserikatan.

Peran kompetisi dan klub internal masih sebagai wadah pembinaan pemain muda, tetapi hasil dari pembinaan tersebut tidak terlalu dilirik lagi oleh Persija sebagai klub induknya. Selain karena memang kualitas pemain yang dihasilkan dari kompetisi internal ini memang belum terlalu baik, Persija masa kini lebih mengandalkan pemain yang sudah jadi dengan merekrutnya dari klub lain.

Tentu banyak sekali alasan mengapa kompetisi dan klub internal Persija tidak lagi menghasilkan pemain berkualitas untuk Persija. Salah satu alasannya adalah ketersediaan lapangan di Jakarta.

Kondisi Jakarta masa kini sangat berbeda jauh dengan masa-masa saat kompetisi dan klub internal Persija berjaya. Pada masa itu, bahkan setiap klub anggota kompetisi internal memiliki lapangan untuk latihan atau memainkan pertandingan di kompetisi internal.

Sedikitnya pemain berkualitas yang dihasilkan kompetisi internal Persija berbanding lurus dengan sedikitnya gelar juara yang diraih Persija selepas era Perserikatan. Jika saat era Perserikatan Persija bisa meraih sembilan gelar juara, saat era sepakbola modern Persija hanya berhasil meraih satu gelar juara. Memang, sedikitnya pemain berkualitas yang dihasilkan kompetisi internal bukan merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan hal tersebut, masih banyak faktor lain yang menyebabkan seretnya prestasi Persija di era sepakbola modern.

Ini merupakan bagian pertama dari artikel ini, bagian selanjutnya akan terbit kemudian.

 

Share post :

Leave a Reply