Perkara Wanita, Kita Memang Bodoh

Nyatanya, perkara wanita kita memang bodoh. Kita seolah tidak tahu apa-apa. Untuk memperlakukannya saja, kita seolah tidak tahu harus bagaimana.

Saat wanita datang ke stadion untuk menikmati sepakbola, sama seperti kita, nyatanya kita tetap memperlakukannya berbeda. Saat seharusnya semua berdiri sama tinggi dan berperan sama besar di tribun, nyatanya di tengah dominasi laki-kali dan di negara kental patriarki, masih ada saja yang menganggap wanita adalah suporter kelas dua. Sebatas pemanis tribun, bahkan objek sepakbola.

Tribun ramah wanita masih jauh dari nyata. Kampanye #NoSexism yang mulai digaungkan sejak digelarnya sepakbola wanita masih berupa angan-angan. Kampanye tersebut awalnya memang ramai untuk menjaga para pesepakbola wanita. Seolah kita lupa di tribun lebih banyak wanita yang perlu dijaga.

Semua marah ketika siulan diarahkan pada Zahra, Anggita, Bio, dan pemain lain. Semua geram saat candaan mengenai bentuk tubuh banyak menghiasi kolom komentar media sosial mereka. Padahal hal tidak jauh berbeda dialami suporter wanita.

Bukan hanya seksisme secara harfiah, lebih luas eksploitasi wanita, hingga pelecehan bahkan kekerasan terjadi dimana-mana.

Karena bila mengutip Komnas Perempuan, pelecehan seksual merujuk pada tindakan bernuansa seksual yang disampaikan melalui kontak fisik maupun non-fisik, yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang.

Tindakan ini termasuk siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin hingga menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Dan nyatanya tidak sulit menyaksikan semua itu terjadi. Siulan bahkan godaan menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan dengan dominasinya, hal-hal lebih parah yang hingga merendahkan martabat pernah terjadi.

Namun seperti stereotip di negara partiarki, tidak sedikit yang masih menyalahkan si wanita. Sudah digoda, dilecehkan, masih saja disalahkan. Dari mulai cara berpakaian, tingkah yang dianggap memancing gairah, hingga bentuk tubuh wanita yang menggoda dijadikan pembenaran. Padahal sudah jelas, pelecehan dan semacamnya ada di otak pelaku. Bukan di tubuh korbannya.

Semua bertambah parah ketika ada saja yang memanfaatkan keadaan demikian. Demi jumlah pembaca, demi meningkatkan jumlah penjualan, demi mendapat banyak pengikut, wanita dikedepankan bahkan cenderung diekpoitasi.

Wanita dan candaan mendekati seksisme seringkali dijadikan “umpan” di lini masa. Namun bila sesuatu buruk terjadi, mereka bisa dengan santai cuci tangan. Beralasan bukan seksis atau pelecehan yang mereka maksudkan. Semua semata-mata penafsiran warga dunia maya.

Yang mereka lakukan seumpama melempar daging mentah pada gerombolan anjing kelaparan. Namun ketika anjing semakin meliar dan lepas kendali, mereka hanya melihat dari kejauhan bahkan tertawa menikmati ketika ada korban.

Menjadi terlalu naif rasanya ketika berbicara perubahan besar dalam sepakbola bila memperlakukan wanita yang begitu dekat saja kita masih bodoh. Sebaiknya lebih dulu kita bersepakat tentang sepakbola yang ramah untuk semua. Sepakbola tanpa ruang seksisme di dalamnya. Sepakbola dengan pria dan wanita yang bisa berdiri sama tinggi, dan berperan sama besar. Sebaiknya perubahan itu dimulai dari yang terdekat dahulu.

 

Foto @JakOnline

Share post :

Leave a Reply