Pelajaran Berharga dari Dua Ksatria

Gelaran Piala AFF Suzuki Cup 2016 telah usai, Indonesia pada akhirnya harus puas kembali menjadi runner-up di hajatan 2 tahunan itu. Segala pengorbanan, semangat dan jeri payah para pemain serta suporter telah mereka keluarkan hingga sampai pada titik langkah sejauh ini, dan cita-cita masyarakat negeri ini akhirnya harus tertahan untuk melihat Timnas membawa pulang piala AFF ke rumah barunya di Indonesia.

Pada ajang Piala AFF kemarin, ada satu hal yang sempat mengganjal dalam hati kecil saya. Hal yang juga mungkin sama pada hati tiap orang lainnya. Jujur, kedua mata ini ingin melihat para pejuang dari kota Jakarta bisa berjibaku di tengah lapangan harus tertahan. Ingin melihat mereka mengolah bola dengan kemampuannya seperti melihat mereka bermain bersama di Persija Jakarta. Pahlawan Ibukota yang saya harapkan yakni Andritany Ardhiyasa dan Gunawan Dwi Cahyo, harus terelakan dengan hanya melihat mereka terduduk manis di pinggir lapangan.

Perasaan jengkel dan lontaran kekesalan dari mulut ini seringkali terucap, ketika saya harus melihat kedua nama pemain ini yang lagi-lagi berada dalam daftar pemain pengisi bangku cadangan tim Nasional. Perasaan hati yang ingin melihat keduanya bermain sudah berada dalam puncaknya, ungkapan kekesalan yang mulai memuncak itu hanya bisa saya ungkapkan di sosial media pribadi saya, kekesalan yang saya selipkan dengan kritikan kepada pelatih Timnas Indonesia yakni Alfred Riedl, agar setidaknya ia mau memasang satu dari keduanya atau memasang keduanya sekaligus dalam satu pertandingan Timnas sedari menit awal di Piala AFF kemarin.

Terkadang tak habis pikir, mengapa si pak tua itu (Alfred Riedl) tidak menurunkan keduanya sekalipun dari fase grup hingga babak final. Padahal, menurut saya. Dipanggilnya Andritany dan Gunawan Dwi Cahyo bukan sekadar mereka hanya bisa bermain baik dalam posisi masing-masing. Terpanggilnya mereka saat masuk Timnas juga sedang berada dalam performa terbaiknya di klub dan mempantaskan bahwa mereka sangat layak untuk masuk Timnas.

Seperti Andritany yang sekarang menjadi Goalkeeper dengan penyelamatan paling terbanyak di turnamen Torabika Soccer Championship 2016. Atau Gunawan Dwi Cahyo, yang saat dipanggil Timnas sedang menjadi Top Score di Persija Jakarta padahal dengan posisinya yang sebagai Center Back. Dengan performa mereka yang sedemikian rupa bagus itu, lalu mereka kurang apa sehingga bisa tak masuk jajaran Starting XI Indonesia oleh pelatih? Pola pikir Riedl semacam itu tak bedanya seperti saya sedang membaca pikiran perempuan yang sedang ngambek, yakni sangat sulit di tebak.

Mungkin kejengkelan seperti itu bukan hanya terjadi kepada saya pribadi, tapi juga kemungkinan terjadi oleh teman-teman yang sedang membaca artikel ini. Layangan sikap protes terhadap Riedl di suarakan publik elemen Sepakbola di Jakarta, kalangan suporter seperti The Jakmania contohnya yang di sosial media sempat melakukan cuitan di Twitter agar memungkinkan Andritany dan Gunawan Dwi Cahyo bisa segera ditampilkan di pertandingan piala AFF kemarin. Pasalnya ketika mereka diturunkan, ada rasa kebanggaan dari warga Jakarta bahwa ketika pemain dari tim Ibukota bisa memberikan kontribusi bagi sang Garuda.

Saya mencoba menurunkan tensi ego saya yang cukup tinggi saat itu, tensi kekesalan yang hebat pada tiap jeda babak pertama maupun akhir pertandingan. Ego yang terus menginginkan Andritany dan Gunawan Dwi Cahyo, bisa menjadi pilihan utama di Timnas Indonesia dalam susunan starting line up. Terkadang saya juga mencoba memahami isi pikiran Alfred Riedl, mengapa ia tidak menurunkan kedua mereka yang padahal sedang berada dalam performa terbaiknya. Di sela waktu lenggang, saya membuka sosial media Instagram pribadi saya dan iseng untuk men-stalking Instagram pribadi milik kedua pemain itu.

Terkhusus untuk Instagram pribadi dari Gunawan Dwi Cahyo, dalam postingannya. Tidak ada caption yang terisi dengan kata atau bait kalimat mengeluh atau rasa kecewanya karena tidak di tampilkan. Foto yang dia unggah juga menunjukan semangat kebersamaan dengan pemain Timnas lainnya, seperti dengan kolega sekaligus kompetitornya di Timnas dalam posisi Center Back seperti Yanto Basna, Fachrudin maupun Manahati Lestusen. Malah caption dari postingan Gunawan yang saya liat terus berisi semangat dan harapan untuk Timnas bisa meraih hasil baik dan itu menunjukan dirinya, benar-benar bersikap sebagai pemain yang profesional dengan bersikap saling mendukung antara pemain satu dengan lainnya.

Lalu Andritany, bagi saya ia adalah pemain yang memiliki jiwa besar. Dalam hal tidak pernah terpasang dirinya menjadi starting line up Timnas Indonesia. Andritany meminta untuk semua pihak bersabar, bersabar bukan hanya untuk melihat dirinya tampil, tapi juga bersabar untuk menerima keputusan pelatih, bersabar dan menerima setiap keputusan yang telah di berikan kepadanya. Karena Bagol (Panggilan Andritany) sangat yakin, apa yang di turunkan dan menjadi kebijakan pelatih nanti padanya, adalah yang terbaik untuk Timnas Indonesia dan yang terbaik untuk Timnas Indonesia adalah yang terbaik untuk dirinya.

Apa yang mereka berdua tunjukan adalah hal yang luar biasa, tetap semangat walau tak berada dalam pilihan utama sangat patut diapresiasi. Mental mereka benar-benar sangat menunjukan identitas Jakarta. Kuat, keras dan pantang menyerang. Mereka berdua adalah sosok pemain yang berhati besar dalam menghargai setiap keputusan. Walau keputusan itu di rasa cukup pahit untuk kita yang melihatnya, setidaknya mereka yang merasakan langsung tetap yakin jika apa yang telah mereka terima sekarang, adalah yang terbaik. Terbaik dalam kesempatan hidup mereka yakni bisa berseragam Indonesia dengan lambang Garuda terpampang di dada mereka.

Sifat yang mereka tunjukan telah meluluhkan hati saya dan meredam pemikiran egois saya pribadi menjadi lebih terbuka, walau dalam hati saya masih ada sedikit perasaan kesal terhadap pak tua itu. Memang benar, setiap kejadian terdapat hikmah di dalamnya. Sekalipun mereka berdua tidak turun dalam ajang Piala AFF ini. Warga Jakarta dan The Jakmania akan tetap bangga terhadap mereka berdua, bukan hanya melihat asal mereka dari Persija Jakarta yang bisa dipanggil Tim Nasional. Pulangnya mereka berdua dari Timnas bukan cuma membawa kehormatan untuk bangsa Indonesia dan kota Jakarta, tapi mereka juga kembali pulang dengan memberi pelajaran berharga untuk kita semua tentang pentingnya saling mendukung satu sama lain dan tentunya berjiwa ksatria dalam menerima setiap keputusan.

 

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
23 views

Leave a Reply