Panggilan Ibadah Telah Terdengar

Jika sepakbola diibaratkan agama, maka panggilan ibadah telah terdengar.

Perlu diingat terlebih dahulu, di Indonesia sendiri untuk dapat diakui menjadi agama, suatu kepercayaan tidak selamanya harus memiliki Tuhan. Yang diperlukan hanya adanya tokoh yang dikultuskan, ajaran yang diyakini, umat yang mempercayai, dan ritual peribadatan.

Untuk tokoh yang dikultuskan, para pemain hadir lengkap dengan trofi, gelar, dan penghargaan sebagai mukjizat yang melengkapi. Kemudian kitab dan ajaran yang diyakini, sepakbola sendiri telah memiliki aturan-aturan baik itu tertulis atau berupa norma yang telah disepakati bersama. Aturan yang mengatur baik itu tentang berjalannya sepakbola, bahkan sampai hal-hal yang menyertainya.

Untuk umat dan ritual peribadatan tidak perlu diragukan lagi. Tengok saja bagaimana stadion sangat jarang sepi saat pertandingan. Bahkan mereka yang tidak dapat hadir langsung ke stadion akan berusaha memenuhi kafe-kafe atau tempat lainnya untuk berkumpul menikmati sepakbola. Atau pilihan terakhirnya, mereka akan menyaksikan sepakbola melalui layar kaca. Ada ketaatan tergambar disana.

Dan kini, panggilan peribadatan itu telah terdengar. Panggilan untuk kembali menghadap altar hijau dengan mereka yang dikultuskan menari-nari pamer mukjizat di atasnya. Panggilan untuk kembali merapalkan doa berupa puja-puji, janji suci, hingga janji menemani sampai mati dari balik pagar-pagar tribun.

Sebagai tempat peribadahan utama, tidak jarang suka cita hingga air mata tercurah disana. Bahkan bagi sebagian orang tribun menjadi tempat yang pas untuk melepaskan beban hidup yang mengekang.

Tidak jarang pula dalam khusuk peribadahan membuat para umat kehilangan sadarnya. Tidak jarang mereka kehilangan kontrol atas diri masing-masing. Tidak jarang, umpatan hingga tingkah-tingkah diluar batas keluar begitu saja.

Sama halnya seperti yang terjadi di agama lain, di sepakbola juga terdapat penafsiran dan ajaran yang sering kali berbeda, yang membuat para penganutnya tak jarang memiliki aliran atau kelompok-kelompok di dalamnya.

Beda aliran, beda kelompok, acap kali membuat ritual ibadah mereka juga sedikit berbeda meski di tribun yang sama. Ada yang beribadah dengan berapi-api, namun juga ada yang dengan khusuk berdiam diri. Ada yang hingga rela mengorbankan darah hingga nyawa, ada yang hanya beribadah sewajarnya.

Semua tergantung dari fanatisme semata. Ada yang memilih menatap altar dari utara, ada juga yang memilih dari arah sebaliknya. Semua hanya berbeda dalam pandangan saja. Yang pasti, ketaatan pada sepakbola tetap sama.

Jangan sampai fanatisme terhadap aliran atau kelompok tertentu menodai ketaatan terhadap sepakbola. Sudah saatnya di musim ibadah kali ini, kita sama-sama tunjukan untuk menjadi umat yang lebih baik dari musim sebelumnya. Bahkan sebagai umat sepakbola kita lebih baik dari umat yang lainnya.

Umat yang tidak jarang saling caci bahkan saling melukai. Umat yang tidak jarang menganggap aliran atau kelompoknya lebih suci dari yang lainnya. Umat yang menodai agamanya atas nama fanatisme belaka.

 

foto dari akun Twitter CN_Persija

Share post :

Leave a Reply