Menjadi Juara Bersama Sinyo Aliandoe

Mungkin suporter Persija saat ini tak banyak yang tau tentang nama pria yang telah wafat pada tahun 2015 silam itu. Ia adalah Sebastian Sinyo Aliandoe, pemain Persija periode tahun 60-an, juga pelatih Persija Jakarta ditahun 70-an. Sinyo Aliandoe sukses mempersembahkan gelar juara sebagai pemain di tahun 1964 sekaligus mencatatkan Persija sebagai tim yang tidak terkalahkan di kompetisi itu. Lalu, ditahun 1973 dan 1975 saat menjadi pelatih Persija, Sinyo juga berhasil mempersembahkan gelar juara Perserikatan untuk tim kebanggaan masyarakat kota Jakarta.

Khusus medio awal tahun 70-an, Sinyo Aliandoe berhasil meniti kisah keberhasilannya bersama ‘Si Merah’ Persija Jakarta. Mulai dari juara Quoch Khanh Saigon Cup (Turnamen hari kemerdekaan Vietnam Selatan) ditahun 1973. Tahun itu bagai menjadi tahun yang indah bagi Sinyo, ia berhasil menyabet gelar juara bersama Persija di ajang Internasional maupun Nasional. Terlebih tahun 1973, Persija yang sukses merengkuh mahkota juara untuk ketujuh kalinya.

Tahun Berkah untuk Persija

Sinyo mengawali kompetisi Perserikatan PSSI tahun 1971/1973 bersama Persija, tahun itu juga awal bergabungnya Sinyo Aliandoe menjadi pelatih untuk Persija dan meniti karir sebagai pelatih. Sinyo sebenarnya ditahun itu tak mematok target menjadi juara. Bahkan, Sinyo hanya berharap pada anak asuhnya untuk cukup bisa bermain dengan baik di kompetisi Perserikatan. “Asal lolos saja sudah cukup” ucapnya seperti yang dikutip dari harian Kompas edisi November tahun 1973.

Persija bersiap memulai kompetisi, memboyong dua puluh pemain terbaiknya ke Semarang sebagai venue pertandingan dengan tambahan empat official tim. Persija sukses meraih kemenangan melawan PSIS dipertandingan pertama mereka di Semarang, disertai hujan rintik. Persija sukses me-nenggelam-kan tuan rumah dengan skor 1-4. Gol Persija dicetak oleh Salomon Nasution ’42, Anjas Asmara ’80 ’85 dan Sumirta dimenit akhir.

Berbagai harian surat kabar pada tahun itu menyebutkan, Persija akan mendapat tantangan terberat saat melawan Persib Bandung, sebagai kompetitor terkuat mereka dibabak grup. Tapi, Persija tetap optimis jika mereka mampu untuk lolos ke babak selanjutnya. Persija mulai melanjutkan suksesinya secara berkelanjutan. Di pertandingan kedua melawan Persib, Persija mengandaskan Persib Bandung dengan skor 1-0, lewat gol Rachman Halim dimenit 85.

Tangan dingin seorang Sinyo Aliandoe berhasil membuat Persija menunjukan kekuatan terbaiknya dikompetisi PSSI tahun itu. Mulai dari melumat PSBI Blitar 5-0, sampai PSM Makassar dibuat tertunduk dengan kekalahan telak 5-1. Satu-satunya tim yang mampu menahan Persija adalah PSMS Medan dengan skor 2-2. Hingga sampai-lah Persija menjadi juara dengan dipertandingan akhir, yang mampu menakluk-kan tim kuat Persebaya Surabaya dengan skor 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Andi Lala pada menit 78, dengan penonton saat itu mencapai angka 100.000 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Jakarta berpesta, mengalahkan Persebaya Surabaya dengan status tim yang sebelumnya tak terkalahkan dikompetisi tahun itu. Nama Sinyo Aliandoe-pun dieluh-eluhkan oleh publik sepak bola Nasional yang sebelumnya, tak meng-unggulkan Persija sebagai kampiun. Keberhasilannya menjadi pelatih termuda diumur 33 tahun menjadi catatan tersendiri yang sangat istimewa dalam perjalanan karir kepelatihannya.

Keberhasilan Sinyo Aliandoe yang Akan Terus Abadi

Menjadi pelatih termuda dengan membawa Persija meraih berbagai gelar juara, sekaligus juga tidak pernah kalah dalam satu pertandingan satu-pun di kompetisi Perserikatan tahun 1971/1973, membuat bangga banyak pihak termasuk gubernur DKI Jakarta sewaktu itu, Ali Sadikin.

Karena prestasinya yang gemilang sebagai pelatih. Tahun 1975, Ali Sadikin mempercayakan Sinyo Aliandoe untuk pergi ke berbagai Negara di Benua Eropa seperti ke Belanda, Jerman Barat, dan Inggris selama tiga minggu, untuk memperdalam ilmu persepakbola-an agar menjadi pelajaran sepak bola nasional khususnya peningkatan mutu kualitas sepak bola di Jakarta.

“Selama melatih Persija, saya belum pernah meraih gelar juara resmi di kompetisi. Sementara Sinyo sudah berkali-kali”. Ucap Sugih Hendarto (Pelatih Persija 1985-1995), saat memandang Sinyo Aliandoe sebagai pelatih yang sangat jenius dengan kapasitasnya yang sangat mumpuni dengan bukti raihan berbagai gelar juara selama melatih.

Tak hanya Persija yang dibuat sukses meraih prestasi bersamanya ditingkat Nasional, Sinyo juga sukses mengantarkan tim internal Persija yakni PS Jayakarta menjadi juara kompetisi klub internal Persija dan menjadi juara antar klub investasi PSSI. Sinyo juga membawa prestasi untuk tim PSSI Yunior menjadi juara yang didalamnya diisi banyak pemain muda Persija.

Karirnya melejit sebagai pelatih berusia muda dengan berbagai macam prestasi yang ia dapatkan, tapi ia tak mau di-istimewakan. Pria kelahiran Flores, 1 Juli 1940, yang berpegang pada filosofi Total Football ini memang memberikan kesan untuk sepak bola Nasional terlebih bagi Persija, dalam masa baktinya di Persija menjadi seorang pelatih hampir selama delapan tahun. Kegigihan untuk selalu belajar menjadi keteguhan dalam karir kepelatihannya, sehingga namanya yang terus abadi karena catatan penuh prestasi yang pernah ia berikan.

Share post :

Leave a Reply