Mengikis tawuran di Jakarta lewat Persija

“Jakmania itu bisa menyatukan seluruh suku di Jakarta untuk satu tujuan mendukung Persija, kita pernah sempet mengikis tawuran antar kampung di Jakarta karena adanya Jakmania, maka sebetulnya Pemda DKI gausah lah pusing – pusing bikin penyuluhan segala macem, gedein aja deh Persija nya pemainnya bagus – bagus juara mulu otomatis deh anak Jakarta bakal nonton Persija mulu tawurannye ilang deh, sesimple itu aja sih sebenarnya.”
Begitulah yang diucapkan ketua umum The Jakmania sekarang Tauhid Indrasjarief atau yang biasa dipanggil Bung Ferry dalam video log disalah satu channel YouTube milik akun Jakmania ( @peyenk20 ).
Mendengar salah satu ucapan yang disampaikan Bung Ferry di dalam video tersebut membuat saya meng-iyakan kejadian tersebut.
Memang dahulu saat saya masih duduk sekolah dasar ataupun menengah saya sering mendengar terjadinya bentrokan antar kampung ataupun antar sekolah. awal permulaannya pun hanyalah sebuah masalah sepele hingga dibesarkan – besarkan, hingga merembet panjang. Lewat Persija perlahan – lahan bentrokan antar kampung/pelajar tersebut hilang sejenak seiring perjalanan dan prestasi Persija dimasa itu.
Usaha dan usaha yang pernah Jakmania lakukan ialah ketika di jalur sekolah ada salah satu komunitas yang bernamakan Jakschool, ini tugasnya menyatukan seluruh pelajar Jakarta saling mengenalkan satu sama lainnya selain sama-sama suka Persija, mereka sering kopi darat (kopdar) bersama di dekat masjid Al bina stadion gelora bung Karno Jakarta, mereka memberikan satu penyuluhan, bahkan pernah menggerakkan sebuah slogan #StopTawuranPelajar hingga chariti amal untuk salah satu korban gempa bumi di Nepal, semata-mata hanya untuk untuk mengikis tawuran pelajar di Jakarta.
Lalu ditiap kampung, berdirilah sebuah korwil-korwil (kordinator wilayah) untuk mengambil sebuah potensi kecintaan warga disekitar kampung terhadap Persija, mereka dibina, diberi penyuluhan tiap tiap pelosok. Diberikan maindset yang lebih baik , dan tujuan yang jelas. Seluruh korwil akan diagendakan briefing internal disetiap hari Senin dan Jumat disalah satu sekretariat Jakmania, disini mereka saling memperkenalkan diri masing-masing wilayah, maka dari itu dahulu yang pernah bentrok antar kampung kini pun hilang ketika mengetahui bahwa lawan / musuh bebuyutannya pun suka Persija juga.
Setelah sekian lama budaya buruk itu menghilang, kini yang baru terhangat sedang viral di media sosial sekarang ialah kembali terjadinya tawuran antara pelajar di Jakarta timur.
Pertama, Itu terjadi di akhir bulan Februari kemarin, yang mana bentrokan terjadi antara STM ternama di daerah Jakarta timur, yang membuat jatuhnya sebuah korban. yang lebih parahnya lagi, menurut info yang saya dengar, korban tersebut adalah salah satu dari fans Persija yang suka menonton Persija ketika bermain di Jakarta, miris bukan?
Kedua, diawal bulan Maret kemarin kembali terjadi bentrokan dipicu dendam lama antara kampung di daerah Jakarta Selatan, tersebut kembali muncul dan menimbulkan konflik panjang hingga sampai saat ini saya menuliskan tulisan ini diblog, mungkin belum selesai.
Pertanyaan mendasar dari saya yaitu sampai kapan?
Menelisik ucapan bung Ferry diatas, saya sangat setuju kalau Persija itu bisa mengikis tawuran di Jakarta.
Di pengalaman pribadi saya dahulu pun saat jaman sekolah ada, ketika saya hendak menonton Persija diluar Jakarta dengan membawa salah satu spanduk / banner sekolah nama saya, lalu didekat saya itu ada salah satu pelajar dari salah satu musuh bebuyutan sekolah saya. Ketika dia mengetahui saya menyukai Persija dan saya juga mengetahui mereka suka Persija, maka dari pertemuan itu saya sepakat dengan mereka untuk berdamai saat itu hingga sampai saat ini, itu semua karena Persija.
Lalu dahulu kampung saya pun suka bentrok dengan musuh bebuyutan kampung saya, tapi ketika virus Persija sudah masuk di wilayah kampung saya, maka semua pun berubah 180 derajat.
ketika saya sedang menonton Persija di Lebak bulus dengan wilayah kampung saya, saya pernah bertemu dan satu bus dengan salah satu wilayah kampung musuh bebuyutan kampung saya, mereka mengetahui kami suka Persija, dan kami sebaliknya, abahkan kita baik-baik saja. Bernyanyi layaknya tidak ada masalah apapun, bercanda bersuka ria.
Bukan sebuah mustahil untuk berdampingan dalam satu Tribun yang sama, Warna yang sama dan tujuan yang sama terhadap kebanggan.
Kita pernah menjadi yang terbaik dari yang terbaik, kita pernah mengikis tawuran di Jakarta seperti apa yang diucapkan bung Ferry tersebut, lalu apakah kalian masih mau berselisih pendapat dengan anak Jakarta lainnya?
Bukan kah kita satu Warna?
Bukan kah kita satu kebanggan?
Cuma hanya berbeda seragam, berbeda suku, kalian rela menghilangkan sebuah nyawa ataupun menyakiti sebuah perasaan yang notabennya sama seperti kalian yang suka Persija ?
Ketika kita satu tribun, kita bukan boedoet, bukan camp java, bukan bonser, bukan Manggarai, bukan Kemayoran bukan tanah Abang. Tapi kita Jakmania!
Bukan kah bung Ferry pernah berkata:
Selamanya Persija, semua bersaudara..
Persija, menyatukan kita semua!
Stop tawuran Pelajar, lebih baik kita bersama memajukan Sepakbola Jakarta.

DIkirimkan oleh: Riswanto Saputra

Share post :

1 Response

Leave a Reply