Mengapa Kita Perlu Bersama Tamansari?

Kesewenangan  kembali tersaji. 17 rumah yang dihuni 40 jiwa di RW 11, Kelurahan Tamansari, digusur secara paksa. Penggusuran yang tentu saja diiringi kisah-kisah kekerasan oleh mereka yang memiliki kekuatan dan kekuasaan.

Kamis (12/12) dengan dalih memiliki hak atas lahan yang dihuni warga, Pemerintah Kota Bandung melakukan pengosongan, penghancuran, dan pengusiran warga untuk kemudian membangun rumah deret dengan alasan penataan kota.

Apa yang terjadi di Tamansari menarik semua mata, termasuk mata kami. Sama seperti yang lain, kepedulian itu hadir. Sedikit yang kami punya, segala yang kami bisa, coba kami beri dan lakukan.

Melalui penggalangan dana hasil penjualan t-shirt yang kami punya, uang Rp. 1 juta kami kirimkan pada 20 Desember lalu. Kami sadar, uang Rp. 1 juta mungkin bukan jumlah yang besar. Terlebih apa yang dialami warga RW 11 Tamansari, bukanlah hal sepele. Mereka kehilangan rumah, harta benda, bahkan mungkin kehilangan harapan.

Namun begitu, kami Sepakbola Jakarta berharap apa yang kami lakukan menjadi semacam dukungan moral. Sepakbola Jakarta ingin para korban penggusuran paksa tahu bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa banyak orang yang ada di sekeliling mereka memberi kehangatan dan menumbuhkan kembali harapan.

Begitupun kala Tamansari Melawan menggeruduk Jakarta. Ada teman-teman suporter ibu kota yang juga merapatkan barisan. Bergandengan, saling menguatkan.

Sayangnya, dari semua yang dilakukan masih ada saja yang bertanya apa perlunya mendukung teman-teman Tamansari yang mungkin sebagian besar adalah suporter rival kita. Jawaban sederhananya adalah karena kita manusia.

Bila mau lebih jauh, alasan lain adalah tidak ada ruang untuk kesewenangang-wenangan. Ya, kesewenangan. Karena sampai rumah terakhir dirobohkan, Pemerintah Kota Bandung tidak pernah dapat menunjukkan surat hak atas lahan yang disebutkan. Sedangkan proses hukum masih berjalan dan belum ada putusan tetap. Jangan sampai, saat rakyat menang atas gugatan namun rumah miliknya tidak lagi tersisa.

Selain itu, mereka telah tinggal disana lebih dari 50 tahun serta memenuhi syarat administrasi termasuk membayar pajak dengan rapih.

“Mereka mengambil pajak-pajak dari kita, tapi mereka membunuh-bunuh kita juga. Melukai, dan membuat rakyat makin sengsara dengan undang-undang yang tidak sesuai dengan undang-undang dasar 45.” Teh Eva, warga Tamansari dalam orasi di depan Kantor Kementerian ATR/BPN (13/1).

Untuk lebih jelas mengenai runtutan kejadian bisa dilihat melalui, https://drive.google.com/file/d/19HShahb_14fnianA5zGSjeFcc9fvp5D-/view

Alasan terakhir, penggusuran paksa dalam bentuk apapun itu pastilah melanggar hak asasi manusia. Terlebih dalam praktiknya, kekerasan mengiringi. Pemukulan dan intimidasi lain banyak dilakukan oleh mereka yang berseragam. Bukan hanya air mata, darah juga menghiasi.

Yang pasti, jika penggusuran secara sewenang-wenang bisa terjadi di Tamansari, kemungkinan di tempat lain juga demikian. Mungkin berikutnya di Jakarta, atau bahkan di rumah kita.

Dengan apa yang dilakukan, teman-teman Sepakbola Jakarta ingin menegaskan. Meski berada di Jakarta dan jelas pendukung Persija Jakarta, tidak lantas membuatnya buta dengan apa yang terjadi di Bandung.

Bagi kami, rivalitas penting untuk dijaga. Hanya saja bagaimana menyikapi dan memposisikan rivalitas, itu lebih penting. Saat seperti ini bukanlah saat yang tepat membicarakan rivalitas yang sebaiknya sejenak dikesampingkan.

Jika rivalitas itu 90 menit pertandingan, ini adalah masa waktu tambahan. Waktu di mana semua bisa terjadi. Termasuk apa yang kami lakukan yang mungkin tidak diduga akan terjadi oleh kebanyakan orang.

Share post :

Leave a Reply