Menanti Kejelasan Nasib Kompetisi Internal Persija

Tersendatnya kompetisi internal Persija yang tak berjalan hingga sekarang disebabkan berbagai faktor, terutama keterbatasan lapangan.

Apa kabar kompetisi internal Persija? Ya, Kompetisi yang dulu selalu diadakan oleh Persija untuk mencari pemain berbibit unggul yang berasal dari 30 klub anggota Persija ini, telah melahirkan banyak pemain legenda. Mungkin jika pembaca pernah mendengar atau tahu nama pemain mulai dari Djamiat Dhalhaar (UMS), Soetjipto Soentoro (PS Setia), Adityo Darmadi (Menteng Junior) sampai Danur Windo (PS Jayakarta). Mereka semua adalah gemerlap pemain klub internal yang sukses dari pembinaan kompetisi klub internal.

Bisa dibilang bahwa klub internal Persija itu adalah rahim Persija, berperan penting menghasilkan pemain berkualitas di usia dini. Banyak sekali pemain terkenal yang bermuara dari kompetisi internal. Lalu bagaimana nasib kompetisi internal Persija sekarang?

Kembali melihat sejarah, terlebih di medio 70-an dan 80-an. Banyak sekali pemain dari klub internal yang eksis. Pemain klub dari internal Persija tak hanya andalan penyokong bagi Persija sendiri. Bahkan timnas Indonesia pernah merasakan pemain yang berasal dari klub internal Persija.

Kompetisi internal yang dulu diadakan di Stadion Menteng selalu saja mendapatkan bintang baru dari setiap perwakilan anggota klub. Kini kompetisi internal yang dulu sangat berjaya seperti redup, tidak lagi wah seperti era 80-an apalagi 70-an. Kompetisi internal yang bisa di bilang terbengkalai menjadi suatu keprihatinan.

Baca juga:
Memberdayakan Keberadaan Klub Internal Persija
Perkenalkan Kompetisi Internal Persija

Bagaimana tidak prihatin? Berbagai anggota internal Persija yang jumlahnya sebanyak 30 klub. Hanya menyetorkan nama Daryono dari PSAL yang berasal dari klub internal, itupun Daryono juga hanya menjadi pelapis di posisi penjaga gawang. Apa kendala dari kompetisi ini sehingga tidak dapat lagi berjalan dengan mulus?

Minimnya fasilitas beserta infrastruktur yang tidak memadai

Beberapa hari yang lalu tepatnya pada pertandingan Persija melawan PS TNI. Penulis sempat mewawancarai salah satu pengurus anggota klub internal Persija dari klub Gunjati FC, Umar Ali. Menurut beliau sendiri, sebenarnya kompetisi internal sedianya akan dilaksanakan pada 29 September kemarin. Namun, karena adanya kendala teknis, kompetisi internal harus molor dari tanggal yang telah ditentukan.

Kendala itu tidak lain karena faktor paling penting dalam menjalankan kompetisi internal belum menemui titik terang, lapangan. “Kompetisi sebenarnya tetap akan kita jalankan. Kita biasa mengadakan kompetisi internal di lapangan Banteng. Tapi, karena lapangan Banteng yang sudah mulai renovasi pada tanggal 1 Oktober dan akan diperkirakan selesai pada awal Januari 2018,” ungkap Umar.

Umar juga mengatakan, permasalahan sulit dan mahalnya biaya sewa lapangan di Jakarta membuat kompetisi internal Persija mundur dari jadwal semestinya. “ Ini menyebabkan penyelenggaraan kompetisi internal terlambat. Kita biasa main di Banteng dengan biaya sewa 200 ribu per-pertandingan. Lalu, jika di luar lapangan Banteng, rata-rata biaya sewanya bisa sampai 2 juta per-pertandingan.” lanjutnya.

Masalah susahnya mendapatkan lapangan di Jakarta memang tidak di pungkiri oleh Umar. Semenjak Stadion Menteng digusur yang dulu sebagai kegiatan kompetisi dan pusat pelatihan Persija. Sekarang, Persija seperti kesulitan untuk menemukan tempat bagi penyelenggaraan kompetisi internal, salah satu opsi adalah mengandalkan lapangan Banteng sebagai satu-satunya tempat menyelenggarakan kompetisi internal.

Apalagi, Umar berpendapat bahwa peran penting lapangan wajib terlaksana jika ingin menghasilkan suatu kompetisi internal Persija yang bermutu. Mengatasi sulitnya ketersediaan lapangan di Jakarta untuk menyelenggarakan kompetisi internal. 30 anggota klub internal ternyata mempunyai inisiatif sendiri agar kompetisi internal ini bisa segera terlaksana.

“Kita sudah bikin kesepakatan, jika pengurus pusat Persija masih  juga terkendala dengan lapangan. Kita teman-teman dari klub internal Persija berinisiatif mencari lapangan, dan klub internal yang punya tempat latihan akan kita pakai, jika lapangan itu memenuhi standar. Jika telah memenuhi standar, bisa saja kompetisi langsung dijalankan. Tapi jika tidak ada lapangan yang memenuhi standar, rasanya riskan untuk menjalankan kompetisi yang berkualitas.” ujar Umar.

Mencari lapangan yang memenuhi standar di daerah Jakarta memang tidak mudah. Apalagi untuk mengadakan kompetisi jangka panjang memang terasa sangat sulit jika syarat penting yakni lapangan saja masih belum jelas. Di tambah ada wacana bahwa kompetisi internal Persija tidak lagi hanya diadakan di lapangan Banteng. Melainkan kompetisi akan dijalankan dengan sistem home dan away.

Sebenarnya, Umar sendiri telah menerangkan bahwa Direktur Utama Persija Jakarta yakni Gede Widiade ingin roda kompetisi internal Persija kembali berjalan. “Beberapa waktu lalu, sempat ada pertemuan antara kami dari pengurus klub internal Persija dengan pak Gede di Kemayoran. Pak Gede juga bilang, kenapa bukan dari bibit pemain kita saja (klub internal) yang dipakai,”

Umar sendiri berharap ada andil besar pak Gede untuk menangani polemik mandegnya kompetisi internal Persija. Harus tersedia lapangan yang memadai, menjadi syarat mutlak untuk pembangunan kompetisi. Apalagi setiap klub internal Persija mempunyai program dalam penyediaan pemain dari U-16 hingga U-21 untuk rencana jangka panjang, supaya terus bertumbuhnya benih pemain muda bagi Persija.

Terhentinya Kompetisi Internal dapat mengancam masa depan Persija

Tidak kalah dengan daerah lain. Sebenarnya Jakarta mempunyai gudang pesepak bola usia muda yang berpotensi untuk membela tim ibu kota. Tapi jika tidak ada perhatian khusus seperti sarana yang tak menunjang, hal ini bisa mengancam pemain yang berasal dari Jakarta untuk dapat memperkuat tim daerahnya. Tentu akan berimbas dengan bisa berpengaruh ke masa depan Persija yang akan sulit mempunyai pemain muda yang berkualitas.

Pengurus klub Gunjati FC itu juga berterus terang, jika kompetisi internal tidak dapat dijalankan dengan semestinya, akan membuat kesulitan tersendiri khususnya bagi anggota klub internal terlebih Persija untuk mendapatkan pemain muda. “Di Jakarta, kita punya pemain yang siap kita orbitkan. Tanpa adanya lapangan serta kompetisi yang berjangka panjang, tidak mungkin kita bisa menghasilkan pemain yang dibutuhkan untuk Persija.”

Umar menaruh harapan bagi pengurus pusat Persija, begitu pula dengan para pengurus klub internal lainnya. Pengurus pusat Persija bersama yayasan Persija diharapkan untuk  memperhatikan sarana dan pra-sarana yang dibutuhkan oleh klub internal, yang paling penting sekarang adalah tersedianya lebih dulu lapangan yang memadai untuk kompetisi Internal agar bisa hidup kembali.

Tentunya ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus pusat Persija untuk mendapatkan sarana lapangan yang dibutuhkan oleh klub internal Persija, dengan menjalin kerja sama berbagai pihak. Termasuk peran pemerintah daerah DKI Jakarta dalam pembangunan infrastruktur. Bahwa susahnya untuk bisa bermain sepak bola di Jakarta memang bukan sekadar mitos.

Kita tentu merindukan pemain-pemain yang berasal dari klub internal Persija, pemain yang memang berasal dari binaan Persija. Kompetisi yang melahirkan para pemain hebat itu sendiri agar bisa cepat hidup dan tumbuh kembali. Jayanya kompetisi klub internal dengan menjadikan para klub anggota Persija  bisa eksis kembali seperti dulu. Karena sejatinya, identitas selain Persija berwarna merah dan putih, adalah Persija juga dikenal aktif memproduksi pemain berbakat dari setiap anggota klub internal.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
92 views

1 Response

Leave a Reply