Menabung Rindu, Memupuk Harapan

Oleh Ilham Hermansyah (@glembosisme),

Saat membaca cerita tentang Perang Dunia 1, saya jadi teringat ketika masa perang menuju fase akhir (Februari-November 1918). Entah bagaimana mulanya, muncul sebuah virus yang begitu mematikan dan penyebarannya begitu masif sehingga menyebabkan banyak orang terpapar lantaran penularannya melalui udara. Belakangan, virus tersebut kita kenal dengan nama Flu Spanyol.

Jika ada yang bertanya faktor lain bagaimana virus tersebut cepat menular, jawabannya adalah Sepakbola. Sebab, sejumlah liga-liga yang bergulir di masing-masing wilayah tidak dihentikan perhelatannya, termasuk Copa del Rey. Sepakbola menjadi barang yang digilai publik Spanyol, namun di tengah kehadiran wabah, justru menjadi malapetaka baru.

Belakangan, berita tentang kemunculan wabah yang menggemparkan dunia terjadi di awal tahun 2020. Atas nama kepongahan, Indonesia turut menjadi tuan rumah yang mau tidak mau menerima kehadiran tamu yang bernama Covid-19 tersebut. Akhirnya, kehadiran wabah tersebut berdampak ke semua sendi kehidupan, termasuk sepakbola.

Padahal, kompetisi tahun 2020 bisa dibilang sarat akan gengsi. Sebelum liga dimulai, masing-masing tim saling beradu dibursa transfer. Tak terkecuali Persija Jakarta. Sejumlah pemain bintang mendarat di Ibukota, antara lain: Evan Dhimas, Alfath Fathier, Osvaldo Haay, Otavio Dutra, hingga Marc Klok mengisi jajaran daftar pemain. Sederet nama pemain tersebut dinilai dapat menjadikan performa Persija di musim 2020 laiknya milisi tempur.

Mungkin saya, fans Persija, atau penggemar bola lainnya akan berpikir bahwa di tahun 2020 akan menjadi musim yang menguntungkan bagi Persija. Sebab skuat Macan Kemayoran akan tampil sebagai tim yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tagline #BelieveInTwelve mulai digaungkan sebagai bentuk pertanda bahwa Persija mempunyai kepercayaan dalam mengarungi kompetisi dan berupaya meraih kesuksesan dalam setiap pertandingannya. Namun, Covid-19 datang dengan rencananya sendiri.

Kompetisi baru bergulir beberapa pekan dan Persija baru saja menjalani dua pertandingan, melawan Borneo FC dan Bhayangkara FC, belum sempat melihat aksi dari tim besutan Sergio Farias di pertandingan selanjutnya, namun kompetisi kadung dihentikan karena penyebaran Covid-19 yang semakin merebak.

Sebuah kebijakan untuk menghentikan perhelatan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 dikeluarkan secara resmi oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada hari Minggu, 22 Maret 2020. Sebuah keputusan yang masuk akal, setidaknya bagi saya sendiri. Sebab, apabila tidak dihentikan, mungkin saja apa yang terjadi di Spanyol satu abad silam akan terjadi pula di Indonesia.

Dengan begitu, artinya, kita harus berpuasa menyaksikan pertandingan sepakbola untuk beberapa waktu ke depan. Tak ada pertandingan sepakbola di akhir pekan sebagaimana biasanya.

Sebagaimana masyarakat perkotaan, mungkin masih banyak hiburan lain yang dapat dinikmati, namun sepakbola masih menjadi satu dari sekian banyak hiburan yang dipilih. Menyaksikan Persija berlaga kerap menjadi eskapisme di tengah rutinitas yang menyebalkan: kemacetan, pekerjaan, bahkan percintaan yang kurang beruntung. Dengan kata lain, kehidupan kota begitu kompleks, dan sepakbola adalah salah satu penawarnya.

Diberhentikannya kompetisi musim ini tentu bukan tanpa alasan. Kurva yang semakin meningkat serta makin bertambahnya korban yang terpapar menjadikan alasan keselamatan dan kesehatan menjadi lebih penting dibandingkan sepakbola sekalipun.

Memang berat rasanya. Selain harus bersabar melawan Covid-19, kita juga harus rela kehidupan tidak diisi dengan pertandingan sepakbola. Kita harus menunda melakukan hal-hal yang kerap kita lakukan acapkali hari pertandingan tiba.

Kita tak bisa berjalan beramai-ramai menuju stadion beberapa menit sebelum kick off tiba. Kita tidak bisa berdiri di tribun sambil meneriakkan nyanyian-nyanyian penuh semangat kepada tim. Kita tidak bisa berpelukan bersama teman-teman ketika terciptanya sebuah gol. Kita tidak bisa bepergian jauh untuk memenuhi panggilan hati ketika Persija bertandang ke kandang lawan. Dan, kita tidak bisa menyaksikan Persija menggilas lawan-lawannya dengan permainan-permainan yang apik. Pendeknya, kita tidak bisa merayakan sepakbola dengan segala hal di dalamnya.

Agaknya kita perlu mengerti, semua itu semata-mata untuk kepentingan kita juga. Kendati roda perekonomian semuanya menjadi macet, namun kesehatan dan keselamatan nyawa lebih penting dibandingkan ekonomi itu sendiri, bukan?

Persija memang digadang-gadang akan menjadi tim yang sukar dihadapi pada musim ini, terbukti dengan adanya pemain bintang di tubuh tim. Tapi, kehadiran Covid-19 justru menjadi malapetaka sekaligus tantangan baru. Di tengah ketidakpastian ini, agaknya Persija perlu menjaga harapan #BelieveInTwelve itu agar tidak padam. Menjaga harapan berarti pula menghidupkan hidup. Sebab, dibalik segala tindak-tanduk yang ada, sepakbola adalah tempat milyaran orang menaruh harapan.

Beberapa waktu lalu, PSSI melakukan rapat virtual bersama para tim. Tujuannya: membahas kelanjutan sepakbola Indonesia di tengah pandemi. Beragam pendapat bermunculan. Ada yang sepakat kompetisi dilanjutkan dengan format baru serta ada pula yang meminta untuk tetap diberhentikan.

Saya pikir, selama penanganan Covid-19 di Indonesia masih belum maksimal, selama itu pula kita perlu menunda hal-hal yang tidak ada urgensinya. Kendati ada arahan untuk tetap memberlakukannya sesuai protokol kesehatan, tetapi itu malah menjadi sebuah paradoks. Alih-alih memenuhi kebutuhan ekonomi para orang-orang yang bergantung hidup pada sepakbola, tapi justru membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menggelar setiap pertandingannya.

Ini bukan hanya pertarungan antara pilihan berat atau tidak, namun juga pilihan masuk akal atau tidak. Kita mungkin sama-sama paham bahwa semua butuh penghasilan untuk bertahan hidup, namun apabila sepakbola digulirkan kembali, nantinya malah akan menjadi pusat baru dari penyebaran virus. Saat ini yang bisa dilakukan oleh manajemen tim mungkin dengan melakukan penyesuaian apa yang ditulis dalam kontrak awal dengan pemain maupun dengan sponsor. Sebab, Covid-19 mengacaukan itu semua.

Mungkin yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjaga diri serta orang-orang terdekat agar terhindar dari paparan virus. Bersamaan dengan itu, kita perlu menabung semua rindu akan sepakbola dan menjaga harapan #BelieveInTwelve agar tetap tumbuh dan terjaga. Ya, paling tidak untuk kita sendiri.

Sampai pada akhirnya kita bisa saling bertemu lagi di hari pertandingan sebagaimana biasanya. Berjalan menuju stadion layaknya menuju tempat ritual keagamaan. Menyanyikan yel-yel penuh semangat layaknya mendaraskan puja-pujian. Dan melihat arahan pelatih kepada pemain laiknya petuah para nabi yang diamini. Pendeknya, sampai jumpa di hari yang dinanti, dimana kita sama-sama kembali merayakan sepakbola dengan penuh sukacita.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
181 views

Leave a Reply