Memberdayakan keberadaan Klub Internal Persija

sepakbolajakarta.comHari minggu yang lalu (26/02) Persija Jakarta melalui Yayasan Persija Muda sukses menyelesaikan hajatan turnamen dibawah usia 17 dengan tema Tribute to Jakarta – Tribute to Persija di tahun pertamanya dengan menjadikan tim internal mereka yakni PS Setia sebagai jawara setelah mengalahkan Bintang Muda Senayan U-17 dengan skor 5-1 pada turnamen yang di ikuti oleh 22 tim tersebut, termasuk mengikut sertakan beberapa tim internal Persija Jakarta dan klub-klub amatir yang berada di Jakarta.

Jika membahas tim internal Persija, Persija memiliki 30 klub internal. Lalu yang menjadi pertanyaan muncul belakangan ini adalah, siapa pemain klub internal Persija yang sekarang bermain untuk Persija di tingkatan senior? Jawabannya adalah tidak ada. Padahal, dari dulu klub internal Persija banyak mencetak pemain berkualitas dan diantara pemain-pemain internal Persija, mereka tercatat sebagai bagian sejarah persepakbola-an nasional.

PEMAIN INTERNAL SEBAGAI IDENTITAS PERSIJA.

Penggunaan pemain internal Persija tak bisa dilepaskan Persija itu sendiri dari setengah abad yang lalu, dimulai dekade 1950-an hingga masuk millennium baru. Mencontoh hasil pembinaan pemain tim internal sendiri yang gemilang akan prestasi, seperti di era perserikatan misalnya. Terdapat nama seperti Tan Lioung Houw dari Tunas Jaya dari Tunas Jaya yang mengantarkan kemenangan untuk Persija tahun 1954. Lanjut Soetjipto Soentoro atau dikenal dengan julukan si gareng yang berasal dari PS Setia, yang turut membawa Persija juara tahun 1964.

Foto kesebelasan Persija Jakarta era tahun 70-an yang di dominasi oleh pemain-pemain dari klub internal Persija.

Lalu nama-nama seperti Sofyan Hadi maupun Anjas Asmara yang keduanya sama berasal dari PS Jayakarta. Banyaknya pemain dari internal persija yang menghiasi Kegemilangan sepakbola negeri ini menunjukan eksisnya pemain internal Persija dan begitu sumbangsihnya pemain dari klub internal Persija untuk sepakbola nasional.

Penggunaan pemain tim internal Persija di tahun 1975 misalnya yang ke-30 pemain di dalamnya adalah hasil dari klub internal dengan menjadikan Persija juara walaupun dengan status juara bersama PSMS Medan. Terakhir, Persija Jakarta hanya memakai satu pemain langsung dari klub internal di awal kompetisi tahun 2012 yakni Adixi Lenzivio, anak dari Adityo Darmadi yang keduanya juga sama-sama berasal dari klub Menteng FC termasuk Didik Darmadi, kakak dari Adityo Darmadi. Sebelum merangkak ke senior, Adixi terlebih dulu membela Persija U-21.

Nama Adixi Lenzivio adalah bagian cita rasa terakhir pemain klub Internal hingga akhirnya tahun 2015 ia tak lagi berseragam Persija, sekaligus menjadikannya pemain dari klub internal Persija terakhir yang membela tim Persija sampai sekarang.

POLEMIK PERMASALAHAN DI TUBUH TIM INTERNAL PERSIJA.

Tidak adanya pemain dari kandungan rahim Persija sendiri yang memperkuat Persija sekarang, ternyata karena banyaknya masalah yang hinggap di setiap anggota tim internal. Mulai dari tidak adanya fasilitas yang menunjang seperti sulitnya mencari lapangan di Jakarta untuk setidaknya mengadakan latihan rutin. Mau bagaimana lagi? Jangankan latihan untuk tim internal, tim sekelas elit senior Persija saja kadang kesulitan dalam mencari tempat latihan yang membuat tim ini harus berpindah-pindah tempat.

Ditambah minimnya kualitas kompetisi tim-tim anggota Persija Jakarta sekarang menyebabkan kualitas pembinaan pemain usia muda Persija begitu buruk untuk mengembangkan potensi bakat anak-anak Jakarta yang mempunyai impian masa depan bermain di Persija.

Bahkan beberapa klub internal Persija lebih banyak di isi oleh pemain yang berusia di atas 20-30 tahun bukan pemain 20 tahun kebawah, sehingga perkembangan bibit pemain muda di tim internal bisa dibilang sangat terhambat. Presiden Persija Jakarta yakni Ferry Paulus juga mengakui, pembinaan di tim internal Persija masih jauh dari harapan. Pelatih di klub internal juga semuanya tidak mempunyai lisensi kepelatihan formal untuk menunjang konsep pengembangan pemain usia muda.

Faktor yang menunjukan buruknya kualitas dan kuantitas internal tim Persija seperti jabaran diatas sekarang, membuat Persija bergerilya mencari pemain muda hingga luar kota Jakarta bahkan luar pulau. Tentu kita masih ingat dengan seleksi U-21 yang dilakukan Persija Jakarta beberapa waktu lalu. Persija mencari pemain hingga ke pelosok daerah di Indonesia seperti Aceh, Makassar, Manado dan Depok untuk menjadi bagian tim Persija Jakarta. Itupun juga diutamakan harus punya pengalaman bermain di divisi utama atau yang pernah memperkuat Persija U-21.

 Melakukan pencarian pemain muda di luar daerah Jakarta, Persija dianggap kurang percaya bahkan tidak mempercayai talenta anak-anak Jakarta yang notabene-nya berada di kampungnya sendiri. Kritik bermunculan dari suporter, penikmat sepakbola tanah air hingga anggota tim internal, seperti ungkapan salah satu klub internal Persija yakni PS Mahasiswa.

“Klub-klub internal adalah wadah Persija untuk mendapatkan pemain muda. Kompetisi internal kami memang masih bergulir, tapi kenyataannya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Persija”. Ujar ketua umum PS Mahasiswa, Biner Tobing yang merasa kecewa dengan Persija karena kurangnya kepercayaan dengan produk dari tim internal mereka sendiri.

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN PEMAIN INTERNAL PERSIJA.

Jika kita membaca program target Basic Development lewat Yayasan Persija Muda, Persija ingin mengembangkan pesepakbola usia muda dan pelatih sepakbola muda berbakat dan intinya tentunya harus tercapai dengan lagi-lagi memperbaiki sistem persepakbolaan usia muda lewat SSB klub internal Persija.

Persija diharapkan bisa mengembalikan identitas sekaligus kejayaan status pemain internal seperti masa lalu, kursus kepelatihan untuk pelatih tim internal sebagai penopang kualitas pembinaan harus di galak-kan. Kompetisi internal Persija Jakarta juga harus menjadi fokus perhatian, setelah sukses turnamen ‘Tribute to Jakarta – Tribute To Persija’ dan berbagai turnamen sepakbola mendatang seperti kompetisi U-21+ Persija yang menjadi agenda Yayasan Persija Muda kedepan. Memperhatikan pengembangan pemain usia muda di dalam keanggotaan tim internal dan pastinya turnamen atau kompetisi yang mencari talenta muda itu harus diadakan secara jelas dan rutin setiap tahun.

Di isi skuad dengan pemain-pemain berlatar belakang usia muda di Persija sekarang memang baik dan tidak menyalahi aturan. Tapi alangkah baiknya jika Persija bisa memaksimalkan potensi binaan klub internal itu sendiri, ciri khas semangat produk lokal Jakarta  dengan memperbaiki segala aspek penunjang pengembangan usia muda untuk para anggotanya, agar tidak perlu kelimpungan dalam mencari bakat muda pesepakbola hingga ke luar daerah.

Memahami keberadaan tim internal, mereka bukan cuma perkumpulan dengan tugas sekadar hanya sebagai voters atau pendulang suara ketika dalam pemilihan pemimpin Persija. Tentunya, tugas keberadaan mereka juga tidak boleh lupa dengan misinya sebagai pabrik bibit-bibit pesepakbola usia dini sebagai investasi jangka panjang sepakbola yang berkualitas bagi sepakbola Jakarta juga Persija, bahkan untuk kemajuan sepakbola Indonesia di masa mendatang.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
184 views

2 Responses

  1. Jenar anggara

    Saya salah satu pemain dari klub internal persija dari jakarta putra dan sekarang saya main di atamora fc,,memang persija tidak pernah mempercayai pemain klub” internal klo seleksi pasti ada aja pemain titipan entah itu dari mana skrg pemain villa 2000 yg selalu jd pemain persija

  2. Pingback : Menanti Kejelasan Nasib Kompetisi Internal Persija – Sepakbola Jakarta

Leave a Reply