Lembayung Senja Di GBK

Ada sebuah istilah dalam bahasa Yunani kuno yang disebut Agape, yang kira-kira artinya adalah bentuk paling murni dari sebuah hal yang biasa kita sebut cinta, seperti cinta antara Tuhan dan hambanya, juga cinta antara orang tua dan anaknya. Dalam kehidupan modern, mungkin bisa ditambahkan, salah satu bentuk nyata dari Agape adalah cinta seorang pendukung klub sepakbola kepada klub sepakbola yang didukungnya.

Kecintaan seorang pendukung klub sepakbola adalah sesuatu yang kudus, sesuatu yang jika kita bukan merupakan bagiannya, kita tidak akan pernah mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi. Sesuatu yang membuat orang-orang yang tidak pernah berhubungan dengan sepakbola akan terheran-heran terhadap militansi dan fanatisme seorang pendukung sebuah klub sepakbola.

Sesuatu yang membuat bingung banyak orang itu terjadi pada hari Minggu, 9 Desember 2018.

***

Menyandang status sebagai tim sepakbola dari ibu kota sebuah Negara, otomatis membuat Persija mendapatkan perhatian yang besar dari jutaan pasang mata. Hal apa pun yang dilakukan olehnya atau pendukungnya, sekecil apa pun, tentu saja akan memancing perhatian khalayak ramai. Ditambah, Persija merupakan tim sepakbola tersukses di Indonesia, di negara yang katanya negara sepakbola ini.

Dengan sepuluh gelar juara kompetisi sepakbola kasta teratas Indonesia, yang diraih tanpa sekali pun turun kasta, semakin membuat Persija menjadi raksasa di pentas sepakbola Indonesia. Hanya saja, sepuluh gelar itu sudah tidak pernah lagi bertambah sejak tahun 2001. Lebih dari tujuh belas tahun, hampir dua dekade lamanya Persija tidak pernah lagi juara kompetisi sepakbola kasta teratas Indonesia.

Status tim besar hanyalah kenangan masa lalu yang tiap tahun dipoles agar tetap mengilap bila dilihat. Beruntungnya, selama tujuh belas tahun itu, tidak ada tim yang berhasil melewati pencapaian Persija tersebut, hingga Persija tetap bisa menyandang status tim dengan gelar juara terbanyak kompetisi sepakbola kasta teratas Indonesia.

Tetapi, semua hal itu berubah pada hari Minggu, 9 Desember 2018.

Pada hari itu, gelar Persija tidak lagi berjumlah sepuluh.

Pada hari itu, gelar Persija bertambah menjadi sebelas.

***

Satu hari menjelang sepak mula pertandingan terakhir Liga Indonesia musim 2018, Stadion Utama Gelora Bung Karno dipakai oleh sebuah lembaga keagamaan. Persija yang akan melakoni partai terakhir musim 2018, dan sekaligus partai maha penting pada esok harinya, terancam tidak bisa melaksanakan pertandingan di hadapan publiknya sendiri.

Mengetahui hal itu, para pendukung Persija, The Jakmania, tidak tinggal diam.

The Jakmania, dengan dikomandoi sang ketua, Tauhid Indrasjarief, atau biasa kami panggil Bung Ferry, berinisiatif membereskan Stadion Utama Gelora Bung Karno beserta isinya, tengah malam begitu kegiatan keagamaan tersebut selesai. Agar pembaca bisa membayangkan betapa di luar nalar perbuatan Jakmania tersebut, pembaca harus tahu, bahwa rumput lapangan stadion terbesar di Indonesia itu ditutupi pelindung rumput, seluruhnya. Pelindung tersebut harus diangkat secepat mungkin agar rumput dalam kondisi prima saat pertandingan.

Ditambah, pembersihan tersebut baru bisa dimulai pukul 00.00 tanggal 9 Desember 2018, sementara pertandingan akan dimulai pukul 15.30. Bukan hanya lapangan pertandingan yang dirapihkan, seisi tribun pun juga dibersihkan oleh Jakmania, dengan bantuan petugas PPSU yang dikerahkan Pemprov DKI Jakarta.

Sungguh di luar nalar, perjuangan Jakmania pada tengah malam sampai dini hari itu. Demi melihat kebanggaannya berlaga di hadapan mereka, Jakmania rela tidak tidur untuk mempersiapkan stadion.

Apalagi kalau bukan cinta yang menggerakkan mereka?

Sudah membersihkan stadion pada dini harinya, pagi sampai menjelang sepak mula, Jakmania tetap di stadion untuk mempersiapkan sebuah koreografi yang monumental.

MAKE IT ELEVEN” begitulah isi tulisan dari koreografi Jakmania yang memenuhi tribun pada hari itu. Sebuah doa dan harapan agar Persija bisa memenangkan pertandingan hari itu dan meraih gelar ke sebelasnya selama 90 tahun setelah berdiri.

MAKE IT ELEVEN” sudah gencar di media sosial sejak beberapa hari sebelum pertandingan penentuan tersebut. “MAKE IT HAPPEN, MAKE IT ELEVEN” lengkapnya, dicetuskan oleh sekretaris umum Jakmania, Diky Soemarno di akun twitternya, sejak beberapa hari sebelum pertandingan. Seluruh Jakmania di penjuru dunia langsung membuat kata-kata tersebut terdengar hingga seantero bumi. Sampai pada akhirnya dijadikan koreografi yang monumental itu.

Dengan segala kesulitan yang terjadi, pada akhirnya pertandingan bisa digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno tepat pada pukul 15.30 waktu Jakarta.

Semua pemain yang terlibat pada hari itu akan dikenang selamanya. Semua staff pelatih, staff manajemen, Bang Udien Sutasoma, juru masak di mess pemain, dua bapak-bapak angkatan udara yang selalu mengawal Persija di dalam bus -yang saya tidak tahu namanya- juga akan dikenang dalam berpuluh-puluh tahun ke depan.

Semua orang yang terlibat sejak tengah malam tanggal 9 Desember 2018 hingga tengah malam berikutnya, akan sangat bangga dengan apa yang mereka lakukan pada hari itu. Kelak, apa yang mereka lakukan itu akan menjadi cerita yang sangat menarik untuk keturunan mereka nantinya.

Bung Ferry, yang sudah merasakan gelar 2001, dan akhirnya merasakan gelar 2018, pasti menjadi Jakmania paling bahagia saat itu. Tidak banyak pemain dan Jakmania yang bisa merasakan gelar 2001 dan juga 2018. Bung Ferry sangat beruntung bisa menjadi aktor penting pada dua gelar Persija tersebut.

Stefano Cugurra atau yang biasa kita panggil Teco, namanya akan abadi pada tiap ingatan Jakmania yang merasakan gelar 2018. Ismed Sofyan, kapten musim 2018, akhirnya berhasil meraih juara liga Indonesia setelah 16 tahun kedatangannya di Persija. Bambang Pamungkas, satu-satunya pemain aktif yang merasakan dua gelar juara liga Indonesia bersama Persija. Gede Widiade, saya berhutang permintaan maaf dan ucapan terima kasih padanya.

Biasanya dalam setiap kesuksesan, selalu saja ada pertanyaan “Siapa yang paling berjasa atas gelar ke sebelas ini?”

Jawabannya, tidak ada, ini raihan semua insan yang mengabdikan dirinya untuk Persija.

The Jakmania, yang tidak hanya berkorban materi, tapi juga nyawa untuk mengawal Persija. Manajemen yang sudah sekuat tenaga membawa Persija kembali pada masa kejayaan, pemain yang sudah bermain dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga sepanjang musim, sponsor yang dengan uangnya Persija bisa menjalani musim 2018 dengan lancar, Pemprov DKI Jakarta, yang walau pun hanya membantu di penghujung musim, kita tidak boleh melupakan perannya tersebut, rekan-rekan media yang selalu memberikan pemberitaan mengenai Persija, baik itu pemberitaan positif atau negatif.

Terima kasih yang paling spesial juga harus kita tujukan kepada rival-rival kita, yang tanpanya kita tidak bisa mencapai level ini. Terima kasih sudah menjadi pelengkap musim 2018, musim milik Persija.

Terakhir, Haringga, Bang Ambon, Bang Fathul Mulyadin, Fachreza, Agen Astava, dan semua Jakmania yang kehilangan nyawanya demi Persija, Persija sudah juara, kota ini sudah juara, dan akan juara lagi pada tahun-tahun berikutnya, semoga kalian tenang di sana, juara ini untuk kalian juga.

Akhirnya, setelah pada tahun 2005 gagal dua kali di GBK, tiga belas tahun kemudian, Persija berhasil juara di GBK.

Akhirnya, setelah selama semusim berkandang di enam stadion yang berbeda, setelah sempat berada di papan tengah klasemen liga, setelah berbagai macam kesulitan yang berhasil kita lalui bersama sepanjang musim, penantian panjang itu berakhir di tabggal 9 Desember 2018.

Semoga tulisan singkat ini dapat sedikit merekam momen-momen yang terjadi menjelang datangnya gelar juara ke sebelas tahun 2018, tulisan ini harus dibuat, agar momen juara 2018 abadi, agar momen juara 2018 dapat terus diingat oleh generasi-generasi selanjutnya, agar semua orang yang terlibat merasa bangga atas apa yang dilakukan saat itu. Agar kita semua bisa ingat, betapa nikmatnya tangis haru pada sore hari itu.

Minggu, 9 Desember 2018, disaksikan lembayung senja di GBK, Persija juara, Jakarta juara.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
265 views

Leave a Reply