Kesempatan Kedua

Tidak semua orang cukup beruntung untuk mendapatkan kesempatan kedua, ketika di kesempatan pertama gagal memanfaatkan kesempatan yang ada. Tetapi, Ivan Venkov Kolev dan Ferry Paulus cukup beruntung mendapatkan kesempatan keduanya di Persija.

Nama pertama, Ivan Kolev, sempat berada di Persija 20 tahun yang lalu, tetapi gagal mencapai ekspektasi yang diberikan manajemen dan Jakmania pada saat itu. Dibekali skuat penuh bintang, dukungan finansial yang bisa dibilang tak terbatas, dukungan pemerintah daerah DKI Jakarta, Ivan hanya berhasil mencapai fase semifinal Liga Indonesia tahun 2000, setelah takluk di semifinal dari sang juara Liga pada saat itu, PSM Makassar.

Setelah gagal di Persija, Kolev meninggalkan Persija untuk menangani Tim Nasional kelompok umur Bulgaria. Uniknya, skuat peninggalan Kolev di Persija, pada musim selanjutnya berhasil merajai Liga Indonesia setelah berhasil mengalahkan raja musim sebelumnya yang mengalahkan tim kolev di semifinal, PSM Makassar.

Sebenarnya ada alasan kuat mengapa Kolev gagal meraih juara di Persija pada kesempatan pertamanya. Musim 1999, merupakan tahun pertamanya melatih di luar eropa. Sudah pasti Kolev memerlukan penyesuaian gaya melatih, dan mengenal para pemain yang dilatihnya. Apalagi, pemain-pemain Kolev pada tahun tersebut banyak yang baru bergabung dengan Persija berbarengan dengan masuknya Kolev ke Persija.

Sudah gagal di musim pertamanya, Kolev malah meninggalkan Persija di musim 2001, padahal di musim 2001 skuat Persija lebih bertabur bintang, dan para pemain musim sebelumnya sudah mulai settled dengan gaya main yang diinginkan Kolev. Beruntung, penerus Kolev, legenda hidup Persija, Sofyan Hadi, berhasil mengantarkan skuat Persija yang sebagian besar merupakan pilihan Kolev merajai Liga Indonesia 2001.

Di kesempatan keduanya, Kolev sudah lebih berpengalaman melatih di Indonesia, materi pemainnya sebagian besar merupakan juara di musim 2018, dukungan finansial dari manajemen, walau tidak lebih baik dari 2001, setidaknya bisa mengakomodir berbagai kebutuhan tim, dan satu lagi yang jauh lebih baik dari kesempatan pertama Kolev di Persija, keberadaan Jakmania yang sudah jauh lebih masif saat ini.

Seharusnya, Kolev tidak akan menemukan kesulitan yang berarti musim ini (selain, tentu saja, federasi dan operator liga yang mengatur jadwal seenaknya). Jika kami adalah manajemen Persija saat ini, target yang akan kami berikan ke Kolev untuk musim ini adalah peringkat 1 sampai 2 liga, juara zona Asean di AFC Cup, dan setidaknya semifinal di Piala Indonesia. Kenapa Piala Presiden tidak kami targetkan? Ayolah, piala itu hanya ajang pemanasan sebelum kompetisi yang sebenarnya dimulai.

Selain Ivan Kolev yang mendapatkan kesempatan keduanya di Persija, ada Ferry Paulus yang musim ini menggantikan posisi Gede Widiade sebagai CEO Persija.

Ferry Paulus pada kesempatan pertamanya di Persija adalah sebuah memori yang kita semua ingin lupakan. Materi pemain pas-pasan, gaji sering terlambat, posisi papan bawah di liga, lapangan latihan selalu berpindah, dan berbagai macam masalah lainnya mengiringi Ferry Paulus saat memimpin Persija di kesempatan pertamanya.

Ketidak beruntungan Ferry Paulus bahkan sudah dimulai di awal masa kepemimpinannya. Baru saja terpilih, Persija langsung mengalami dualisme kepengelolaan. Persija yang dipimpin Ferry Paulus tidak diakui PSSI sebagai Persija yang resmi, dan tidak bisa mengikuti liga resmi yang saat itu berada di bawah naungan PSSI.

Karena hal itu, Persija yang dipimpin Ferry Paulus menempuh jalur hukum atas hak kelola Persija dan pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa perusahaan yang dipimpin Ferry paulus adalah perusahaan yang sah selaku pengelola Persija yang sebenarnya.

Perlu kita akui, sangat besar pengaruh dualisme di awal kepemimpinan Ferry Paulus terhadap kondisi finansial Persija di tahun-tahun berikut masa kepemimpinan Ferry Paulus.

Masa-masa kelam itu, seperti akan berakhir, saat tahun 2015 Persija mempersiapkan skuat penuh bintang untuk QNB League 2015. Tetapi lagi-lagi, keberuntungan belum berpihak kepada Ferry Paulus. Liga yang sejatinya sudah bergulir, tiba-tiba dihentikan pada pekan ketiga oleh PSSI.

Kontrak yang sudah disepakati bersama pemain harus diputus di tengah jalan, mau tidak mau manajemen harus membayar sejumlah nominal tertentu untuk pemutusan kontrak tersebut. Sponsor yang masuk, sudah pasti mengundurkan diri, otomatis perencenaan keuangan yang sudah diatur matang-matang, seketika berantakan dikarenakan pemberhentian liga di tengah jalan oleh federasi.

Sudah pengeluarannya luar biasa besar, ditinggalkan sponsor, pemasukan dari tiket pertandingan tidak ada, lengkap sudah penderitaan Persija saat itu.

Roda kehidupan seperti berputar untuk Persija, tahun 2017 Ferry Paulus melepas sebagian besar saham miliknya di perusahaan yang mengelola Persija. Tampuk kepemimpinan diambil alih oleh Gede Widiade, orang yang sebelumnya ada di balik Bhayangkara FC. Sejak saat itu decision maker di tubuh Persija beralih ke Gede Widiade. Sementara, Ferry Paulus menjadi pemegang saham minoritas di Persija dan menjadi presiden klub.

Di bawah kepemimpinan Gede widiade, tidak ada lagi cerita Persija menunggak gaji pemain, Persija tidak pernah lagi berpindah-pindah tempat latihan, banyak sponsor berdatangan, dan yang paling penting, gelar juara kembali berdatangan setelah beberapa tahun terakhir akrab dengan status tim pelengkap kompetisi.

Tidak lama setelah memastikan Persija menjadi juara Liga 1 2018, tidak disangka, Gede Widiade yang sudah dianggap pahlawan oleh publik sepakbola Jakarta, tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatannya.

Seakan belum cukup kejutan untuk publik sepakbola jakarta setelah Gede Widiade mundur dari jabatannya, tampuk kepemimpinan Persija kembali lagi kepada Ferry Paulus, sosok yang selama ini dianggap gagal memimpin Persija.

Di kesempatan keduanya ini, situasi sudah jauh lebih baik untuk Ferry Paulus. Gede Widiade meninggalkan Persija dalam keadaan yang sehat, baik secara finansial atau pun moral. Juga dengan kondisi persepakbolaan nasional, saat ini sudah jauh lebih stabil jika dibandingkan dengan kesempatan pertama Ferry Paulus memimpin.

Sudah seharusnya, pada kesempatan kedua ini Ferry Paulus melakukan yang jauh lebih baik dari kesempatan pertamanya, dan bahkan juga harus lebih baik dari masa kepemimpinan Gede Widiade.

Tidak ada alasan lagi bagi Ferry Paulus untuk tidak membawa Persija menjadi klub profesional dan disegani di Asia.

Tidak ada alasan lagi bagi Ferry Paulus untuk tidak bisa menyiapkan skuat terbaik tiap musimnya.

Tidak ada alasan lagi bagi Ferry Paulus untuk tidak bisa menyediakan fasilitas yang sesuai standar untuk Persija.

Tidak ada alasan lagi bagi Ferry Paulus untuk gagal kali ini.

Tuntutan kita ke manajemen tahun ini jelas, jika pada era Gede Widiade kita sudah berhasil mendapatkan status klub profesional dari AFC dengan nilai tanpa pengecualian, Persija tahun ini di bawah komando Ferry Paulus dan Ivan Kolev, harus finish di peringkat 1 atau 2 liga, juara Asean di AFC Cup, dan minimal menjadi semfinalis di Piala Indonesia.

Ingat ini baik-baik, tidak ada alasan lagi untuk  gagal tahun ini, Mister Ivan, dan Pak Ferry.

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
32 views

Leave a Reply