Karena Persija Tak Akan Terganti

 

Rasa cinta terhadap sesuatu adalah hal yang manusiawi. Bermacam- macam rasa cinta sering muncul dalam kehidupan manusia, tak terkecuali kecintaan terhadap sebuah klub sepakbola. Awal mula cinta itu tak bisa ditebak dan kapan, dimana, dan bagaimana prosesnya. Tak bisa dihindari dan tak bisa dipaksakan, kalimat itulah yang tak bisa dipisahkan dari kata “cinta”. karena cinta yang asli adalah cinta berasal dari jiwa yang tulus, bukan berasal dari paksaan atau hanya sekedar ikut-ikutan.

Tetapi terkadang ada setitik rasa lelah dan kecewa yang mengikuti di setiap jalannya cinta, yang terkadang membuatnya menjadi terasa pahit, bahkan tak jarang menjadi kesedihan. Hal yang tak bisa dielak dan terkadang membuat hati ingin cepat mengakhiri.

Begitulah yang terjadi saat ini, di saat klub kebanggaan belum mampu mewujudkan impian diri ini bahkan masih sangat jauh dari harapan, terkadang ada bisikan untuk pindah dan pergi. Sedih dan iri ketika melihat klub lain sudah memulai langkah kesuksesannya di negri ini.

Kapan, kapan, dan kapan? Pertanyaan itulah yang selalu timbul dalam hati. Tak sedikit orang yang pindah haluan dan mengganti lambang kebanggaan, hati ini pun dilanda oleh tetap bertahan atau pindah haluan? Lelah, letih, dan kecewa bermunculan. Di sinilah sebenarnya kecintaan kita pada klub berlambang Monas ini diuji.

Namun titik terang datang dari sebuah tempat di dalam diri yang membangkitkan semangat. Hingga rasa lelah dan kecewa ini mulai pergi dan mati. Cinta lama telah kembali yang berasal dari jiwa sejati dan disertai oleh nurani. Keyakinan dan kepercayaan kembali mengiringi sebuah janji lama dari jiwa sejati yang dengan lantang berbunyi di dalam hati: “Persija Sampai Mati!”.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
75 views

Leave a Reply