Jangan Pernah Melupakan 2019

Oleh Mohammad Insan Bagus Laksono (@Sonivanoo),

Mungkin, sebagian besar The Jakmania memilih untuk menghapus memori di musim 2019, alih-alih menyimpan kenangannya di dalam benak mereka. Ya, tapi, satu hal yang perlu diingat, 2019 adalah salah satu ujian terbesar bagi kita untuk naik satu tingkat menjadi yang terbaik di Negeri ini.

Bagaimana tidak, saat itu kita memulai musim dengan terpincang-pincang. Ditinggal jajaran pelatih terdahulu, bongkar-pasang Manajemen, hingga pemilihan pemain asing yang terkesan asal-asalan. Tak ada gemuruh semangat berbalut puja-puji kepada para pemain seperti tahun sebelumnya –juara Liga 1 2018. Sumpah-serapah ramai digaungkan, mencari kambing hitam dari rentetan kekalahan.

Jangankan berbuat banyak di level Asia, di kompetisi domestik pun, saat itu kita tertatih-tatih di dasar klasemen. Jadi, memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari musim tersebut. Namun, melupakannya, jelas sebuah kesalahan besar.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Inkonsistensi terus mewarnai skuat Macan Kemayoran. Gonta-ganti juru racik dilakukan demi menyelamatkan tim yang tidak punya sejarah terdegradasi. Wajah tim tersukses di negeri ini –dengan 11 gelar juara— sirna tak tampak lagi. Taring macan itu tak ada, hanya sebatas maskot. Nyatanya, kita bukan tim yang diperhitungkan saat itu. Tak ada ketakutan dari tim lawan saat meladeni kita di musim tersebut.

Lalu, Ini yang namanya Persija? Jelas bukan.

Menunjuk ‘batang hidung’ si pembuat onar, jelas tak ada gunanya. Berbuat anarkis, juga hanya memperkeruh suasana.

Beruntungnya, kita sukses naik kelas tanpa rapor merah. Musim yang kelam kita lewati dengan elegan. Selain teriakan yang kita berikan untuk sebelas pemain di atas lapangan, tuntutan kepada manajemen untuk segera berbenah pun lantang kita gaungkan.

Ini jelas merupakan bentuk nyata bahwa The Jakmania adalah sebuah role model di kalangan suporter Indonesia. Mengapa role model? Karena saat itu rekan-rekan The Jakmania mengekspresikan kekecewaannya tanpa embel-embel kekerasan –yang mana lekat dengan wajah sepak bola Indonesia.

Tentu masih teringat jelas di benak ini, bagaimana spanduk Pecel Lele dan spanduk nyeleneh lainnya mewarnai sisi lapangan. Atau, ketika teriakan ‘’kembalikan Persija kami, kami rindu Persija yang dulu,’’ juga lantang bergema dari dalam tribun.

Perlu diingat, musim 2019 bukan hanya musim yang buruk dari segi performa tim. Deretan masalah seperti isu larangan kehadiran penonton di salah satu pertandingan level Asia, juga menumpuk daftar masalah di musim tersebut.

Tapi, sekali lagi, menyelesaikan segudang persoalan tanpa kekerasan adalah sebuah pencapaian tertinggi kita tahun itu.

Jadi, rasanya juga tidak berlebihan apabila ada yang beranggapan bahwa kita naik level sepuluh anak tangga sekaligus di musim kelam tersebut.

Kini, mimpi buruk itu sudah usai. Skuat Ibu Kota gagah memulai musim kompetisi 2020. Deretan pemain bintang berhasil dipatenkan dengan logo Monas di dadanya. Pelatih berpengalaman, lengkap dengan sosok Manajer baru yang tak asing dengan wajah Jakarta –Bambang Pamungkas—menyongsong musim dengan slogan #Believeintwelve.

Ini yang saya nantikan, ini yang rekan-rekan The Jakmania inginkan. Kepercayaan diri yang tinggi akan sebuah kejayaan. Bukan memulai musim dengan asal-asalan selayaknya tahun sebelumnya. Hasilnya pun, moncer. Kemenangan langsung dihadirkan di pekan pertama, disusul hasil imbang di kandang lawan pada pekan kedua.

Meski kompetisi masih panjang, dan kita juga tidak tahu bagaimana dampak krisis kesehatan saat ini mempengaruhi performa tim di 90 menit jalannya pertandingan. Namun, saya, kita, Manajemen, deretan pelatih, dan para pemain, yakin akan mengembalikan kejayaan di musim ini.

Jika tidak ada pukulan telak di musim 2019, mungkin saja semangat untuk bangkit tak akan pernah terbakar di musim 2020.

Akhir kata, jangan pernah melupakan masa-masa kelam. Karena tidak akan ada terang jika tak pernah ada kegelapan.

‘’Berjayalah Sepanjang Masa’’

 

Foto milik Nugroho Sejati/kumparan

Share post :
104 views

Leave a Reply