the jakmania di tengah badai berita negatif

Hal utama yang harus disepakati adalah The Jakmania kelompok suporter Persija Jakarta merupakan salah satu kelompok suporter sepak bola terbesar di tanah air. Keberadaannya dalam mendukung Macan Kemayoran begitu luar biasa. Tidak hanya saat bermain di kandang, namun ribuan dari mereka siap mengawal klub kebanggaannya jika bermain di luar Jakarta.

Jakmania sendiri, sebagai kelompok suporter cukup banyak memiliki ikatan persahabatan yang baik dengan berbagai kelompok suporter sepak bola lainnya di Indonesia. Bahkan banyak diantara mereka yang secara langsung “mengakui” bahwa Jakmania adalah salah satu kelompok suporter yang dijadikan rujukan dalam mendukung klub kebanggaannya masing-masing, baik dari segi lagu-lagunya maupun dari segi ke-organisasiannya. Bahkan tidak hanya di dalam negeri, Jakmania pun sudah menjadi rujukan dari suporter-suporter sepak bola di negeri lainnya, termasuk Malaysia.

Meski baru berdiri pada tahun 1997, namun jika dilihat, secara organisasi Jakmania semakin tahun semakin tumbuh menjadi suporter yang dewasa. Dari organisasi ini banyak lahir anak-anak muda yang konsern terhadap ruang lingkup organisasi. Dari mereka banyak yang belajar berorganisasi baik dalam lingkungan Jakmania maupun dalam menciptakan hubungan dengan pihak lain. Sebagai contoh kecilnya adalah ketika Korwil atau komunitas mengadakan acara. Mereka banyak berkoordinasi dengan pihak-pihak di luar Jakmania demi menciptakan satu kerja sama yang saling menguntungkan dan demi lancarnya acara tersebut.

Bahkan tak jarang pula dari organisasi ini lahir industri kreatif yang digagas oleh anggota-anggota Jakmania. Mereka menciptakan produk-produk yang berkaitan dengan Persija, Jakmania dan Jakarta. Sungguh ini merupakan hal positif dari keberadaan Jakmania.

Lantas kenapa yang sering orang lain dengar dan orang lain baca tentang Jakmania adalah hal-hal buruk? Media massa pada saat ini secara ramai-ramai menjadikan Jakmania sebagai kelompok suporter yang identik dengan keributan. Kejadian ini tidak hanya sekali dua kali. Hampir setiap musimnya Jakmania selalu disudutkan oleh pemberitaan media massa.

Harapan dari lahirnya media massa adalah menyampaikan pemberitaan secara berimbang dan tidak menyudutkan salah satu orang maupun kelompok tertentu saja. Lantas apa itu berita? Dan bagaimana media menciptakan berita? Dan kenapa Jakmania layak dijadikan komoditas media dalam meraih minat pembaca? Mari satu persatu kita bahas secara sederhana.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ada beberapa pengertian berita, yaitu cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Berita juga diartikan sebagai kabar, laporan dan pemberitahuan atau pengumuman. Di antara berbagai macam pengertian itu, salah satu yang cocok dengan konteks pembicaraan jurnalistik adalah berita sebagai keterangan mengenai kejadian atau persitiwa yang hangat. Satu kata terakhir dalam pengertian itu memberi tekanan bahwa berita itu sebuah peristiwa yang hangat. Hangat dalam artian tentu saja sesuatu yang baru saja terjadi dan penting untuk diketahui oleh khalayak.

Berita semestinya berimbang. Keberimbangan tersebut adalah bagaiman sang pekerja media memiliki kelengkapan sumber, baik dari pelaku maupun dari korban dan sumber-sumber lainnya yang dekat dengan kejadian. Keberimbangan isi berita memiliki tujuan agar khalayak dapat diberikan pemahaman yang adil atas suatu peristiwa bukan malah menjadi hakim atas peristiwa tersebut.

Namun keberimbangan isi berita kadang tak lagi menjadi acuan utama. Agar peristiwa itu mendapatkan perhatian utama dari para pembaca terkadang para pekerja media memiliki cara pandang bahwa “bad news is a good news”. Daripada mereka membuat berita-berita yang positif dan adil lebih baik mereka mencari-cari kesalahan sekecil apapun yang menjadi objek pemberitaan mereka.

Mari tinggalkan sejenak tentang pandangan bahwa media akan menciptakan berita yang adil dan berimbang dari berbagai sudut pandang. Banyak kalangan yang sudah meninggalkan pandangan tersebut. Karena pada dasarnya dalam setiap berita yang ditulis pasti menyimpan subjektivitas penulis. Seorang penulis berita akan memasukkan ide-ide mereka dalam menganalisa data-data yang telah mereka peroleh di lapangan. Isi media adalah hasil konstruksi realitas dengan ideologi, kepentingan, keberpihakan media dalam memandang sebuah berita.

Apa yang disampaikan oleh media bukanlah hal yang benar-benar sesuai dengan kejadian di lapangan. Setiap pekerja media memiliki tafsirannya sendiri dalam melihat sebuah peristiwa. Para pekerja media mengkonstruksi ulang kejadian-kejadian tersebut sesuai dengan identitasnya, latar belakangnya dan juga lingkungannya. Pada intinya berita tak pernah sesuai dengan realitas aslinya.

Kenapa Jakmania dari tahun ke tahun terus dihantam badai berita yang menyudutkan organisasi mereka? Jawabannya karena Jakmania sudah tumbuh begitu besar. Seperti yang dijelaskan di atas tadi, sudah banyak kelompok suporter yang belajar bagaimana Jakmania dapat berdiri dengan jumlah massa yang begitu besar. Banyak yang belajar bagaimana Jakmania terus berkarya dan menumbuhkan loyalitas anggotanya terhadap organisasi maupun dalam memberikan dukungan kepada Persija Jakarta. Banyak yang belajar bagaimana Jakmania dapat terhindar dari tekanan politik meski berada di ibu kota. Kebesaran nama Jakmania lah yang dijadikan pekerja media untuk di“jual” dengan berita-berita negatif demi mendapatkan perhatian utama para khalayak media.

Jakmania sudah begitu besar dan tak akan goyah dengan badai yang menimpanya.

 

gambar oleh bola.com

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
87 views

Leave a Reply