Ibu Kota Lebih Kejam Dari Ibu Tiri

Ibu kota lebih kejam dari Ibu tiri. Frasa yang sering digunakan untuk menggambarkan beratnya hidup di Jakarta. Tentang mereka yang harus bekerja kasar, mereka yang sering kali disingkirkan, mereka yang sering kali dirampas haknya, dan tentang mereka yang sering kali kurang diperhatikan pemerintah kota.

Ini realita yang bukan hanya terjadi pada masyarakat kecil Ibu kota. Persija, klub dengan sepuluh gelar juara dalam sejarah, klub Ibu kota yang selalu identik dengan kekayaannya, harus menerima kenyataan pahit menjadi penghuni kota Jakarta, kota yang terus tumbuh menggilas siapa saja demi pembangunannya. Bagaimana tidak, untuk memiliki rumah di kota kelahirannya sendiri, kini nampak begitu sulit untuk Persija.

Kenyataan pahit harus diterima pada 2006. Pembina Persija, yang sekaligus menjabat Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, merobohkan rumah nyaman milik Persija. Rumah yang penuh cerita, penuh sejarah. Rumah yang telah dihuni sejak 1962 harus rata dengan tanah atas nama pembangunan kota.

Pagi hari, 26 Juli 2006, tembok tua Stadion Menteng tak mampu menahan gempuran Satpol PP Pemprov DKI Jakarta yang dibantu tentara. Bersama dentuman alat berat, semua cerita dan sejarah penghuninya ikut runtuh dan terkubur puing-puing ingatan akan kejamnya pembangunan kota. Miris, barang-barang sarat sejarah bahkan piala-piala milik Persija ikut raib entah kemana.

Cerita manis lahirnya pemain-pemain bintang seperti Soetjipto Soentoro, Anjas Asmara dan Bambang Pamungkas, serta sejarah kejayaan persija dengan lima gelar juara 1964, 1973,1975, 1979 dan 2001 harus terhempas bersama debu sisa-sisa reruntuhan tembok tua stadion.

Sebenarnya saat dirobohkan, Stadion Menteng memang telah lama tidak dipergunakan Persija untuk bertanding. Sejak 1997 Persija mengunakan Stadion Lebak Bulus sebagai kandang mereka. Lagi-lagi ini berkat Sutiyoso yang kala itu datang bak penyelamat. Dengan ambisi mengembangkan persija, dengan ambisi mendatangkan penonton dalam jumlah lebih besar, dipilihlah Stadion Lebak Bulus.

Terbukti memang, Sutiyoso berhasil mengembalikan kejayaan persija. Bahkan puncaknya berhasil mengembalikan gelar juara pada 2001. Sebelum akhirnya hadir bak aktor antagonis di akhir cerita 2006.

Meski berkandang di Stadion Lebak Bulus, Stadion Menteng tetaplah rumah bagi persija. Semua kegiatan klub, latihan, mess pemain, hingga administrasi dan organisasi tetap dijalankan di Stadion Menteng hingga akhirnya dikorbankan demi penataan kota. Yang kemudian berubah menjadi ruang terbuka hijau.

Nasib serupa terjadi pula pada Stadion Lebak Bulus. Senin terakhir Agustus 2015, kursi-kursi dan rangka Stadion Lebak Bulus mulai dipreteli. Rangka-rangka baja yang awalnya terlihat kokoh nyatanya juga tidak mampu menahan gempuran pembangunan kota. Demi ambisi pembangunan kota, lagi-lagi mengorbankan rumah Persija untuk kemudian dibangun depo Mass Rapid Transit (MRT).

Cerita yang tidak akan terlupa di stadion ini adalah bagaimana kekuatan suporter mampu mengalahkan kekuatan tamu dari Bandung yang mengganggap rival abadi tapi terpaksa mundur karena tidak nyaman bermain dalam kepungan suporter Persija yang meluber hingga pinggir lapangan.

Santer wacana Pemerintah Kota menjanjikan stadion baru sebagai pengganti rumah Persija. Tapi hingga kini belum juga ada wujud nyata.

Jakarta memang punya stadion lain, Stadion Utama Glora Bung Karno (SUGBK). Stadion ini yang secara resmi menjadi rumah ‘Macan Kemayoran’ sejak 2008. Sang macan pindah dari Lebak Bulus karena kebutuhan kandang yang lebih besar dan pertimbangan kemacetan selatan Jakarta. Tapi, dengan segala kesibukannya, mulai dari agenda politik hingga konser musik, SUGBK belum bisa menjadi rumah yang nyaman untuk Persija.

Seringkali Persija harus terusir dari SUGBK karena berbagai alasan. Mulai dari agenda politik seperti yang dialami pada 2008, maupun harus mengalah pada agenda timnas Indonesia. Ditambah lagi faktor pertimbangan keamanan. Ini diakibatkan oleh tingkah sebagian Jakmania, julukan suporter Persija yang beberapa kali terlibat bentrok.

Seringnya Persija terusir membuat Persija identik dengan tim musafir. Mulai dari Solo, Yogyakarta dan Bekasi menjadi begitu akrab dengan Persija. Meski nyaman bermain di kota orang, bahkan di Bekasi yang terbilang dekat dengan Jakarta, suporter Persija tetaplah menginginkan Persija bermain di tanah kelahirannya, di Ibu kota.

Janji pemerintah kota tentang dibangunnya stadion baru pengganti Stadion Lebak Bulus terus ditagih. Namun hingga kini janji itu hanya menjadi penarik hati para suporter Persija untuk memuluskan jalan berkuasa di Jakarta. Pasangan Cagub-Cawagub DKI Jakarta kala itu bahkan menjadikan rencana pembangunan stadion Persija sebagai salah satu janji prioritas selain janji rumah DP 0%, stop reklamasi dan meniadkan penggusuran.

Namun kini, hingga Si Wakil Gubernur terpilih meninggalkan jabatannya, janji itu belum terlihat nyata. Stadion Jakarta Bersih Manusiawi dan Berwibawa belum menampilkan wujudnya. Semoga saja janji manis ini tidak tertiup angin seperti butiran tanah merah yang terhempas angin kesana-kemari di hamparan tanah lapang di Sunter, Jakarta Utara.

Jika ada yang berbicara, pisahkan politik dari sepakbola, nyatanya kini Persija butuh kebijakan politik untuk bisa kembali ke tanah kelahirannya. Jika tidak ada stadion baru, setidaknya ada jaminan Stadion Utama Gelora Bung Karno dapat menjadi rumah nyaman untuk Persija.

Persija butuh perhatian anda yang beberapa saat lalu nampak begitu cinta Persija. Hingga sering datang ke stadion sekedar menyaksikan Persija berlaga, bahkan menjanjikan rumah yang memang dirindukan Persija.

Jakarta, jelang Oktober 2018.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
185 views

Leave a Reply