Haruskah Persija Tampil Serius di Piala Presiden?

Piala Presiden telah berubah dari sebuah turnamen yang awalnya merupakan pengisi kekosongan kompetisi menjadi turnamen ‘wajib’ jelang musim dimulai. Piala Presiden menjadi ajang bagi kesebelasan-kesebelasan papan atas tanah air untuk unjuk gigi sebelum liga bergulir.

Pada tahun ini, Piala Presiden diikuti oleh 20 tim dari Liga 1 dan Liga 2. Persija tergabung di Grup D bersama Bali United, Borneo FC, dan PSPS Riau. Stadion Kapten I Wayan Dipta yang terletak di Gianyar, Bali akan menjadi tuan rumah. Ini kali kedua Persija melakoni fase grup di Bali setelah Piala Presiden 2015 lalu.

Prestasi Persija dalam dua edisi Piala Presiden yang diikuti hanya mentok di fase grup. Muncul pertanyaan, apakah Piala Presiden harus menjadi ajang yang diseriusi oleh Persija?

Maka jawabannya, tentu saja, adalah iya.

Sebagaimana ajang pramusim pada umumnya, Piala Presiden dapat menjadi ajang yang tepat bagi tim untuk memantapkan skuatnya jelang musim dimulai. Segala aspek mulai dari taktik, strategi, hingga mental bertanding dapat diasah setelah kembali dari liburan panjang. Ibarat mesin, pada pramusim ini komponen mesin-mesin yang ada di tim mulai dipanaskan agar ketika liga dimulai sudah dalam kondisi siap tempur.

Sebelum ajang Liga 1 2018 bergulir, termasuk Piala Presiden, Persija mengikuti tiga turnamen pramusim. Sebelumnya Macan Kemayoran bertanding di ajang Suramadu Super Cup (SSC) di Bangkalan dan Boost SportsFix Super Cup di Kuala Lumpur.

Di ajang SSC Persija meraih dua hasil imbang melawan Madura United (skor 2-2) dan Kedah FA (1-1) serta sekali kalah dari Persela (0-1).

Pada turnamen Boost SportsFix Super Cup, meski sempat menang 3-1 atas Ratchaburi di laga perdana, perjalanan Macan Kemayoran berakhir antiklimaks usai ditaklukan Kelantan FA 0-1 di partai berikutnya.

Hasil yang kurang memuaskan di dua turnamen sebelumnya tak sedikit membuat The Jakmania kecewa. Tak jarang pula muncul tuntutan agar Persija menjuarai Piala Presiden.

Tentu sah-sah saja berharap agar kesebelasan kesayangannya menjadi juara. Akan tetapi, sebelum bicara gelar juara dengan sederet kata-kata membanggakan lainnya, patut dipahami terlebih dahulu apa esensi dari pramusim itu sendiri.

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, ajang pramusim adalah fase persiapan suatu tim sebelum mengarungi musim kompetisi sesungguhnya. Setelah berlibur panjang di masa jeda kompetisi, fase pramusim berfungsi mempersiapkan setiap komponen tim agar siap menghadapi liga yang akan panjang.

Dari sisi pemain, fase pramusim adalah momen yang tepat untuk kembali mendapatkan kebugaran atau match fitness yang tidak didapatkan ketika liburan. Tidak hanya itu, bertanding di fase tersebut juga sekaligus membiasakan mental bertanding mereka.

Yang terpenting dari fase pramusim adalah pelatih dapat mencoba berbagai variasi taktik, strategi, dan skema permainan. Karena itu tidak jarang pelatih menurunkan semua pemainnya di satu pertandingan.

Dari argumen di atas kemudian muncul pertanyaan seperti, “Teco kan bukan orang baru di Persija, masa skema aja masih coba-coba?”

Memang Teco di Persija bukan orang yang datang kemarin sore. Akan tetapi jika Teco terus memainkan skema yang dipakai musim lalu maka kemungkinan besarnya kompetitor Persija di liga nanti akan mudah dalam membaca permainan Macan Kemayoran. Untuk itu pelatih harus terus berimprovisasi dalam menciptakan variasi-variasi dalam skema permainan Bambang Pamungkas dkk.

Belum lagi datangnya banyak pemain baru. Tentu menjadi lumrah kalau pelatih mencoba berbagai taktik dan strategi yang cocok dengan anak buahnya.

Karena namanya juga coba-coba, eksperimen, trial and error, maka wajar kalau satu dua kali output hasil akhirnya tidak melulu berupa kemenangan dan gelar juara. Hal yang penting untuk dilakukan selanjutnya adalah mengevaluasi setiap kelebihan maupun kekurangan yang terjadi.

Kembali kepada pertanyaan di atas, bahwa Persija harus menghadapi Piala Presiden dengan serius. Ya, Persija harus serius mempersiapkan diri di Piala Presiden, menjadikan turnamen ini sebagai persiapan menjelang musim kompetisi yang akan datang. Tentu dalam ajang ini hasil akhir bisa dijadikan prioritas nomor sekian. Yang terpenting, pelatih bisa mematangkan taktik dan strategi untuk kompetisi nanti.

Berkaca pada pengalaman musim lalu di mana Persija berhasil menempati posisi empat klasemen akhir yang juga merupakan prestasi terbaik Persija sejak 2011. Pada ajang pramusim musim lalu hasil yang diraih Persija pun tidak memuaskan. Persija menjadi juru kunci di Trofeo Bhayangkara dan gagal lolos dari fase grup Piala Presiden. Bukan berarti Persija harus sengaja gagal di pramusim agar sukses di kompetisi Liga, tetapi penting memaknai pramusim sebagai fase persiapan dan tidak melulu ngotot memburu kemenangan dan gelar juara.

Mencari kemenangan dan gelar juara, sekali lagi, bukanlah hal yang salah. Akan tetapi bila target tersebut malah mengorbankan tujuan utama pramusim, maka hal tersebut bisa merugikan tim. Bukan hanya dalam jangka pendek, tapi juga bisa berefek panjang pada musim kompetisi yang akan datang.

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
35 views

Leave a Reply