Harapan Luas dari Gang yang Sempit

Sore itu, ada sekelompok anak laki-laki sedang berkumpul. Berkumpul membicarakan hal yang serius. Tangan mereka terlihat memegang uang receh yang sudah kucel. Sesekali mata mereka saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba terdengar suara dari perkumpulan itu, ‘’Eh. Buruan patungan beli bolanya.’’ Seru ajakan terdengar dari salah satu anak tersebut. Sisa uang jajan sekolah mereka rela sisihkan, di sisakan untuk merasakan kesenangan. Kesenangan yang bisa mereka beli bersama-sama dengan murah untuk bermain sepakbola, sepakbola yang akan mereka mainkan dengan sangat sederhana, sederhana tapi mampu membuat mereka cukup bahagia.

Bolanya terbuat dari bahan plastik, plastik tipis yang bercorak warna merah dan oranye dengan gambar panda diantara sisi bola tersebut. Bola plastik yang mereka beli dari sebuah warung kecil yang berada di sudut pinggir jalan. Anak-anak itu memainkan bola sambil berjalan menuju lapangan, melemparnya ke udara lalu di tangkap kembali atau menendang bola ke arah dinding yang mereka lewati dengan perasaan riang.

Mereka telah sampai di lapangan, lapangan yang  telah mereka tempuh dengan berjalan beriringan. Kualitas lapangannya tidak mewah dan juga tidak megah. Jangankan untuk bahas mewah dan megah, lapangannya terawat saja juga tidak. Lapangan yang akan menjadi tempat mereka bertanding hanya lapangan kumuh yang tertanam rumput liar. Penggunaan lapangan itu juga tidak sepenuhnya jadi tempat bermain mereka, mereka harus rela membagi lapangannya. Lapangan itu terbagi menjadi tempat pembuangan sampah dan alam bebas hewan ternak milik warga sekitar lapangan.

Saat mereka di lapangan, mereka juga tidak langsung begitu saja bermain. Mereka mempersiapkan alat pertandingan. Seperti membuat gawang dari tumpukan sandal mereka atau batu berukuran sedang yang di dapatkan dari pinggir lapangan. Pertandingan pun dimulai tanpa seorang wasit, kick off dimulai dengan bola dilempar ke udara. Mereka terlihat asik saling berebut bola, saling dorong dan tarik menarik baju satu sama lain agar bola bisa dalam dekapan kaki mereka yang kecil. Tidak ada rasa marah diantara mereka, yang ada hanya senyuman dan tawa.

Tidak ada half time atau waktu turun minum, hanya ada water break. Iya, water break yang mereka sebut dengan kata ‘Topan’.  Kata yang bebas di ucapkan sekalipun tim lawan sedang menyerang. Kata sakti, karena dengan hanya sekali sebut saja. Permainan itu bisa terhenti. Terhenti hanya untuk menghela nafas panjang atau sekedar membeli es teh manis yang dikemas dengan kantong plastik bening.

Waktu penuh atau full time bukan ditentukan dengan 90 menit, hanya adzan maghrib atau panggilan orangtua di antara anak-anak itu yang mampu menghentikan pertandingan. Sepakbola sederhana yang memberikan bekas luka di antara kaki mereka tapi juga memberi rasa bahagia diantara wajah anak-anak tersebut.

Membaca pengalaman cerita diatas, kita semua pasti pernah merasakan. Membalikan kenangan kita sewaktu masa kecil yang lagi-lagi membuat gagal move on. Bermain bola tanpa adanya rasa beban karena hanya terlandaskan rasa suka cita. Mengutip tulisan yang saya buat di atas, tentunya ada segelintir harapan sewaktu kita di masa kanak dan mungkin harapan kita dulu, menjadi harapan sama yang dipupuk di dalam hati adik-adik kita sekarang.

Harapan yang terbayang pada mereka adalah ingin menjadi pesepakbola profesional  di saat bola telah berada di kakinya, pesan cita itu terkesan singkat tapi bersirat. Jutaan anak yang sebagian besar tinggal di Ibukota meyakinkan hatinya untuk bisa membela tim tempat dimana mereka terlahir, tumbuh dan berkembang.

Persija yang menjadi pilihan anak-anak kecil di kota ini atau juga di kota-kota lainnya, agar bisa membela kebanggaannya pada suatu saat. Bermimpi jika lambang Monas itu tersemat di dadanya. Ketahuilah, anak-anak yang mempunyai mimpi dan harapan yang sangat besar untuk Persija dan kemajuan sepakbola bangsa itu mayoritas terlahir ada diantara gang-gang sempit kota Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
110 views

Leave a Reply