Hanya Ada Satu Nama, Stadion Mohammad Husni Thamrin

Terakhir kali saya menulis di halaman ini adalah jelang Oktober tahun lalu. Bahasannya pun tetang rumah baru klub ibu kota yang bila sesuai janji awal akan mulai dikerjakan beberapa pekan setelahnya. Namun hingga Persija berhasil jadi juara, hingga Persija dipastikan dua kali berlaga di kancah Asia, proses pembangunan stadion baru di Jakarta belum juga jadi nyata.

Saya percaya, tidak semua mimpi dapat terwujud dengan mudah. Namun mimpi memiliki stadion nyaman untuk Macan Kemayoran di kotanya sendiri harus segera terealisasi. Terlebih gambaran mimpi itu bertambah jelas. Akhir pekan lalu (15/2) di Balaikota, perwakilan PT. Jakarta Propertindo (JakPro), BUMD yang ditunjuk melaksanakan pembangunan, membuat mimpi bertambah indah.

Dalam ceritanya, beliau menyebut bulan depan atau Maret 2019 akan dilakukan peletakan batu pertama pembangunan stadion Jakarta. Tidak main-main, stadion dipastikan akan megah berkelas internasional. Tidak kurang 80.000 kursi akan menjadi kapasitas stadion. Nantinya stadion tidak akan memiliki lintasan atletik demi membuat penonton lebih nyaman menyaksikan pertandingan sepak bola.

Tidak sampai di situ. Beliau menceritakan nantinya kulit luar stadion akan berupa layar raksasa. Ini bertujuan untuk memanjakan mereka yang tidak memiliki tiket tatap dapat merasakan atmosfir yang sama dengan apa yang dirasakan di dalam stadion.

Bukan hanya lapangan sepak bola. Di kawasan stadion juga akan dibangun fasilitas komersial penunjang. Semisal hotel dan pusat perbelanjaan. Tidak ketinggalan akan dibangun urban farming yang diperuntukan bagi warga sekitar. Ini sesuai dengan pesan bapak Gubernur yang tidak ingin warga terdampak pembangunan disinggkirkan. Sudah seharusnya pembangunan dirasakan dampak positifnya oleh warga sekitar.

Di sisi barat laut juga akan dibangun dua lapangan dengan tujuan dapat dipergunakan Persija Jakarta untuk berlatih serta melakukan pembinaan. Bukan hanya untuk Persija, lapangan ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Nantinya komplek stadion akan terhubung dengan berbagai transportasi umum. Stadion juga akan memiliki alur keluar masuk supporter tertata dan digadang-gadang menjadi stadion anti bentrok supporter. Sistem tiket juga akan dikelola dengan baik. Dipastikan semua orang tidak kesulitan mendapat tiket pertandingan.

Untuk mewujudkan semua mimpi, JakPro mengungungkap tidak kurang dana 5 Triliun akan digelontorkan. Sebagai tahap awal, 900 miliyar telah disertakan dalam Penyertaan Modal Daerah (PMD) 2019 dan disetujui untuk dapat segera dapat dipergunakan.

Tidak tanggung-tanggung, JakPro juga bercerita bila mereka melibatkan konsultan kelas dunia. Disebut, konsultan yang bekerjasama dengan mereka adalah konsultan yang juga sedang mengerjakan stadion Piala Dunia Qatar. Bocoran lainnya, konsultan yang dimaksud adalah konsultan yang terlibat pembangunan stadion baru Tottenham Hotspur di Britania.

Namun ada satu pernyataan perwakilan JakPro yang membuat saya tersadar dari semua mimpi indah tentang stadion baru di Jakarta. Ketika ditanyai oleh salah seorang rekan media tentang siapa konsultan yang dimaksud, pihak JakPro mengungkap belum dapat menyebut satu nama. Alasannya, karena pengungkapan nama kepada publik dikhawatirkan mengganggu proses tender kontraktor yang belum rampung.

Lantas apa yang akan mulai dibangun pada Maret yang hanya tinggal beberapa pekan kedepan jika tender kontraktornya belum rampung? Akankah hanya peletakan batu pertama seperti yang telah terjadi beberapa kali dan dilakukan orang yang berbeda-beda?

Pihak JakPro kembali menjelaskan, untuk tahap awal memang hanya dua lapangan latihan dan pusat informasi yang akan mulai dibangun. Lantas stadion utamnya? Akankah tengat waktu 2021 yang dijanjikan benar terpenuhi? Mari kita sama-sama terus bermimpi. Sembari berharap semua segera menjadi nyata.

Penghormatan untuk sang “Pelindung Selamanya”

Meski memiliki anugerah gelar Pahlawan Nasional, pria kelahiran Sawah Besar, Batavia, 16 Februari 1894, namanya lebih sering disebut ketika berbicara tentang perjuangan di Batavia pada masanya. Meski lahir dari pasangan peranakan Eropa, Thamrin Muhammad Thabiri dan Nurhamah, bahkan memiliki nama kecil Jacob ketika bersekolah, Mohammad Husni Thamrin begitu identik dengan Pahlawan Betawi.

MH Thamrin yang lahir dari keluarga golongan kaum elit, Crazy Rich Batavian, bahkan ayahnya adalah seorang pejabat dalam struktur pemerintahan kolonial, nyatanya memiliki kepedulian lebih terhadap nasib kaum kecil pribumi.

Ketika kelak MH Thamrin berpolitik, ideologinya jelas pembelaan rakyak kecil. Baginya, politik yang sungguh-sungguh adalah kesibukan mendengar suara-suara rakyat dan berdiri semata-mata untuk rakyat.

Sebagai politikus Gemeenteraad dan Volksraad, MH Thamrin mendesak pemerintah kolonial menganggarkan puluhan ribu gulden untuk perbaikan kampung. Dalam pidatonya di hadapan Dewan Kota pada 27 Oktober 1919, beliau menyampaikan cita-cita dan keinginan agar kampung-kampung debenahi. Jalan-jalan harus diperbaiki, air bersih harus tersedia, kesehatan diperhatikan, serta hendaknya jalan mendapat penerangan di malam hari.

Sebagai anggota Gemeenteraad dan Volksraad yang dianggap paling berbahaya, MH Thamrin juga memiliki kepedulian pada sepak bola. Sebagai seorang pecandu sepa kbola beliau mendesak Dewan Kota memperhatikan persepak bolaan di kalangan orang kampung.

Hubugan MH Thamrin, politik dan sepak bola, khususnya sepak bola Jakarta pada masanya, begitu erat. MH Thamrin berperan sebagai penyambung semangat Kongres Pemuda Oktober 1828 kepada klub sepak bola pribumi agar mengadopsi semangat persatuan.

Sebabnya, sebulan setelah peristiwa yang kelak dikenal sebagai Sumpah Pemuda, berdirilah perkumpulan sepak bola pribumi bermana VBB ( VoetBall Boemipoetra) yang kelak berubah nama menjadi VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacatra), dan kelak dikenal sebagai Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta).

Dalam Siaran Pers  125 Tahun M.H. Thamrin, sejarawan JJ Rizal menegaskan, pengguaan kata Indonesia sudah cukup menjelaskan bagaimana kuatnya pengaruh politik pergerakan di dalam VIJ. Jelas ini peran MH Thamrin. Terlebih pada masa itu, penggunaan kata Indonesia bukanlah hal yang mudah.

Kecintaan MH Thamrin terhadap sepak bola Jakarta semakin nyata saat beliau tanpa ragu mengeluarkan dana sebesar 2000 gulden demi membuat lapangan yang layak untuk VIJ. Kelak setelahnya MH Thamrin diangkat sebagai Pelindung VIJ.

VIJ yang baru terlahir sempat kesulitan untuk memutar kompetisi karena kendala lapangan. Sebelumnya, VIJ menggunakan Lapangan Brandweer Kazerne untuk memutar kompetisi rutin klub-klub anggotanya. Lapangan Brandweer Kazerne sendiri kini menjadi kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta. Tepatnya di Jl. Kyai H. Zainul Arifin, Jakarta Pusat.

Semenjak itu nama MH Thamrin tidak akan dapat dipisahkan dari perjalan VIJ hingga dikenal dengan nama Persija. Januari 1941, majalah bulanan Voetbalbond Indonesia Jacatra menulis bebar-besar judul di halaman pertama, Pelindung Selamanya. Di bulan yang sama, tepatnya 11 Januari 1941, sang pelindung pergi untuk selamanya menhadap sang kuasa.

Dengan semua perannya, untuk mengenang jasa-jasanya, serta untuk menghormati sang pelindung, sudah sepantasnya namanya diabadikan untuk stadion baru bila memang dibangun kelak.

Hanya ada satu nama, Stadion Mohammad Husni Thamrin.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
270 views

Leave a Reply