DUEL DUA TIM SAHABAT

Persija Jakarta dan Persib Bandung, dua kekuatan sepakbola Indonesia masa lalu dan masa kini. Dua kutub persepakbolaan Indonesia. Dan layaknya dua buah kutub, posisinya memang selalu berlawanan. Kedua tim tersebut adalah pengoleksi tujuh belas gelar juara kompetisi sepakbola kasta tertinggi di Indonesia. Para pemain-pemainnya pun merupakan tulang punggung Tim Nasional Indonesia pada masanya. Dua raksasa sepakbola Indonesia yang kini para suporternya selalu bersitegang di dalam maupun di luar konteks sepakbola. Padahal, menurut catatan sejarah, kedua tim ini merupakan tim yang cukup bersahabat.

THAMRIN DAN OTISTA

Sebagian besar warga Jakarta, terutama suporter Persija, Jakmania, pasti mengenal Muhammad Husni Thamrin, seorang politisi Indonesia zaman Hindia Belanda yang asli anak Betawi. Lahir di Weltevreden (Sawah Besar, Jakarta Pusat) pada tanggal 16 Februari 1894. Di kemudian hari, Engkong Thamrin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.

Nama Muhammad Husni Thamrin begitu erat kaitannya dengan Tim sepakbola yang berasal dari tanah kelahirannya, Persija Jakarta. Beliau juga secara rutin selalu menonton pertandingan-pertandingan Persija yang kala itu masih bernama VIJ, Voetbalbond Indonesia Jacatra.

Selain dikenal sebagai pendukung setia Persija, MH Thamrin juga dikenal sering mengurusi berbagai macam keperluan Persija saat itu, seperti lapangan untuk Persija bertanding dan berlatih. Salah satu peninggalan MH Thamrin untuk sepakbola Jakarta adalah lapangan yang kini dikenal dengan Stadion VIJ, stadion yang terletak di kawasan Petojo, Jakarta Pusat.

Suporter Persib Bandung, atau yang biasa dikenal dengan Bobotoh Persib, pasti juga mengenal sosok pahlawan nasional yang bernama Otto Iskandar Dinata, seorang pahlawan nasional berdarah sunda yang lahir pada 31 Maret. Pria kelahiran Bojong Soang, Kabupaten Bandung ini sudah menyukai sepakbola sejak kecil, sampai puncaknya, Si Jalak Harupat, julukan Otto Iskandar Dinata, menjadi ketua panitia kongres PSSI di Bandung pada tahun 1936. Sebuah hal yang salah bila dikatakan bahwa Otto Iskandar Dinata pernah menjadi ketua umum Persib Bandung.

Memang sosok yang nama julukannya diabadikan sebagai nama sebuah stadion di Kabupaten Bandung ini merupakan seorang yang sangat peduli kepada Persib Bandung, layaknya MH Thamrin dengan Persija, sampai pada tahun 1937, ketika Persib menjuarai Kejuaraan Nasional PSSI, Otto Iskandar Dinata merupakan salah satu official tim Persib Bandung kala itu.

Kecintaan dua sahabat yang menjadi anggota volksraad (DPR-nya Hindia Belanda) ini pada sepakbola, bukanlah sebuah rahasia, publik sepakbola Indonesia sudah mengetahuinya pada masa itu. Sampai pada tahun 1932, tepatnya pada tanggal 16 Mei, Muhammad Husni Thamrin dan Otto Iskandar Dinata menggelar pertandingan persahabatan. Kedua tim tersebut diperkuat oleh berbagai macam tokoh, mulai dari wartawan, advokat, sampai pegawai pemerintahan. Pertandingan tersebut hanya berlangsung satu babak dan berakhir tanpa gol.

BERSAMA MENJADI GARUDA

Banyak pemain dari kedua tim ini yang kemudian memperkuat Tim Nasional. Tapi yang paling terkenal adalah kisah Max Timisella dan Soetjipto Soentoro saat memperkuat Indonesia di pertandingan uji coba melawan Werder Bremen pada tahun 1965. Saat itu, tim Indonesia yang dimanajeri Maulwi Saelan itu “hanya” kalah 6-5 dari juara Bundesliga tahun 1964/1965 itu.

Max Timisella dan Soetjipto Soentoro berduet di lini depan dalam formasi 3-5-2. Dan  Hasilnya, duet Max dan Soetjipto berhasil mencetak lima gol untuk Indonesia. Dengan rincian, tiga gol oleh Soetjipto Soentoro dan dua gol oleh Max Timisella.

Di generasi emas berikutnya, Persija dan Persib juga mewakilkan para pemainnya di Timnas. Saat Piala Asia 2007, Persija dan Persib mengirimkan ikon masing-masing tim, yaitu Eka Ramdani dari Persib Bandung, dan Bambang Pamungkas dari Persija Jakarta. Memang tim ini tak melenggang jauh, hanya mentok di fase grup. Tetapi kemenangan melawan Bahrain cukup menyita perhatian publik kala itu. Sampai sekarang pun, kemenangan Indonesia atas Bahrain yang merupakan salah satu kekuatan sepakbola Asia Barat masih dikenang publik sepakbola Indonesia layaknya hasil imbang atas Uni Soviet pada olimpiade 1956.

THIO HIM TJIANG JUARA BERSAMA PERSIJA DAN PERSIB

Thio Him Tjiang merupakan pemain sepakbola keturunan Tionghoa yang bermain untuk UMS, Persija, UNI, Persib, dan Tim Nasional Indonesia. Thio Him Tjiang Juga merupakan bagian dari skuat Indonesia pada Olimpiade musim panas 1956 di Melbourne yang berhasil menahan gemputtran Uni Soviet.

Karir sepakbolanya bisa dibilang merupakan turunan dari ayahnya, Thio Kioe Sen yang merupakan seorang penjaga gawang UMS pada masanya. Saudara-saudaranya pun merupakan pemain sepakbola untuk UMS.

Him Tjiang yang berposisi sebagai sayap kiri ini memperkuat Persija selama delapan tahun sejak tahun 1953 sampai 1961, dengan raihan terbaik menjuarai Kejuaraan Nasional PSSI 1954.

Pada tahun 1961, Him Tjiang pindah ke Bandung dan bermain untuk klub internal Persib, UNI. Dengan bermain untuk UNI, Him Tjiang otomatis berhak untuk memperkuat Persib di kejuaraan nasional PSSI. Hasilnya, Persib berhasil dibawa juara oleh Thio Him Tjiang pada kejuaraan nasional PSSI tahun 1961. Him Tjiang hanya memperkuat Persib selama satu tahun, namun selayaknya pendukung Persija, pendukung Persib juga menyatakan Thio Him Tjiang sebagai salah satu legenda tim kebanggaan Jawa Barat itu.

Sejarah, suka atau tidak, telah tertulis. Di masa lalu, dua tim besar ini adalah dua tim yang bisa dibilang bersahabat. Entah apa yang jadi penyebabnya, di masa kini pendukung kedua tim layaknya air dan minyak yang tidak akan menyatu. Padahal, sampai dekade 90-an, pendukung Persija maupun Persib masih bebas mengunjungi satu sama lain.

Entah siapa yang memulai, entah siapa juga yang akan mengakhiri perseteruan (tidak) abadi ini.

diolah dari berbagai sumber, foto bukan merupakan hak cipta kami

 

 

 

 

 

 

 

Share post :

Leave a Reply