Diskriminasi Itu Pernah Ada, dan Nyata di Sepakbola

“Verboden voor Honden en Inlander. Pribumi dan Anjing dilarang Masoek.”

Diskriminasi itu ada, dan nyata di sepakbola. Sejak dulu, sejak diperkenalkan oleh mereka yang datang jauh dari Eropa. Plang-plang bertuliskan Verboden voor Honden en Inlander, atau Pribumi dan Anjing dilarang Masoek, biasa terpasang di lapangan-lapangan milik mereka.

Sepakbola menjadi sesuatu yang mahal. Sesuatu yang sulit dijangkau oleh orang-orang yang dianggap kelas kedua. Pada masanya, sepakbola hanya menjadi milik mereka. Sedangkan kita, tidak lebih dari anjing, hanya bisa menyaksikannya saja.

Namun dari diskriminasi itu juga, lahir semangat luar biasa. Yang kemudian menjelma menjadi senjata. Semangat perlawanan menjadi awal hal yang lebih besar, persatuan. Merasa senasib dan sependeritaan, mereka yang juga sama-sama ingin menikmati sepakbola kemudian sama-sama mencari cara.

Wujud paling nyata adalah lahir bond-bond sepakbola pribumi. Dan lebih mengejutkan, tidak berhenti di sepakbola, semangat persatuan dan perlawanan mengkristal. Menjadi semangat memperjuangkan bangsa yang merdeka.

Dalam sejarah, lini masa Sumpah Pemuda, lahirnya bond pribumi, terbentuknya PSSI, hingga perjalanan menuju kemerdekaan menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Bagaimana yang semula menghadapi diskriminasi luar biasa, hingga bisa menyingkirkannya.

Dan memang sudah seharusnya, diskriminasi tidak pernah ada.

Sepakbola Milik Semua

Kini mungkin bukan diskriminasi. Hanya saja sepakbola semakin mahal khususnya di kota-kota besar. Sama seperti banyak hal lainnya, tempat tinggal misalnya, sepakbola di kota besar sulit dijangkau mereka yang tidak memiliki cukup banyak duit.

Jangankan untuk menyaksikan pemain-pemain idola bermain sepakbola dengan harga tiket tidak murah, untuk memainkan sepakbola pun sama. Rasanya sepakbola bukan lagi permainan yang dulu selalu menjadi pilihan saat bolos mengaji. Bukan lagi permainan yang bisa membuat lupa pulang hingga azan berkumandang.

Di kota-kota besar lapangan semakin tersingkirkan. Bahkan tidak akan lagi mudah menemukan lahan tanah merah dengan gawang yang dahulu setiap sore selalu penuh kerumunan. Sepakbola menjadi jauh dari sebagian orang.

Lebih beruntung bagi sebagian orang. Dengan uang yang dipunya, menjadi lebih mudah menikmati sepakbola. Uang tidak sedikit yang harus dikeluarkan untuk menikmati rumput hijau bukan masalah. Lengkap dengan dokumentasi-dokumentasi penghias lini masa tentunya.

Sedangkan untuk sebagian lainnya, gang-gang sempit menjadi lahan unjuk kebolehan. Sekadar menggiring bola kesana-kemari, atau menendang dengan sangat hati-hati. Juga ada yang menikmati menggocek lawan di trotoar-trotoar jalan. Dengan situasi permainan yang jelas tidak aman.

Ruang-ruang sempit di kolong jembatan-jembatan layang juga tidak jarang dimanfaatkan. Dengan permukaan tidak selalu rata, menjadi tempat kaki-kaki kecil tanpa alas berlarian. Mengejar bola, menendang, penuh gelak tawa. Seolah oase akan kerinduan sepakbola hadir disana.

Beda-beda rupa, beda-beda wajah, namun semua adalah sepakbola. Karena sepakbola memang sudah seharusnya menjadi milik semua. Tanpa diskriminasi, tanpa pembeda siapa yang memainkannya.

Print Friendly, PDF & Email
Share post :
141 views

Leave a Reply