Di Atas Rumput Manahan

Malam itu, di atas rumput Manahan, Persija merayakan kemenangan. Memastikan dirinya membawa pulang piala ke Jakarta, sekaligus membungkam Persib tanpa tedeng aling-aling.

Jika data statistik keunggulan dianggap tak cukup relevan untuk menjawab psywar. Maka, di atas rumput Manahan, Persija secara paripurna menjawabnya dengan permainan menyerang, dua gol brilian, dan mental yang bukan kaleng-kaleng. Singkatnya: kemenangan.

Sejak Persib diketahui menjadi lawan tanding Persija di partai final, euforia berubah menjadi lebih bergengsi. Sebab, selain berstatus sebagai rival, ada kejadian yang menempel di banyak ingatan setiap orang: tentang pertandingan di Manahan, tentang babak yang tak selesai, dan tentang peluit akhir yang disemprit lebih cepat dari biasanya. Kejadian itu sedemikian terang-terangan muncul kembali di ingatan ketika Stadion Manahan ditunjuk sebagai salah satu tempat digelarnya partai final Piala Menpora 2021. Pertemuan terakhir Persija dengan Persib di Stadion Manahan 2017 lalu meninggalkan banyak cerita. Saat itu, pertandingan berjalan begitu sengit. Kedua tim saling berbalas serangan. Sudut-sudut stadion penuh dengan penonton, lengkap dengan gemuruhnya. Namun, persis tujuh menit sebelum waktu normal berakhir, pertandingan berhenti. Persib menolak melanjutkan pertandingan dan pergi menuju ruang ganti lebih cepat. Karena itu, status pertandingan menjadi Walk Out untuk Persib dan skor berubah menjadi 3-0 untuk Persija.

Ada sebuah perkataan yang sering kali terdengar setiap kali Persija berhadapan dengan Persib, baik di liga resmi maupun turnamen pra-musim. Kira-kira begini: “Persija boleh kalah sama siapa saja, asal jangan sama Persib.” Entah, perkataan itu semacam pecutan mental untuk para pemain atau guyonan belaka. Namun yang pasti, di atas rumput Manahan, Persija tidak kalah dari tim lain dan tidak kalah juga dari Persib. Lebih-lebih lagi, itu adalah pertandingan final. Persija juara. Di titik ini, prestasi yang berbicara.

Di atas rumput Manahan, ada torehan sejarah yang tercatat, meski hanya sebatas turnamen pra-musim. Namun, sebagaimana turnamen, bukankah itu juga merupakan hal yang prestisius?

Malam itu, di atas rumput Manahan, kendati tak ada manusia-manusia yang berbondong-bondong datang, memenuhi sudut-sudut stadion, berdiri di antara kerumunan penuh harapan, dan menyanyikan yel-yel kemenangan, pertandingan tetap layak untuk dirayakan. Dan dari atas rumput Manahan, kemenangan membuat berjuta-juta pasang mata di luar sana menjadi berpendaran. Mengubah kecemasan di luar sana menjadi sorak-sorai. Dan menyulap kegetiran di luar sana menjadi gelak tawa dan sedu sedan.

Malam itu, di atas rumput Manahan, entah bagaimana bisa penggalan lirik chant yang kerap kita nyanyikan di tribun seperti terdengar begitu jelasnya: “sudah berulang kali the Jak katakan, macan kemayoran jangan dilawan. Kini lawan pun, merasakaaaaaaan… sakit dikalahkan, macan kemayoran.”

Muchas Gracias, Persija!

Ilham Hermansyah / @glembosisme

Share post :
182 views

Leave a Reply